JUMAT, 15 JULI 2016
JAKARTA — Selain merilis perkembangan Nilai Ekspor Indonesia pada bulan Juni 2016, Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat juga merilis perkembangan Nilai Impor Indonesia sepanjang bulan Juni 2016 yang tercatat sebesar 12,02 miliar United States Dolar (USD) atau mengalami kenaikan sebesar 7,86 % jika dibandingkan dengan bulan Mei 2016.
Sementara itu, nilai total impor Indonesia antara bulan Januari hingga bulan Juni 2016 tercatat sebesar 65,92 miliar USD atau mengalami penurunan sebesar 10,86 % jika dibandingkan dengan periode yang sama antara bulan Januari hingga bulan Juni 2015 secara Year on Year (YoY).
Sedangkan total impor non migas Indonesia antara periode bulan Januari hingga bulan Juni 2016 tercatat sebesar 57,30 miliar USD atau mengalami penurunan sebesar 5,83 % dibandingkan dengan periode yang sama antara bulan Januari hingga bulan Juni 2015 tahun lalu.
Kepala BPS Pusat Drs. Suryamin mengatakan “perkembangan nilai impor Indonesia pada bulan Juni 2016 tercatat mengalami kenaikan sebesar 12,02 miliar USD, atau mengalami kenaikan sebesar 7,86 % jika dibandingkan dengan bulan Mei 2016, sedangkan apabila dibandingkan dengan periode yang sama antara bulan Januari hingga bulan Juni 2015, total nilai impor Indonesia tercatat sebesar sebesar 65,92 % atau mengalami penurunan sebesar 10,86 % secara Year on Year (YoY)” katanya dalam jumpa pers di Kantor Pusat BPS, Jumat (15/7/2016).
“Sedangkan perkembangan total nilai Impor non migas Indonesia antara bulan Januari hingga bulan Juni 2016 tercatat sebesar 57,30 miliar USD atau mengalami penurunan sebesar 5,83 % jika dibandingkan dengan periode yang sama antara bulan Januari hingga bulan Juni 2015 secara Year on Year (YoY), sementara itu sharing terbesar adalah mesin dan peralatan mekanik tercatat sebesar 10,32 miliar USD, kemudian mesin dan peralatan listrik tercatat sebesar 7,36 %” demikian dikatakan Drs. Suryamin, Kepala BPS Pusat, Jumat (15/7/2016).
Sedangkan negara terbesar yang menjadi negara penyuplai asal barang impor yang masuk ke Indonesia menurut data dari BPS Pusat, yang pertama adalah Tiongkok tercatat sebesar 14,97 miliar USD atau 26,10 %, kedua adalah Jepang tercatat sebesar 6,27 miliar USD atau 10,93 % dan terakhir adalah Thailand tercatat sebesar 4,51 miliar USD atau 7,88 %.(Eko Sulestyono)