JUMAT, 15 JULI 2016
JAKARTA — Indonesia adalah gugusan budaya sekaligus rumah dari ribuan keunikan seni dan budaya sebagai warisan para leluhur sejak dahulu kala. Nenek moyang Bangsa Indonesia sejak awal sudah menanamkan kearifan lokal yang akhirnya menyatu serta menjelma menjadi tatanan sosial masing-masing masyarakatnya.
![]() |
| Passura’ dengan motif Pa’Manuk Londong |
Dalam ilmu komunikasi dikenal dua cara komunikasi umum antar makhluk hidup yaitu secara verbal dan non-verbal. Komunikasi verbal dilakukan dengan menggunakan suara dalam percakapan baik antar sesama manusia maupun antara hewan dengan sejenisnya. Sedangkan komunikasi non-verbal adalah dengan menggunakan beberapa bentuk media seperti isyarat atau tanda, gambar, serta simbol-simbol tertentu dengan makna khusus.
Tana Toraja atau dikenal juga dengan Tator adalah salah satu daerah di dalam jalinan gugusan nusantara yang menggunakan simbol-simbol bermakna khusus berbentuk ukiran dalam sistim olah komunikasi masyarakatnya. Maksud sistim komunikasi disini bukan sekedar komunikasi biasa antar manusia, akan tetapi simbol-simbol tersebut memberikan sumbangsih besar dalam mengatur tatanan sosial masyarakatnya.
Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sebagai wujud nyata penciptaan ruang budaya untuk perlindungan, pengembangan, dan pendidikan warisan budaya nusantara berhasil mengabadikan peninggalan seni dan budaya masyarakat Tator. Simbol-simbol bermakna khusus Tator dapat ditemui sekaligus didokumentasikan masyarakat seluruh Indonesia didalam rumah adat Toraja bernama Tongkonan di sisi kiri anjungan Sulawesi selatan TMII.
Seni ukir atau disebut juga ragam hias tradisional Tator sudah ada sejak nenek moyang suku Toraja berlabuh di Tator setelah menempuh perjalanan panjang dari teluk Tonkin vietnam utara pada abad ke-17 untuk mencari daratan baru. Nenek moyang suku Tator memilih menempati daerah-daerah dataran tinggi atau pegunungan yang jauh dari jangkauan manusia pada saat itu. Terisolasi dari dunia luar dibalik bukit serta gunung berlembah curam membuat masyarakat Tator tumbuh menjadi ekosistim masyarakat yang sangat bergantung pada filosofi ‘Tallu Lolona’ atau Harmonisasi Kehidupan. Maksudnya adalah bagaimana manusia harus bisa menjaga keseimbangan dengan semua yang ada disekitarnya baik itu sesama manusia, hewan, tumbuhan, maupun benda-benda tak bergerak lainnya. Karena jika salah satu merusak yang lain maka semua akan menerima akibat negatif. Sebagai contoh, jika merusak tumbuhan hutan maka seluruh masyarakat Tator tidak akan lagi bisa mencari makan maupun obat-obatan di hutan. Filosofi inilah yang akhirnya mengawali atau menjadi dasar pemikiran lahirnya seni ukir maupun ragam hias tradisional Tator.
Ragam hias tradisional itu sendiri adalah sumber informasi budaya, karena dapat digunakan untuk mengetahui latar belakang sejarah budaya, seni, dan tingkatan alam kognitif pemakainya. Ragam hias tradisional dapat berupa tulisan, ukiran, pahatan baik di dinding, kayu, batu, marmer, dan media-media ragam hias lainnya. Disamping itu, seni ragam hias turut mengungkapkan nilai-nilai yang dianut dan dipelihara serta berlaku dalam tatanan kehidupan masyarakatnya.
