Tiga Orangutan Pulang ke Habitatnya

JUMAT, 1 JULI 2016

MELAWI — International Animal Rescue Indonesia /Yayasan IAR Indonesia (YIARI) bersama Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam Seksi Konservasi Kalimantan Barat (BKSDA Kalbar) dan Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) untuk pertama kalinya melakukan pelepasan dua orangutan rehabilitasi di Resort Mentatai, Dusun Juoi, Kecamatan Menukung yang termasuk dalam kawasan TNBBBR, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat.

Dua individu orangutan rehabilitasi ini bernama Butan dan Marsela. Selain Butan dan Marsela, YIARI juga melepaskan satu individu orangutan liar bernama Sabtu. Sabtu adalah orangutan liar berusia sekitar 25 tahun yang diselamatkan dari perkebunan warga di Sungai Awan Kiri, Delta Pawan, Ketapang bulan Maret lalu. Orangutan jantan dewasa dengan cheekpad ini terusir dari habitatnya dan masuk ke kebun warga karena hutan tempat tinggalnya sudah habis terbakar.

Sabtu menjalani perawatan di Pusat Penyelamatan dan Konservasi YIARI di Ketapang untuk memulihkan kondisinya agar siap kembali ke alam bebas. Berbeda dengan Sabtu, Butan dan Marsela adalah orangutan yang diselamatkan YIARI ketika masih berusia  sekitar 2-3 tahun. Ketika diselamatkan mereka tidak bisa langsung ditranslokasi karena mereka tidak mempunyai kemampuan bertahan hidup yang seharusnya diajarkan oleh induknya. Butan dan Marsela sama-sama diselamatkan dari perkebunan sawit yang menghancurkan habitatnya.

“Di habitatnya, bayi orangutan hidup bersama induknya dari lahir sampai berusia 7-8 tahun. Ketika bayi orangutan ditemukan sendirian, hampir bisa dipastikan induknya sudah mati,”kata Manager Program YIARI, Gail Campbell-Smith, dalam siaran pers yang diterima di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (1/7/2016)

Tim pelepasanan bersama dengan orangutan berangkat dari Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orangutan Yayasan IAR Indonesia (International Animal Rescue) di Ketapang  dengan seremonial yang dihadiri oleh Kepala BKSDA SKW I, Ruswanto.

Setelah menempuh perjalanan selama darat selama 40 jam, perjalanan dilanjutkan dengan perahu menyusuri sungai selama 1 jam dan dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 4 jam dengan melibatkan 12 porter.

Ketika dilepaskan, langsung keluar dari kandang transport dan langsung memanjat tinggi. Butan dan Marsela dilepaskan sehari kemudian setelah diistirahatkan di kandang habituasi selama semalam. Ketika dilepaskan, Butan dan Marsela langsung memanjat pohon tinggi, menjelajahi area sekitar titik pelepasan dan mencari makan.

“Sejak awal rehabilitasi, Butan dan Marsela mempunyai perilaku alami yang bagus. Mereka sudah bisa memanjat tinggi, dan mencari makan sendiri. “Bahkan mereka tinggal di hutan, selalu membuat sarang dan tidak pernah pulang ke kandang,”kata Direktur Program YIARI, Karmele Llano Sanchez.

Karena kondisi dan perilaku alaminya semakin bagus, YIARI mulai mengambil data perilaku mereka dan memasukkan mereka ke dalam kandidat rilis. “Proses rehabilitasi orangutan sangat panjang dan setelah pelepasan orangutan tersebut masih akan diikuti oleh tim monitoring di hutan dengan mengunakan alat radiotracking selama sampai 1 atau 2 tahun,” kata Karmele Llano Sanchez.

Kegiatan monitoring ini melibatkan beberapa  warga di  dusun-dusun sekitar titik pelepasan. Sebelumnya mereka telah mendapatkan peningkatan kapasitas melalui pelatihan monitoring dan observasi perilaku orangutan oleh YIARI.

[Aceng Mukaram]
Lihat juga...