Ini Jalur Laut yang Paling Banyak Peminatnya

JUMAT, 17 JUNI 2016

SURABAYA — Mendekati peringatan Hari Raya Idul Fitri yang ke 1437 Hijriah memang tidak bisa dipisahkan dengan budaya mudik. Melihat potensi kenaikan jumlah penumpang saat arus mudik dan arus balik, PT. Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) Persero sebagai perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memiliki strategi khusus agar para penumpang merasa aman dan nyaman saat menaiki kapal laut.

Kepala Cabang Pelni Surabaya, Presda Simangasing menjelaskan ada beberapa jalur yang menjadi favorit para penumpang dan diperkirakan terjadi puncak penumpang pada saat H-15 dan H+5.
“Jalur yang paling banyak penumpang di Surabaya-Balikpapan, Surabaya-Sampit-Kumai dan Surabaya-Makassar,” jelasnya saat ditemui di kantornya, Jumat (17/6/2016).
Menurut Presda sapaan akrab Presda Simangasing untuk rute Balikpapan-Surabaya masih terjual 20% tiket sedangkan untuk arus balik Surabaya-Balikpapan tiket sudah habis terjual. “Untuk yang rute keseluruhan dari Jawa ke Kalimantan seperti Sampit, Kumai dan Balikpapan baru terjual 60% untuk saat ini,” ujarnya.
Alumnus Fakultas Hukum ini menambahkan untuk dispensasi atau kuota penumpang pada kapal Ciremai mencapai 88,5% dengan total penumpang sebanyak 1574 orang. Sedangkan pada kapal Dobonsolo mencapai 88% dengan total penumpang 1559 orang.
“Kapal Ciremai dan Dobonsolo dipilih karena memiliki kapasitas yang paling besar dibandingkan 16 kapal lain,” cakapnya.
Selain itu, Presda juga mengumumkan bagaimana sistem penjagaan dan keamanan bagi para penumpang. Diantaranya dengan menugaskan Kesatuan Penjaga Laut dan Pantai (KPLP) dan Kesatuan Pelaksanaan Pengamanan Pelabuhan (KP3) pada tiap-tiap kapal.
“Jika kapasitas kapal 2000 penumpang maka ada 6 orang petugas keamanan dan untuk kapasitas kapal 1000 orang maka ada 4 orang petugas keamanan,” tukasnya.
Ditanyai mengenai naik turunnya penumpang, Presda mengaku trend penumpang selama satu tahun terjadi kenaikan 3-5% namun jika hanya diambil saat lebaran saja maka tidak terlalu signifikan.
“Ini karena adanya pembatasan penumpang, dimana berimbas pada trend penumpang,” pungkasnya. (Charolin Pebrianti).
Lihat juga...