Lorit, Nasi Berbentuk Kerucut Lambang Anak Suku Demon Pagong

MINGGU, 26 JUNI 2016

LARANTUKA —  Minggu pagi (19/6/2016) sekitar pukul 07.00 WITA, kesibukan kaum perempuan di setiap rumah suku dalam komunitas adat Demon Pagong, mulai terlihat di dapur. Satu persatu bakul berisi beras dimasukan di periuk dan ditanak hingga matang. Nasi yang sudah matang ini pun diangkat dan diletakan di wadah dan siap dibentuk.
Saat berkeliling rumah–rumah suku terlihat dua tiga perempuan sibuk membentuk nasi hingga berbentuk kerucut dengan ukuran tinggi sekitar 5 sentimeter dan lebar sekitar 6 sentimeter. Ana Barek Kabelen yang ditemui Cendana News Minggu (19/6/2016) saat membuat Lorit menyebutkan, ada dua jenis Lorit yang sedang dibuatnya bersama Theresia Wale Padun di rumah suku Kabelen.
Lorit berukuran besar sebut Ana, dinamakan Tupe (Tupe’ng) sementara berukuran kecil biasanya dinamakan Mati. Untuk Tupeng beukuran besar memiliki tinggi hingga 30 sentimeter dengan lebar sekitar 20 sentimeter.
“Tupe yang besar hanya laki–laki yang boleh makan sementara Mati atau Lorit yang kecil perempuan juga bisa makan,“ ujar Ana.
Beras Merah

Tupe’ng dan Lorit saat ritual Koke Bale yang dilaksanakan setahun sekali oleh masyarakat adat Demon Pagong di rumah adat desa Lewokluok merupakan makanan wajib yang harus disiapkan.
Dijelaskan Ana, Tupe (baca Tupe’ng) dibuat dari beras yang dimasak baru dibentuk menjadi berbentuk kerucut. Nasi yang sudah masak tersebut lanjutnya diangkat dan dibentuk memakai tangan sambil dioleskan air hangat.
“Tangan harus dicelupkan ke air hangat dan langsung menempelkannya di beras untuk membentuknya sesuai ukuran yang diinginkan. Kalau tidak ada air hangat beras tersebut tidak akan lengket, “ terangnya.
Beras yang kerap dipergunakan biasanya memakai beras ladang hasil panen dari kebun sendiri. Tetapi bila menggunakan beras yang dibeli di toko. Biasanya dicampur dengan beras merah atau beras hitam biar lengket. Bila untuk acara adat, pembuatan Lorit atau Mati biasanya memakai beras dari ladang sendiri.
“Banyaknya Lorit disesuaikan dengan jumlah anak laki–laki yang ada dalam setiap keluarga, “ sambungnya.
Membagi Rejeki
Usai pembuatannya biasanya Tupen dan Lorit yang ditaruh di dalam wadah dari anyaman daun Gebang (Enau) dihantar para perempuan ke Korke dengan cara dijunjung. Sesampai di Korke, wadah tersebut dibuka tutupnya dan diletakan di bale–bale bambu di sekeliling Korke.
Saat upacara adat dimulai para tetua adat yang duduk di atas Korke akan mengambil Lorit yang ada di satu nampan dan menukarnya ke nampan lainnya.
“Ini dilakukan sebagai simbol membagi rejeki dan kebersamaan dalam komunitas suku “ terang Thedorus Tolan Lein  tokoh adat suku Lein kepada Cendana News,Minggu (19/6/2016).
Sementara itu Tupe’ng berukuran besar dibawa oleh masing–masing suku dan diletakan di atas pelataran Korke. Tupe’ng ini akan dimakan oleh para tetua adat dari setiap suku yang berada di Korke. Bila tetua adat sudah selesai makan, bisa dibagikan kepada anggota suku atau warga yang hadir untuk dicicipi.
Disaksikan Cendana News saat menyambangi rumah–rumah adat suku di sekeliling Korke, terdapat beberapa Tupe’ng berukuran besar yang disiapkan. Selain itu di tempat pemotongan daging di sebelah timur Korke, beberapa lelaki sedang memasukan daging yang dipotong ke dalam ikatan daun Gebang (Enau) yang dinamakan Kolo.
“Daging ini akan dibagikan ke semua perempuan yang hadir oleh tetua adat usai ritual di Korke untuk dibawa kembali ke rumah buat dimasak dan dimakan bersama Lorit,“ papar Theodorus.
[Ebed De Rosary]
Lihat juga...