Seni ukir Tana Toraja (Tator) disebut juga dengan Passura’ , yang merupakan simbol-simbol bermakna tertentu sebagai perwujudan dari nilai-nilai kepercayaan masyarakatnya, atau disebut Todolo (bagian dari Agama Hindu Dharma). Seiring perjalanan waktu, banyak masyarakat Toraja yang akhirnya memeluk Agama diantaranya Kristen, Islam, dan ada pula yang tetap mempertahankan kepercayaan Animisme. Akan tetapi, walau terjadi perubahan mengikuti dari sisi religi serta peralihan ke jaman modern seperti sekarang, namun Passura’ tetap terjaga kemurnian, keaslian, serta perannya sebagai acuan hubungan sosial kemasyarakatan di Tana Toraja hingga hari ini.
” Masyarakat Toraja tidak akan pernah kehilangan ciri khas budayanya karena apapun keadaan yang berlaku, bagaimanapun cara yang dilakukan, tradisi serta nilai-nilai adat tetap terjaga dalam tatanan kehidupan masyarakat Tator, salah satunya adalah Passura’ ,” demikian terang Megawati Tasiksilomba Arruanlinggi,S.S, pemandu wisata budaya Rumah Tongkonan Toraja di Anjungan Sulawesi selatan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) kepada Cendana News.
Berbicara tentang Passura’ berkaitan erat dengan Tongkonan, atau rumah adat Toraja. Passura’ adalah simbol kearifan, status, dan keberadaan dari pemilik (toma`rapu) Tongkonan. Umumnya Passura’ mengadaptasi bentuk benda-benda disekeliling kehidupan manusia, yaitu benda-benda langit, flora dan fauna (darat maupun laut), serta benda-benda lainnya untuk dijadikan sebuah simbol dengan makna-makna pribadi maupun sosial.
![]() |
| Passura’ dengan motif Pa’Tedong |
Ada seratus tiga puluh Passura’ , dan semuanya merupakan pengembangan dari empat ukiran dasar atau disebut garonto’passura’, yakni Pa’Tedong, Pa’Barre Allo, Pa’Manuk Londong, dan Pa’Sussu’ . Berikut uraian bentuk sekaligus makna-makna khusus yang terkandung didalam garonto’passura’ :
1. Pa’Tedong (kerbau) memiliki makna kesejahteraan dan kekayaan bagi masyarakat strata bangsawan Tator. Ukiran berbentuk hewan kerbau ini biasa diukir pada papan besar di ujung atas Tongkonan dan dinding-dinding penyanggahnya. Bagi masyarakat Tator, kerbau merupakan hewan dengan nilai serta status paling tinggi diatas ayam, ular, babi, dan anjing. Oleh karena itu, kerbau dijadikan simbol standar atau ukuran nilai dari semua harta atau aset kekayaan seseorang. Secara garis besar, Pa’Tedong dapat dikatakan juga sebagai simbol yang melambangkan tulang punggung kehidupan dan kemakmuran.
2. Pa’Barre Allo (matahari bulat terbit/bersinar) memiliki makna sebuah keyakinan natural religi bahwa sumber kehidupan serta segala sesuatu di dunia ini berasal dari Puang Matua (Tuhan Yang Maha Esa). Disamping itu, Pa’Barre Allo menandakan bahwa pemilik Tongkonan mempunyai kedudukan tinggi dan mulia. Ukiran menyerupai bulatan matahari dengan pancaran sinarnya di pagi hari ini biasa diukir pada papan ujung atas di bagian muka dan belakang Tongkonan.
3. Pa’Manuk Londong (ayam jantan) memiliki makna sosiologis dan spiritual yang sangat kuat akan seorang pemimpin. Pa’Manuk Londong itu sendiri terbagi menjadi empat makna khusus, yaitu :
a. Melambangkan pemimpin yang arif bijaksana serta mampu menyatukan pendapat dari semua unsur dan golongan didalam masyarakat (manarang pakorok londong pande metinti saungan).
b. Dapat dipercaya karena pintar, pemahaman dan intuisinya tepat, serta selalu mengatakan apa yang benar sebagai sebuah kebenaran dan apa yang salah itu sebagai suatu kesalahan (manarang ussuka’ bongi ungkararoi malilin).
c. Adanya penegakan hukum secara jelas, dalam arti dapat dan mampu menyelesaikan persoalan dengan jujur, adil, dan bijaksana (buri’ ma’belo tadi, untanda katonganan unterak sanda salunna).
d. Melambangkan keberanian dan mampu berbuat segala sesuatu dengan baik dan benar (londongna muane).
