JUMAT, 22 JULI 2016
YOGYAKARTA — Musim kemarau basah akan menyebabkan tingkat kelembaban sangat tinggi, sehingga mudah menumbuhkan gulma dan jamur yang bisa menyerang tanaman komoditi pertanian, terutama palawija. Namun, tidak semua jenis tanaman palawija akan disulitkan oleh adanya kemarau basah ini. Beberapa komoditi palawija bahkan akan diuntungkan dengan adanya hujan yang masih akan turun di musim kemarau tahun ini.
![]() |
| Anjal Anie Asmara, Pakar Agrohidrologi |
Pakar Agrohidrologi Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Ir. Anjal Anie Asmara, M.Si., ditemui di ruang kerjanya, Jumat (22/7/2016), mengatakan, kemarau basah yang terjadi kali ini memang akan sedikit merepotkan para petani untuk menentukan komoditi pertanian yang akan ditanamnya. Karenanya, petani harus mengetahui benar karakter dan sifat tanaman, juga kondisi alam di sekitarnya. Pasalnya, tidak semua tanaman palawija akan dirugikan dengan adanya musim kemarau basah ini.
Diungkapkan Anjal, di daerah yang cukup sumber air, menamam padi akan lebih menguntungkan karena di musim kemarau basah ini masih akan terbantu dengan adanya hujan. Apalagi, dengan adanya sistem tanam padi yang hemat air dengan pola tanam jajar legowo. Namun, jika petani merasa ragu dengan ketersediaan air di daerahnya, Anjal menyarankan agar tetap menanam palawija, namun tetap dengan memperhatikan karakter tanaman palawijanya.
Bagi para petani ketela, kata Anjal, di musim kemarau basah ini justru akan diuntungkan. Pasalnya dengan adanya hujan yang sesekali turun akan menyirami pohon ketela dan membuat proses pemupukan bisa dilakukan. Namun untuk komoditi lombok atau cabe, Anjal mengingatkan, agar para petani cabe lebih berhati-hati. Kendati tanaman cabe membutuhkan air, namun cabe tidak bisa tahan dengan asupan air yang tinggi dan tak kuat menghadapi curah hujan tinggi.
“Dengan masih adanya hujan di musim kemarau basah, akan menimbulkan tingkat kelembaban tinggi, yang memudahkan gulma dan jamur tumbuh subur dan menyerang tanaman cabe. Selain itu, curah hujan juga bisa merontokkan bunga sehingga cabe tak bisa berbuah”, jelas Anjal, sembari mengimbuhkan kondisi serupa juga bisa dialami oleh jenis tanaman lain seperti tembakau.
Namun demikian, tingginya tingkat kelembaban yang mungkin bisa terjadi di musim kemarau basah ini, menurut Anjal bisa disiasati dengan berbagai langkah kreatif. Misalnya dalam hal menanam, cabe, tingkat kelembaban bisa dikurangi dengan membuat jarak tanam yang longgar. Selain bisa mengurangi tingkat kelembaban, jarak tanam yang longgar juga lebih memberi ruang bagi petani untuk membersihkan gulma dan tanaman pengganggu lainnya, tanpa sering menyenggol tanaman cabe yang bisa merontokkan bunga.
Lebih jauh, Anjal juga mengingatkan jika saat ini tanaman cabe sedang sering mengalami serangan hama bule amerika. Hama tersebut, kata Anjal, disebabkan oleh virus gemini yang membuat daun menguning dan kemudian layu. Virus ini menyebar cepat oleh adanya serangga apis yang hinggap di daun yang terkena virus dan kemudian hinggap di daun lainnya. Untuk itu, kata Anjal, jika daun terlihat kuning harus segera dicabut.
Sementara berkait gangguan spesifik di musim kemarau basah ini, Anjal mengatakan, jika pada intinya, akan terjadi kelembaban tinggi yang membuat jamur dan mikroba-mikroba pengganggu mudah tumbuh dan harus diwaspadai oleh para petani. (koko)