LAMPUNG — Kondisi cuaca di perairan Lampung yang mengakibatkan gelombang besar berdampak bagi para nelayan pesisir pantai Timur Lampung, pantai Barat Lampung dengan rusaknya sejumlah lokasi budidaya rumput laut dan sarana tangkap ikan jenis jaring apung (set net) dan budidaya ikan menggunakan keramba jaring apung.
Kepala Desa Sumur, Jimat, mengaku menerima laporan sejumlah warganya yang mengalami kerusakan media untuk budidaya rumput laut di sekitar perairan pantai Timur Lampung Selatan menggunakan media ancak yang terbuat dari bambu dan kayu dengan pelampung terbuat botol air mineral bekas, drum serta busa.
Laporan kerusakan tersebut menurut Jimat akan didata untuk dilaporkan ke Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten setempat untuk mendapat bantuan bibit atau permodalan untuk melanjutkan usaha budidaya rumput laut yang selama ini banyak dilakukan nelayan pesisir Timur Lampung tersebut. Ia mengakui khusus di wilayahnya hanya ada beberapa ancak yang terimbas cuaca buruk namun sebagian nelayan di wilayah Kecamatan Ketapang lainnya yang membudidayakan rumput laut juga mengalami kejadian rusaknya tempat budidaya rumput laut. Kerusakan terjadi sebagian besar pada lokasi budidaya rumput laut yang berhadapan dengan laut lepas sementara sebagian nelayan pemilik budidaya rumput laut di lokasi terlindung Pulau Rimau Kecil, Pulau Keramat mengalami kerusakan lebih sedikit.
Sebagian nelayan mengakui kerusakan media budidaya rumput laut umumnya terjadi saat gelombang tinggi terjadi pada sore hingga malam hari. Sementara saat pagi hari hingga sore hari kondisi cuaca cukup normal dan menjadi kesempatan bagi nelayan melakukan pemeriksaan media untuk menanam rumput laut tersebut. Sebagian nelayan mulai mengganti tanaman rumput laut yang rusak dengan tanaman baru.
“Kami harus rajin mengganti media ancak yang tercabut dari lokasi semula dan mengganti pemberat yang terlepas saat terjangan ombak, namun beruntung beberapa nelayan memiliki lokasi budidaya rumput laut di balik pulau sehingga aman dari terjangan gelombang,”ungkap Sunardi, salah satu nelayan di Desa Sumur, Kecamatan Ketapang kepada media Cendana News, Jumat (29/7/2016).
Sunardi mengakui sebagian warga Dusun Sumur Induk, Desa Sumur sudah melakukan aktifitas budidaya rumput laut selama hampir 20 tahun. Sebagian nelayan pembudidaya rumput laut memiliki budidaya rumput laut seluas 2 hektar dan sebagian hanya memiliki 1 hektar. Meski melakukan budidaya secara perseorangan namun sebagian besar nelayan pembudidaya rumput laut membentuk kelompok budidaya rumput laut beranggotakan 10 orang perkelompok.
Selama satu kali panen untuk lahan seluas satu hektar dirinya mengaku mampu menghasilkan sebanyak 2 ton rumput laut yang selanjutnya difermentasi dan dijual sebagai bahan baku pembuatan kosmetik dan pembuatan agar-agar. Salah satu kendala yang dihadapi pembudidaya rumput laut saat musim cuaca buruk diakui oleh Sunardi berimbas pada menurunnya jumlah produksi rumput laut yang dipanen saat masa panen. Selain faktor kendala cuaca, hama penyakit seperti jenis ikan pemangsa di perairan seringkali mengakibatkan mutu dan jumlah rumput laut menurun.
“Kami tentunya mengalami kerugian namun budidaya rumput laut kuncinya harus rajin dan telaten sebab dengan kondisi cuaca yang tenang pun kami harus tetap rajin memeriksa ancak yang kami pasang memeriksa sampah yang terbawa arus dan menguatkan pemberat agar tidak bergeser,” ungkap Sunardi.
Kerugian akibat musim cuaca buruk dalam beberapa hari terakhir juga diakui oleh beberapa pemilik usaha keramba jaring apung serta pemilik jaring apung (set net) di wilayah Perairan Kalianda dan Bakauheni. Kondisi gelombang yang cukup tinggi dan arus laut mengakibatkan nelayan harus rajin memeriksa kondisi instalasi jaring apung yang dipasang agar tidak terbawa arus. Sebagian nelayan pemilik keramba jaring apung diantaranya memelihara ikan jenis kakap merah, ikan kerapu serta lobster laut. Sementara nelayan pengurus jaring apung menangkap berbagai jenis ikan diantaranya ikan kembung, tongkol, kakap, cumi-cumi serta jenis ikan lain.
“Selama ombak besar kami terpaksa menggeser keramba jaring apung yang menjadi lokasi budidaya ikan milik kami ke lokasi yang terlindung diantaranya di balik pohon-pohon bakau karena keramba bisa dipindah,”ungkap Ansori, nelayan di pantai Blebug.
Pemilik keramba jaring apung yang terganggu cuaca juga dialami oleh kelompok penangkap ikan dengan metode set net di Desa Kelawi. Beberapa nelayan terpaksa mengangkat jaring apung tersebut sekaligus membersihkan sampah-sampah yang tersangkut di jaring apung bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan tersebut. Sebanyak empat petak jaring apung jenis set net sepanjang 50 meter x 50 meter sebagian diangkat dan akan dipasang saat kondisi cuaca membaik.
Kepala Desa Kelawi, Syarifudin, mengungkapkan selama kondisi cuaca baik set net mampu menghasilkan ikan tangkapan rata rata 2 ton per dua minggu. Namun saat kondisi cuaca buruk hanya mampu memperoleh tangkapan sebanyak 100 kilogram.
“Nelayan memang harus menjaga aset dari kementerian tersebut dengan cara rajin memperhatikan kondisi cuaca diantaranya rajin membersihkan jaring dan saat kondisi cuaca buruk lebih baik mengangkat jaring tersebut agar tidak jebol,” ungkap Syarifudin.
Ia berharap kondisi cuaca yang sempat mengganggu para nelayan beraktifitas bisa kembali normal sehingga nelayan pembudidaya rumput laut, keramba jaring apung, set net serta nelayan tangkap bisa melakukan aktifitas dengan normal. Beruntung warga di sekitar perairan yang berada di balik Gunung Rajabasa tersebut selain berprofesi sebagai nelayan memiliki profesi sampingan sebagai petani dan pekebun. Warga menghentikan aktifitas melaut dan memilih ke kebun sembari menunggu kondisi cuaca membaik.(Henk Widi)