Impor Daging Sapi Bikin Peternak di Bantul Meradang

MINGGU, 26 JUNI 2016

YOGYAKATA — Seiring mulai masuknya sapi import di Indonesia, sejumlah peternak sapi di Yogyakarta mulai merasa khawatir. Pasalnya, harga daging sapi import akan berdampak pada menurunnya penjualan daging sapi lokal. Lebih dari itu, kekhawatiran paling mencemaskan adalah menurunnya semangat peternak sapi yang bisa mengakibatkan semakin langkanya sapi lokal di masa mendatang.

Hal demikian disampaikan Ketua Paguyuban Peternak Sapi Desa Segoroyoso, Pleret, Bantul, Ilham Akhmadi, dalam pertemuan Kelompok Ternak Sapi Sido Mulyo di pendopo pertemuan komplek kandang sapi setempat, Minggu (26/6/2016). 

Hadir dalam pertemuan itu, Dekan Fakultas Peternakan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., yang sengaja dihadirkan guna memberi masukan terkait upaya komprehensif di bidang peternakan sapi dan swasembada daging.
Ilham mengatakan, pertemuan itu diadakan lebih disebabkan oleh kegelisahan para peternak sapi Desa Segoroyoso, yang selama ini menjadi salah satu penyuplai utama kebutuhan daging sapi di Yogyakarta. Terkait adanya sapi import, kendati saat ini belum berdampak ekonomi, namun keberadaan telah memberi dampak psikologis kepada para peternak sapi di Bantul.
Seperti diketahui, import sapi dilakukan sebagai upaya menekan harga daging sapi agar tak lebih dari Rp. 80.000 Per Kilogram sebagaimana intruksi Presiden Joko Widodo. Namun, kebijakan menekan harga tersebut, menurut Ilham bisa menimbulkan kerugian peternak hingga Rp. 4 Juta per ekor sapi. Karenanya, kebijakan import sapi sangat dinilai merugikan peternak. 
“Kami mempertanyakan, di mana keberpihakan pemerintah kepada para peternak?”, ujar Ilham.
Sebagai salah satu penyuplai utama daging sapi di Yogyakarta, Ilham mengakui jika persediaan sapi di Segoroyoso memang belum sepenuhnya bisa memenuhi permintaan. Namun, Ilham menyayangkan jika selama ini selalu import sapi menjadi solusi yang dipilih dan diprioritaskan oleh pemerintah. Sedangkan upaya berkesinambungan untuk meningkatkan produktifitas sapi lokal dengan berbagai program bantuan dan pendampingan tidak dijalankan maksimal. Selama ini, kata Ilham, program bantuan dan pendampingan bagi peternak sapi di Segoroyoso, bahkan sangat minim sekali.

Ilham juga menilai, program gertak birahi yang selama ini digalakkan pemerintah terbukti gagal dan tidak memberi solusi. Masalah yang dihadapi oleh para peternak sapi lokal itu adalah kelangkaan pakan, yang berimbas pada mahalnya harga pakan sapi hingga kelangkaan indukan sapi, yang pada gilirannya juga menyebabkan tingginya harga daging sapi. Dengan adanya kendala pakan dan kelangkaan indukan sapi, tegas Ilham, tentu saja program gertak birahi tak berdampak apa-apa. 
“Karena sapi bisa bunting itu jika kebutuhan pakan dan gizinya terjamin”, cetusnya.
Dengan berbagai kendala dan kondisi demikian, Ilham berharap agar pemerintah segera berupaya membenahi pola peternakan sapi yang selama ini masih tradisional dan transfer teknologi peternakan harus dipercepat. Juga masalah kelangkaan pakan sangat mendesak untuk diatasi.
Dengan anggota sebanyak 30 orang kata Ilham, rata-rata peternak sapi di Desa Segoroyoso memotong sebanyak 30-45 ekor sapi. Namun menjelang lebaran ini, jumlah tersebut meningkat sebanyak 200 Persen. 
Sementara terkait harga daging sapi sebesar Rp.120.000 Per Kilogram, Ilham mengatakan, jika harga itu memang sudah merupakan mekanisme pasar. Di tingkat peternak, kata Ilham, harga daging sapi sudah Rp. 45.000 Per Kilogram. Lalu ditambah harga pengolahan karkas sebesar Rp. 17.000 sehingga menjadi Rp. 62.000. 
“Harga ini masih akan ditambah dengan ongkos tenaga dan angkutan, sehingga tidak mungkin jika harga daging sapi lokal itu bisa Rp. 80.000”, jelasnya.
[Koko Triarko] 
Lihat juga...