MINGGU, 12 JUNI 2016
SUMENEP — Tingginya gelombang serta angin kencang yang melanda di perairan Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dalam sepekan terakhir ini membuat nelayan tidak bisa melaut. Mereka terpaksa menganggur dan untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan menjual barang-barang berharga yang dimiliki.

Kondisi cuaca yang tidak kunjung bersahabat membuat para nelayan enggan melaut, pasalnya ia tidak ingin mengambil resiko besar yang dapat membahayakan bagi keselamatan dirinya. Meskipun kondisi saat ini mereka mulai kebingungan dengan tidak adanya penghasilan yang bisa mereka dapatkan dengan cara menangkap ikan.
“Selama tidak melaut, para nelayan lebih banyak menganggur di rumah, sebab untuk bekerja lain sangat kesulitan. Ya terpaksa jual barang-barang berharga yang kita miliki untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga,” kata Mulyadi (34) salah seorang nelayan di Desa Beluk Raja, Kecamatan Ambunten, Kabupaten Sumenep, Minggu (12/6/2016).
Disebutkan, ketika aktifitas nelayan lumpuh total mereka tidak bisa mendapatkan penghasilan lain karena minimnya keterampilan.
“Ya tidak ada jalan lain, jika kondisi cuaca tak kunjung membaik, kami hanya menganggur dirumah tanpa ada aktifitas, karena untuk bertani kami tidak memiliki lahan pertanian. Makanya kalau cuaca buruk nelayan banyak yang kebingungan,” jelasnya.
Baginya, menjual barang berharga yang dimiliki selama tidak melaut merupakan hal wajar, namun yang sangat ironis ketika cuaca buruk tak kunjung membaik, maka para nelayan seringkali menumpuk hutang pada seorang demi memenuhi kebutuhan hidup bersama keluarganya.

Kehidupan seperti itu memang menjadi hal biasa, dimana pada saat musim hujan cuaca buruk seringkali melanda perairan wilayah penangkapan ikan mereka. Sehingga ia hanya pasrah menikmati hidup seadanya tanpa memiliki penghasilan yang memadai.
“Ya bagi mereka yang memiliki barang berharga masih bisa menjualnya, namun nelayan yang tidak memiliki barang berharga terpaksa memilih hidup ala kadarnya, walaupun kondisi serba kekurangan ia menerimanya tanpa rasa mengeluh, sehingga tak jarang mereka makan bersama keluarga seadanya,” pungkasnya.
[M. Fahrul]