SELASA, 7 JUNI 2016
SUMENEP — Sungguh miris nasib yang dialami Astami (90) warga Dusun Aengnyeor, Desa Lobuk, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Selama belasan tahun, warga miskin yang hanya tinggal seorang diri tersebut hidup di kandang sapi, namun ironisnya nenek itu tidak pernah mendapat perhatian dari pihak terkait.

Kehidupan nenek yang hanya tinggal sebatangkara ini sungguh sangat memprihatinkan, sehingga tak jarang para tetangga maupun kerabatnya sering mendatangi untuk memberi bantuan berupa makanan atau lain-lainnya, supaya beban hidup yang ia alami lebih terasa ringan.
“Saya sudah lama tinggal di dalam kandang sapi ini, tapi saya kerasan disini meskipun tinggal bersama sapi. Karena meski dengan tempat yang cukup kecil ini merupakan tanah saya sendiri,” kata Astami (90), saat ditemui Cendana News, Selasa (7/6/2016).
Disebutkan, bahwa meski kondisi umurnya sudah tua ia tetap saja semangat menjalani hidup dengan memilihara ternak milik orang lain, sehingga hewan yang dititipkan oleh sang pemilik tersebut diharapkan bisa mendapatkan hasil untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tetapi dari hasil ternak tersebut belum bisa dinikmati setiap hari, namun masih menunggu waktu sekitar enam bulan sampai satu tahun.
“Jadi penghasilan saya cuma mengandalkan dari pelihara ternak, karena selain itu tidak ada pekerjaan lain, apalagi saya ini kan sudah tua, jadi untuk bekerja sangat susah. Sehingga jalan satu-satunya hanya pelihara sapi, itupun bukan milik sendiri, tetapi nanti ketika dijual itu akan dibagi hasil dengan pemiliknya,” jelasnya.
Kandang sapi dengan ukuran 3 meter kali 7 meter ini mejadikan tempat sang nenek menghabiskan waktu, baik siang dan malam, karena semua aktifitas yang ia lakukan tidaklah jauh dari tempat tersebut. Bahkan tidur dan makan ia tetap di dalam kandang sapi. Ia tidak perduli dengan bau kotoran sapi maupun nyamuk yang setiap saat menggigitnya, sebab tidak ada tempat lain yang lebih nyaman untuk ditempatinya, karena sudah tidak punya rumah lagi sebagai tempat tinggalnya.
Walaupun hidup dalam kondisi miskin, nenek tersebut juga pernah ditawari untuk tinggal bersama keponakannya, namun ia tidak mau, sehingga tetap memilih tinggal dikandang yang berada diatas tanah miliknya. Tetapi dengan tempat yang tidak begitu luas ia juga membuat dapur dan tempat mandi ala kadarnya.

Memang sejak dulu nenek miskin tersebut belum pernah berkeluarga, makanya tidak memiliki keturunan sama sekali, sehingga ia terpaksa hidup sebatangkara di kandang sapi miliknya tanpa ada perhatian. Padahal tak jarang ada bantuan rumah bagi warga miskin, namun sayang nenek ini selalu terlewatkan, sebab sampai sekarang ia tetap tinggal di kandang sapi.
[M. Fahrul]