JUMAT, 1 JULI 2016
JAKARTA — Pada bulan Juni 2016 secara nasional terjadi inflasi tercacat sebesar 0,66 % dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat sebesar 124,29. Dari 82 kota IHK di Indonesia seluruhnya tercatat mengalami inflasi. Inflasi tertinggi tercatat terjadi di Kota Pangkal Pinang yaitu sebesar 2,14 % dengan IHK 127,07, sedangkan inflasi terendah tercatat terjadi di kota Padang yaitu sebesar 0,10 % dengan IHK 127,38.
Inflasi pada bulan Juni 2016 terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok pengeluaran, antara lain kelompok bahan makanan sebesar 1,62 %, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar sebesar 0,58 %, ketiga kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,15 %, kelompok sandang, sebesar 0,70 %, kelompok kesehatan sebesar 0,34 %, kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga sebesar 0,33 % dan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,63 %.
Tingkat inflasi berdasarkan tahun kalender (Januari-Juni) 2016 tercatat sebesar 1,06 % dengan tingkat inflasi tahun ke tahun atau Yera on Year (YoY) antara Juni 2016 terhadap Juni 2015 tercatat sebesar 3,45 %. Komponen inti pada bulan Juni 2016 juga memgalami inflasi sebesar 0,33 %, tingkat inflasi komponen inti berdasarkan tahun kalender (Januari-Juni) 2016 tercatat sebesar 1,53 %. Tingkat inflasi komponen inti dari tahun ke tahun (YoY) antara Juni 2016 terhadap Juni 2015 tercatat sebesar 3,49 %.
Berdasarkan pemantauan BPS pada 82 kota IHK selama bulan Juni 2016, perkembangan harga berbagai komoditas pada bulan Juni 2016 secara umum menunjukkan adanya kenaikan dengan inflasi tercatat sebesar 0,66 %, sementara terjadi kenaikan IHK dari 123,48 % pada bulan Mei 2016 menjadi 124,29 pada bulan Juni 2016. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari-Juni) 2016 tercatat sebesar 1,06 % dengan tingkat inflasi tahun ke tahun (YoY) bulan Juni 2016 terhadap bulan Juni 2015 sebesar 3,45 %.
Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada bulan Juni 2016 antara lain adalah tarif angkutan udara, daging ayam ras, ikan segar, telur ayam ras, gula pasir, kentang, wortel, beras, bayam, apel, tarif listrik, emas perhiasan, tarif angkutan antar kota, ayam hidup, daging sapi, jengkol, kacang panjang, kangkung, mentimun, petai, jeruk, kelapa, nasi dengan lauk, rokok kretek, rokok filter, upah tukang bukan mandor dan mobil. Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain adalah bawang merah, tomat sayur dan tomat buah.
Pada bulan Juni 2016 sebagian besar kelompok pengeluaran memberikan andil/sumbangan inflasi antara lain kelompok bahan makanan tercatat sebesar 0,34 %, kelompok makanan jadi, minuman rokok, dan tembakau tercatat sebesar 0,11 %, kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar tercatat sebesar 0,04 %, kelompok sandang tercatat sebesar 0,04 %, kelompok kesehatan tercatat sebesar 0,01 %, kelompok transportasi, komunikasi, jasa keuangan tercatat sebesar 0,12 %. Sedangkan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga tidak memberikan andil/sumbangan dalam inflasi secara nasional.
“Kelompok bahan makanan sepanjang bulan Juni 2016 tercatat sebagai penyumbang terbesar terjadinya inflasi secara nasional yaitu sebesar 1,62 % atau terjadi kenaikan indeks dari 125,19 pada bulan Mei 2016 menjadi 137,38 % pada bulan Juni 2016” demikian dikatakan Suryamin, Kepala BPS Pusat saat jumpa pers di Kantor Pusat BPS Jakarta, Jumat pagi (1/7/2016).
Suryamin mengatakan “dari 11 sub kelompok pada kompak ini, 10 sub kelompok diantaranya mengalami inflasi dan 1 sub kelompok mengalami deflasi, sub kelompok yang mengalami inflasi tertinggi yaitu sub kelompok sayur-sayuran 6,32 % sedangkan yang terendah adalah sub kelompok kacang-kacangan 0,22 %, sedangkan sub kelompok yang mengalami deflasi adalah sub kelompok bumbu-bumbuan 2,97 %” katanya kepada wartawan di kantornya.
Kelompok bahan makanan sepanjang bulan Juli 2016 memberikan andil/sumbangan inflasi sebesar 0,34 %, sedangkan komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi adalah daging ayam ras 0,07 %, ikan segar 0,06 %, telur ayam ras 0,04 %, kentang dan wortel masing-masing 0,03 %, beras ayam dan apel masing-masing 0,01 %. Sedangkan komoditas yang memberikan andil terjadinya inflasi antara lain bawang merah 0,07 %, tomat sayur dan tomat buah masing-masing 0,01 %.(Eko Sulestyono)