Minim Pemasaran, Kain Tenun Kelompok Suka Maju Solor Jarang Terjual

MINGGU, 24 JULI 2016

LARANTUKA — Bagi warga pulau Flores dan NTT, kain tenun ikat merupakan barang berharga dan sering menjadi ciri khas sebuah wilayah. Hal ini terjadi sebab motif tenun di setiap daerah berbeda.

Anggota kelompok tenun ikat Suka Maju desa Pamakayo,Solor Barat.

Kelompok Suka Maju di desa Pamakayo menjadi salah satu dari sedikit kelompk tenun yang ada di Flores Timur dan masih bertahan. Setiap hari, 6 perempuan anggota kelompok ini tetap melakukan aktifitas menenun.

Saat ditemui Cendana News, Kamis (21/7/2016) anggota kelompok ini masing-masing melakukan aktifitas menenun. Ada yang bertugas menggulung benang, mencelup, mengikat motif ,mengikat benang di alat tenun dan ada yang sedang menenun.
“Kami tetap menenun meski banyak stok kain tenun karena belum terjual,” ujar Maria Magdalena Lewar ketua kelompok Suka Maju.
Dikatakannya, kelompok ini terbentuk tahun 2012 beranggotakan 12 perempuan yang sudah berumah tangga dan menentap di desa Pamakayo. Seiring perjalanan waktu, jumlah anggota in pun berkurang dan kini tersisa 6 orang yang masih aktif.

Monika Tukan anggota kelompok tenun ikat Suka Maju  sedang menggulung benang.

“Banyak yang tidak tahan karena lama baru mendapatkan uang sementara bila mereka menjual ikan atau sayur dan hasil kebun uangnya bisa langsung didapat,” terangnya.

Maria yang rumahnya dijadikan sebagai markas kelompok ini menambahkan, jika sarung tenun yang dihasilkan laku terjual, uangnya akan dibagi rata ke setiap anggota kelompok.
Untuk menghasilkan selembar sarung kain tenun jelasnya, butuh proses selama 2 sampai 3 minggu. Kain tenun yang dihasilkan, selain di jual ke warga saat ada hari pasar, juga sering dipesan oleh dinas Perindustrian dan Perdagangan kabupaten Flores Timur untuk diberikan kepada para tamu dari luar daerah.
Selembar kain tenun panjang sarung berukuran panjang 150 sampai 170 sentimeter dan lebar 80 sampai 85 sentimeter dijual seharga 700 ribu rupiah. Sementara untuk kain tenun yang mempergunakan kapas dan pewarna alami harganya berkisar antara 3 sampai 3,5 juta rupiah. Sementara selendang dijual seharga 200 ribu rupiah selembarnya.
Pasar Desa
Monika Tukan anggota kelompok lainnya yang ditemui sedang menggulung benang menyebutkan, buah karya kelompok ini hanya dijual di kampung saja, di pasar-pasar desa saat hari pasar seminggu sekali atau dipesan orang.

Kain tenun hasil produksi kelompok Suka Maju 

“Kami kan kelompok binaan dari Perindag Flotim sehingga kadang mereka juga pesan dan kami kirim,” tutur Monika.

Jika tidak ada yang beli, sarung hanya disimpan di rumah saja. Pemesanan paling banyak dilakukan oleh SMP di Pamakayo guna dijahit menjadi seragam sekolah para siswanya. Sementara kain tenun dari kapas biasanya dibeli oleh turis mancanegara.
Bila kain tenun terjual sebut Monika, uangnya disisihkan untuk membeli benang dan pewarna. Namun bila bahan-bahan tersebut habis terpakai dan kain tenun belum terjual, kelompok ini akan mempergunakan uang pinjaman dari desa atau anggota kelompok dahulu.
Maria menambahkan, saat pertama kelompok terbentuk, dinas Perindag Flotim membekali kelompok dengan alat tenun, benang, pewarna dan perlengkapan tenun lainnya. Maria mengakui, mereka terpacu membentuk kelompok tenun karena melihat kegiatan menenun sudah hampir tidak ada di masyarakat di pulau Solor yang terkenal dengan kegersangannya.Motif tenunan kelompok ini beragama, ada motif ketupat, jajaran genjang, bintang, hati dan lainnya
.
Maria menjelaskan bahwa, setiap suku di kampung, mempunyai keahlian membuat motif masing-masing. Mereka juga tidak dibekali oleh orang tua mengenai nama motif dan maknanya apa sehingga pihaknya kesulitan untuk menjelaskan
Setiap anggota kelompok memiliki spesialis masing-masing dimana Monika Tukan spesialis menggulung benang, ikat motif serta menyusun benang di alat tenun, Paulina Hayon menggulung benang, ikat motif dan mencelup benang atau mewarnai.
Selain itu, Felisita perempuan asal Sumba juga mengikat motif sedangkan menenun hanya bisa dilakukan oleh Theresia Lewar, Betahona dan Maria Magdalena Lewar. Setelah diikat dan siap tenun, proses menenunnya bisa 3 hari selesai untuk yang sudah mahir sementara bagi yang belum mahir bisa seminggu.
Maria dan anggota kelompok lainnya meminta agar Dinas Perindag Flotim atau siapapun yang peduli bisa mendukung kelompok ini dengan modal, pendampingan, pelatihan dan pemasaran. Mereka mengakui sulit memasarkan kain tenun sebab lebih fokus memproduksi dan memanfaatkan waktu luang di sela kegiatan menenun guna menjual hasil karya mereka.
Nama Suka Maju jelas Maria, dipilih sebagai nama kelompok karena mereka berawal dari ketidaktahuan dan ingin belajar sehingga bisa mencapai keberhasilan. Dirinya melihat anak-anak muda sudah jarang yang bisa tenun dan masa bodoh sehingga kain tenun semakin jarang dipakai dan harganya pun semakin mahal.
“Kalau tidak ada yang berani mengambil langkah untuk mulai menenun lagi, lama kelamaan budaya warisan leluhur kami ini akan hilang sehingga kami berinisiatif melakukannya,” pungkasnya.(Ebed de Rosary)
Lihat juga...