MINGGU, 26 JUNI 2016
YOGYAKARTA — Kebijakan import sapi sangat dirasa menyakitkan bagi para peternak sapi lokal. Di saat ada peluang meningkatnya penjualan sapi lokal, pemerintah justru mengimport sapi. Sementara, program pendampingan dan subsidi bagi peternak dinilai sangat minim. Sementara, kelangkaan pakan selama bertahun-tahun tidak kunjung mendapatkan solusi.

Dengan berbagai kondisi tersebut, para peternak sapi di Desa Segoroyoso, Pleret, Bantul, merasa trauma jika tragedi import sapi di tahun 2011 terulang lagi. Saat itu, import sapi besar-besaran menghantam para peternak, sehingga banyak beralih ke ternak kambing. Karenanya, di kandang kelompok ternak sapi Sido Mulyo saat ini justru lebih didominasi oleh kambing.
Ketua Kelompok Ternak Sapi Sido Mulyo, Sugiyanto, ditemui usai pertemuan kelompok di dusun setempat, Minggu (26/6/2016) mengatakan, saat ini di kelompoknya yang berjumlah 86 orang lebih, hanya memiliki sapi sebanyak 46 ekor. Sapi-sapi tersebut merupakan sisa bantuan pemerintah tahun 2009-2010. Padahal, sebelum terjadi tragedi import sapi di tahun 2011, kelompok ternaknya memiliki lebih dari 200 ekor sapi.
Dengan pengalaman itu dan import sapi yang dilakukan saat ini, Sugiyanto pun kembali mempertanyakan keberpihakan pemerintah kepada para peternak. Pasalnya, selama ini Sugiyanto merasa kepedulian pemerintah untuk membuat peternak sapi lokal lebih berdaya saing sangat minim.
“Selama 4 tahun ini, saya baru menerima kunjungan dari dinas sebanyak dua kali. Itu pun tidak ada tindak lanjut apa-apa, kecuali hanya kunjungan saja”, ujarnya.
Menurut Sugiyanto, 4 tahun menjadi pengurus kelompok, ia hanya mengalami sebanyak dua kali program pendampingan. Pertama, pemdampingan di tahun 2010 dengan pengenalan teknologi pembuatan pakan ternak dengan fermentasi. Namun, program itu tidak berjalan karena secara ekonomis keuangan kelompok belum mampu mengerjakan teknik fermentasi itu. Setelah itu, juga ada program layanan pusat kesehatan hewan (puskeswan), namun juga sangat jarang diberikan. Dengan berbagai kondisi itu, Sugiyanto mengaku getir.
“Bagaimana peternak lokal bisa keluar dari masalah, kalau pendampingan yang dilakukan tidak serius?”, kata Sugiyanto.

Saat ini, lanjut Sugiyanto, masalah paling mendesak bagi para peternak sapi di desanya adalah kelangkaan pakan. Semakin terbatasnya lahan hijau, katanya, membuat para peternak sapi harus membeli rumput untuk pakan sapi. Sementara, harga rumput 1 karung saat ini mencapai Rp. 25.000.
“Satu karung rumput itu hanya untuk satu ekor sapi!”, pungkasnya.
[Koko Triarko]