SABTU, 11 JUNI 2016
YOGYAKARTA — Mushola kecil peninggalan Pahlawan Nasional, Kyai Haji Ahmad Dahlan, di Kampung Kauman, Ngupasan, Gondomanan, Yogyakarta, sejak awal namanya tak pernah diubah, yaitu Langgar Kidoel. Artinya, mushola yang berada di sebelah selatan. Nama ini digunakan, karena pada saat itu ada tujuh langgar atau mushola kecil yang masing-masing ditinggali oleh para kyai dan santrinya.
![]() |
| Garis Putih Arah Kiblat di Langgar Kidoel |
Langgar Kidoel Ahmad Dahlan, kini menjadi Bangunan Cagar Budaya. Letaknya berada di tengah pemukiman Kampung Kauman, di lingkungan Masjid Agung Keraton Yogyakarta. Kampung Kauman berdiri sejak berdirinya Kesultanan Yogyakarta pada tahun 1756 Masehi. Letaknya yang dekat dengan Masjid Keraton, membuat Kauman menjadi tempat tinggal para ulama. Maka, pada saat itu terdapat banyak mushola atau langgar yang menjadi tempat tinggal para kyai dan santri.
Salah seorang keturunan Kyai Haji Ahmad Dahlan, Inalis Yumroh, saat ditemui Sabtu (11/6/2016), mengatakan ada sekitar 7 langgar yang pada waktu itu ditinggali oleh para kyai. Salah satunya adalah Langgar Kidoel yang dibangun oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan. Di Langgar Kidoel itulah, KH Ahmad Dahlan melakukan syiar agamanya. Langgar Kidoel, kata Inalis, menjadi saksi adanya pembaruan di bidang keagamaan Islam. “Langgar Kidoel itu pernah dirobohkan, karena KH Ahmad Dahlan membetulkan arah kiblat yang keliru”, katanya.
![]() |
| Inalis Yumroh menunjukkan foto KH Ahmad Dahlan |
![]() |
| Komplek Langgar Kidoel |
Yumroh menuturkan, pada tahun 1898, KH Ahamd Dahlan mulai gencar mengadakan pembaruan pemahaman Islam. Salah satunya adalah membenarkan arah kiblat yang pada waktu itu masih salah. Termasuk juga Masjid Agung Keraton Yogyakarta. Waktu itu, kata Inalis, semua masjid dan langgar mengarah ke barat. Padahal, menurut KH Ahmad Dahlan, semestinya arah kiblat itu barat laut. Pemikiran KH Ahmad Dahlan itu banyak ditentang. “Namun, suatu ketika ada seseorang yang nekat membuat garis putih yang membenarkan arah kiblat di dalam langgar, sehingga mengejutkan banyak orang”, kata Inalis.
Tidak disangka, lanjut Inalis, pembetulan arah kiblat itu membuat marah penghulu atau takmir Masjid Agung Keraton Yogyakarta. Penghulu keraton bernama HM Kholil Kamaludiningrat kemudian meminta kepada KH Ahmad Dahlan untuk mengembalikan arah kiblat seperti semula. Namun, karena KH Ahmad Dahlan tidak mau melakukan, HM Kholil kemudian memerintahkan orang untuk merobohkan Langgar Kidoel.
Akibat dirobohkannya Langgar Kidoel itu, ujar Inais, KH Ahmad Dahlan marah dan hendak pergi dari Kauman. Namun, salah seorang kakaknya membujuknya agar tetap tinggal dan mendirikan lagi Langgar sesuai dengan arah kiblat semula yang keliru, namun diberi garis putih untuk menetapkan arah kiblat yang benar di belakang ruang imam langgar. KH Ahmad Dahlan pun bersedia, dan Langgar Kidoel pun dibangun lagi. “Pada pembangaun yang kedua itu, Langgar Kidoel kemudian dibuat berlantai dua. Lantai bagian bawah digunakan untuk belajar para santri, dan lantai dua merupakan langgar yang digunakan solat berjamaah”, jelas Inalis.
![]() |
| Lantai Bawah langgar Kidoel |
![]() |
| Ruang Perpus di langgar Kidoel |
Kini, Langgar Kidoel sebagai saksi sejarah pembaruan agama Islam di zaman KH Ahmad Dahlan masih dilestarikan. Kendati telah mengalami perbaikan, namun sebagai bangunan cagar budaya bentuk aslinya dipertahankan. Langgar Kidoel dengan empat tiang penyangga dari kayu, kini lebih sering dugunakan solat berjamaah oleh keturunan KH Ahmad Dahlan yang hingga kini masih tinggal di sekitar Langgar Kidoel.
Inalis yang saat ditemui didampingi petugas perpustakaan Langgar Kidoel, Tinuk Supartinem, mengatakan jika lantai bawah saat ini pun masih digunakan sebagai tempat belajar. Ruangnya difungsikan sebagai ruang perpustakaan, yang menyimpan banyak buku riwayat KH Ahhmad Dahlan. Juga album foto keluarga besar KH Ahamd Dahlan. (koko)



