SABTU, 30 JULI 2016
BANDUNG — Bisnis fashion di Kota Bandung kian bergeliat seiring menjamurnya distribution store alias distro yang digerakan anak muda pada tahun 2000-an awal. Setiap distro memiliki konsep masing-masing soal barang yang dijualnya.

Ada satu distro dimana produknya terinspirasi dari pakaian yang digunakan dalam kesaharian masyarakat Jawa Barat zaman dahulu.
Adalah Galura 99 salah satu distro yang mengusung tema pakaian ala Sunda. Distro unik ini berada di kawasan Jalan Laswi no 38, Kota Bandung. Berbagai pakaian dan aksesoris khas Sunda bisa ditemukan di distro ini, dari mulai pakaian, tas, ikat kepala, hingga senjata kujang.
Indra Hermawan (36), Pemilik Galura 99 mengaku mempunyai ide mendirikan distro ini lantaran kesulitan mencari tempat aksesoris ala Sunda yang berkualitas di Kota Bandung.
“Saya mulai usaha ini 11 Oktober 2014. Awalnya karena susah mencari iket dan raksukan (pakaian) lainnya di sini. Paling saat itu adanya hanya di Bogor dan Cianjur,” ujar Indra, Sabtu (30/7/2016).
Ia tak menampik, setiap konsep distro biasanya identik dengan anak muda, karena memang konsumennya pun cenderung didominasi anak muda. Namun baginya, dengan mengusung tema Sunda justru pasarnya semakin luas.
Dikatakan, dari mulai anak SMP hingga orang tua pun ada yang datang ke tempat usahanya. Dan tak melulu pembelinya dari Tanah Pasundan saja.
“Semuanya juga punya pasar masing-masing, kalau rezeki tidak akan ketukar sudah ada yang ngatur,” katanya.
Ia memulai usaha dengan modal Rp 50 juta, kini keuntungannya sudah berlipat-lipat. Bahkan per hari bisa mendapat keuntungan bersih Rp. 2 hingga 4 juta. Mengingat untuk mengembangkan usahanya saat ini Indra berkejasama pula dengan perusahaan travel.
“Jadi kalau ada wisatawan yang datang dibawa ke sini buat cari-cari barang khas asli Jawa Barat. Dari awalnya cuma ngontrak, sekarang bisa punya tempat sendiri,” imbuhnya.
Selain menjual di tempat, Indra juga mempromosikan lewat cara online. Cara tersebut cukup ampuh guna mendapatkan konsumen dari luar Kota Bandung. Rata-rata produknya ia katakan diproduksi dengan jumlah terbatas. Bahkan ada yang memang hanya dibuat satu item saja.
“Produk saya juga sudah ke Malaysia di Serawak dan Kuala Lumpur, bahkan ada juga yang beli dari Belanda sama ke Jerman,” paparnya.
Untuk harga produknya memang bervariatif, dari mulai Rp. 10 ribu untuk aksesoris hingga di atas Rp. 2 juta untuk kujang.
[Rianto Nudiansyah]