MINGGU, 5 JUNI 2016
SUMENEP — Anjloknya harga tembakau di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dalam beberapa tahun terakhir membuat para petani harus beralih menggarap tanaman komuditas lain yang lebih menjanjikan. Pasalnya tanaman yang sering kali disebut daun emas itu tidak bisa lagi diharapkan, sehingga tak jarang petani selalu mengalami kerugian yang cukup besar.
![]() |
| Salah seorang petani sedang membajak sawah. |
Sekitar sepuluh tahun yang lalu tanaman tembakau menjadi idaman masyarakat khususnya petani di ujung timur Pulau Madura, namun tanaman musiman tersebut dari tahun ke tahun harganya semakin memprihatinkan. Sehingga petani terpaksa mencari alternatif komoditas lain yang harus digarapnya, agar di saat musim tanaman tembakau mereka juga bisa mendapatkan penghasilan yang lebih menjanjikan dari pada tanaman tembakau.
“Kalau dulu tanaman tembakau memang menjadi idola petani di daerah ini, tetapi dalam beberapa tahun terakhir harga tembakau selalu anjlok, bahkan petani sering mengalami kerugian besar. Jadi sejak itu petani kebanyakan beralih ke komoditas lain, sebab jika memaksakan menanam tembakau, maka dapat dipastikan akan merugi,” kata Hasan Buhari (39) salah seorang petani di Kecamatan Ambunten, Kabupaten Sumenep, Minggu (5/6/2016).
Disebutkan, bahwa sekitar sepuluh tahun lalu, para petani yang berada di wilayah kecamatan setempat sangat antusias ketika memasuki musim tanam tembakau, sehingga mereka mayoritas menggarap tanaman tembakau. Tetapi akibat harga yang mulai tidak berpihak kepada petani, akhirnya ke tanaman lain, seperti, cabai, kacang tanah dan jagung.
“Sekarang kalau di daerah ini petani sudah banyak yang mikir untuk menanam tembakau, karena sudah cukup petani mengalami kerugian, sehingga untuk menanam kembali sudah trauma. Apalagi daerah ini bukan pegunungan, jadi kwalitas tembakaunya dinilai kurang bagus,” jelasnya.
Sedangkan untuk menggarap tanaman tembakau membutuhkan biaya yang lumayan besar, namun ketika sudah waktunya panen harga tersebut selalu rendah, akibatnya para petani kebanyakan yang diperoleh dari hasil panen tersebut tidak sesuai dengan modal yang dikeluarkan.
“Jadi kalau saat ini tanaman tembakau sudah tidak bisa diharapkan lagi oleh petani, sebab sudah lama harga itu tidak menguntungkan. Makanya petani lebih memilih beralih ke tanaman lainnya,” pungkasnya. (M. Fahrul)