BANDUNG — Tim Bandung Masagi merasa perlu berinisiatif mensosialisasikan model Bandung Masagi, untuk diterapkan pada Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Kota Kembang. Diketahui, berdasarkan Permendikbud No. 18 Tahun 2016, pelaksanaan PLS kini mutlak menjadi hak guru.
Sebanyak 734 peserta, terdiri dari Kepala Sekolah, Penilik, Pengawas dan Guru setara Paud, TK, SD, SMP, SMA maupun SMK, mengikuti penyuluhan dan pelatihan di SMAN 8 Kota Bandung, Jalan Solontongan, Buah Batu, Kota Bandung, Kamis (14/7/2016).
Sekretaris Tim Bandung Masagi Dante Rigmalia, menyampaikan ada empat komponen pada Pendidikan Bandung Masagi ini. Yaitu meliputi religi, budaya Sunda, cinta lingkungan dan bela negara.
“Melalui empat komponen ini kita mengharapkan ada pengembangan terhadap karakter siswa, menjadi lebih disiplin, empati dan simpati, peka, peduli, juga bertanggung jawab,” ujar Dante disela-sela acara.
Demikian, di setiap sekolah tak lagi ditemui bentuk pelanggaran yang dilakukan oleh siswa. Misalnya saja intimidasi senior kepada junior juga pelecehan, baik dalam bentuk verbal maupun non verbal.
“Inti yang ingin kami sampaikan, diharapakan tidak ada lagi tindakan kekerasan dan tindakan yang sifatnya pelecehan, sehingga itu yang kami tekankan,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah SD Negeri Dr Cipto, Kota Bandung, Ineu Rohaeni menyakini, model Pendidikan Bandung Masagi bisa menjadi formulasi agar perilaku anak didik bisa terkendali.
Menurutnya, akan lebih tepat sasaran jika diterapkan mulai dari sekolah tingkat paling dasar. Demikian, kelak akan terbentuk generasi yang mampu membangun bangsa.
“Sangat diperlukan model seperti ini sejak dini, diharapkan masa pada masa depan anak-anak bisa terkendali baik secara ahlak maupun pendidikannya. Sehingga terbentuk anak-anak yang mandiri dan berbudi pekerti luhur,” kata Ineu.(Rianto Nudiansyah)