SENIN, 13 JUNI 2016
BANDUNG — Meriam bambu masih sangat populer di berbagai daerah di Indonesia saat Ramadan. Di tanah Sunda, permainan tersebut dikenal dengan nama Lodong. Kegiatan yang dilakukan untuk membunuh waktu sambil menunggu berbuka puasa hanya dapat dilakukan di pedesaan, karena suaranya yang menggelegar tidak memungkinkan dilakukan di daerah perkotaan, terutama yang padat penduduk.

Lodong sendiri tebuat dari pohon bambu yang dilubangi untuk tempat karbit sebagai bahan bakarnya. Setelah itu sulut lubang tersebut dan siap-siap menutup telinga, sebab suaranya sangat keras menyerupai senapan.
Masyarakat di Kampung Panjebolan, Desa Gudang Kahuripan, Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat (KBB) masih menggemari permainan ini. Dari anak kecil, remaja dan orang tua ambil bagian. Ada yang hanya melihat saja dan ada pula yang penasaran ingin menyulut.
Tokoh masyarakat setempat, Agus Peang menyampaikan, permainan lodong ini memang sudah jarang dilakukan oleh masyarakat. Dia mengenang, saat masih kecil permainan ini dimainkan oleh dua kubu. Dan tak ubahnya seperti perang betulan, dimana setiap grup berjejer berhadapan dan saling bersahutan menyulut lodong.
“Kalau sekarang sih cuma satu grup saja, jadi main saja seperti biasa enggak kaya perang-perangan. Mungkin karena sudah banyak mainan moderen seperti video game jadi memang peminatnya berkurang,” ujar Agus, Senin (13/6/2016)
Kendati mengasyikan permaian lodong ini tetap harus didampingi oleh orang tua. Sebab melibatkan api dan zat kimia yaitu karbit.
Menurutnya, permaian ini memang menjadi hiburan favorit dikala bulan Ramadan. Sebab jadi lupa waktu untuk berhenti jika sudah memainkan lodong. Namun lebih asik jika dimainkan pada malam hari atau saat subuh sembari membangunkan sahur, sebab percikan apinya jadi terlihat dengan jelas
“Kalau dulu di sini pohon bambu jenis gombong masig banyak. Kan bambu jenis gombong itu katanya kuat dan bisa ngeluarin suara kencang,” pungkasnya.
[Rianto Nudiansyah]