Hari Koperasi, Pengelola Pusat KUD DI Yogyakarta Berharap Perhatian Pemerintah

SELASA, 12 JULI 2016

YOGYAKARTA — Selasa 12 Juli 2016, Hari Koperasi Indonesia. Namun, hari besar itu tak semeriah hari-hari besar lainnya. Apalagi, saat ini bersamaan dengan momentum hari raya lebaran. Hari Koperasi seperti hanya menjadi kenangan sebagaimana Koperasi Unit Desa (KUD) yang di zaman Pak Harto begitu besar perannya bagi masyarakat di pedesaan.
Sejak dicetuskannya pada 12 Juli 1947 silam, Koperasi diharapkan menjadi saka guru perekonomian Indonesia. Karena itu, di zaman Presiden Ke-2 RI, Soeharto, koperasi dibentuk di desa-desa sebagai upaya menyejahterakan petani dan masyarakat umum di pedesaan. Maka, dibentuklah kemudian Koperasi Unit Desa (KUD), dengan tugas pokok melayani kebutuhan para petani.
Ketua Umum Pusat Koperasi Unit Desa (PUSKUD) Metaram Yogyakarta, Purwadi Saleh ditemui Selasa (12/7/2016) mengatakan, saat itu KUD memiliki peran yang sangat penting dengan melakukan pendistribusian Beras, Pupuk, Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI) dan bahkan juga membuka warung serba ada. 
Namun, kata Saleh, kini KUD dibiarkan tanpa ada perhatian dari Pemerintah. Dengan persaingan ekonomi saat ini dan kurangnya modal, KUD hanya bisa bertahan dengan fungsi dan peran yang sangat terbatas.
Lebih jauh Saleh menjelaskan, PUSKUD merupakan induk dari semua KUD yang ada di seluruh wilayah Provinsi DI Yogyakarta. Pada awal berdirinya di tahun 1973, menjadi ujung tombak bagi perkembangan ekonomi di pedesaan. Karena itu, dengan berbagai potensi dan peran strategis KUD di desa-desa pada waktu itu, Saleh berharap sekiranya Pemerintah kini kembali memberikan perhatian dan dukungan riil, sehingga bisa kembali berperan memajukan masyarakat pedesaan.
Didampingi Manager Bidang Usaha PUSKUD Metaram, Kunto Wibisono, Saleh menegaskan jika sebenarnya KUD sangat penting dan potensial dibangkitkan lagi sebagai salah satu lembaga yang mampu memberi peranan dalam mencapai swasembada beras dan penyediaan pupuk bagi petani. 
“KUD hanya butuh regenerasi sumber daya manusia dan bantuan modal, agar bisa kembali berkiprah seperti di zaman dulu”, jelas Saleh, sembari menambahkan, jika saat ini PUSKUD Metaram masih mencoba bertahan dengan membuka usaha pelayanan pe­mbayaran tagihan list­rik, Iuran BPJS, Telepon, Pajak Bumi Bangunan, pendistribusian pupuk bersubsidi, usaha air minum dan simpan pinjam dengan perputaran uang perbulan sebesar Rp. 500 Juta.

[Koko Triarko] 

Lihat juga...