4. Pa’Sussu’ (garis/goresan) melambangkan bahwa Tongkonan dihuni oleh orang yang sangat berperan dalam menentukan kebijakan dasar (dasar kehidupan bermasyarakat) dalam wilayah adat tertentu di Tana Toraja. Secara garis besar, Pa’Sussu’ dapat dimaknai sebagai lambang kesatuan masyarakat yang demokratis. Ukiran berbentuk garis-garis lurus sejajar tanpa variasi serta warna ini memang terkesan sederhana, namun memiliki arti serta makna yang sangat dalam bagi peri kehidupan sosial masyarakat Tator itu sendiri.
Daya tarik lain dari Passura’ dan keseluruhan Tongkonan selain kandungan makna yang dimiliki adalah ragam hias ukiran Tana Toraja (Tator) tersebut menggunakan empat warna dasar utama, yaitu merah, putih, hitam, dan kuning, dengan tambahan warna emas untuk ukiran tertentu yang tematik.
Zat warna yang dipergunakanpun bukan dari bahan kimia, melainkan dari bahan-bahan alami yang berasal dari alam sekitar. Warna merah diambil dari tanah liat/tanah merah, warna putih diambil dari kulit siput sawah, warna hitam diambil dari arang dapur, dan warna kuning diambil dari kunyit. Sedangkan khusus untuk warna emas diambil dari emas murni yang dilumerkan lalu ditempel/dipoles langsung diatas media berupa kain atau kayu.
Sebelum proses pewarnaan, bahan-bahan diatas (kecuali bahan emas murni) harus melalui proses pengolahan secara alami yang kurang lebih sama, yakni dikeringkan terlebih dahulu, dihaluskan, lalu dicampur dengan getah pisang serta sedikit arak/tuak tradisional Tana Toraja sebagai bahan perekat alami agar menempel erat diatas kayu sebagai media ukirnya.
” Cara pewarnaan tradisional Tana Toraja sudah terbukti awet hasilnya, contohnya Tongkonan di Anjungan Sulawesi selatan TMII selama kurun waktu 41 tahun (1975-2016) baru mengalami pewarnaan ulang sebanyak dua kali, ” lanjut Megawati.
Jika dicermati, motif dan corak Passura’ tidak pernah mengalami perubahan maupun degradasi terkait bentuk, cara pembuatan, serta pewarnaannya sejak awal ditemukan oleh nenek moyang suku Toraja. Hal yang sama turut berlaku pada permainan warna, mulai dari empat warna dasar hingga warna yang dihasilkan dari bahan emas murni. Oleh karena itu, makna-makna kearifan lokal Tana Toraja yang melekat pada Passura’ tetap ada bahkan seolah semakin menyatu dengan pesan-pesan spiritual didalamnya.
Meskipun pengaruh ukiran dari Tanah Jawa dan Bali telah merambah ke semua pelosok nusantara (termasuk Tana Toraja) bahkan hingga menyentuh ke mancanegara, namun tidak mempengaruhi ukiran lokal pada rumah adat Toraja (Tongkonan) khususnya Passura’ .
Proses pewarisan budaya yang telah berlangsung sejak berabad-abad lamanya di Tana Toraja serta mengakar pada keluhuran budaya sejak jaman nenek moyang suku Toraja juga turut menjadi salah satu penyebab lestarinya Passura’. Dan hal ini semakin menempatkan posisi Passura’ sebagai kearifan lokal yang mampu menjadi filter masyarakat Tana Toraja dalam mengarungi setiap proses transisi maupun perkembangan jaman.
Selain itu, Passura’ serta Tana Toraja sendiri secara keseluruhan konstan mampu menebar pesona daya tarik tersendiri bagi Wisatawan Mancanegara (Wisman) maupun Wisatawan nusantara (Wisnus), terutama dalam mendukung program pariwisata pemerintah Republik Indonesia yaitu Wonderful Indonesia (internasional) dan Pesona Indonesia (dalam negeri) saat ini.(Miechell Koagouw)
