Asyiknya Pesantren Kilat Bersama Siswa SLB B Pawestri Karanganyar

RABU, 15 JUNI 2016

SOLO — Berkebutuhan khusus rupaya tidak menghambat puluhan siswa dari Sekolah Luar Biasa (SLB) B Pawestri, Karanganyar, Jawa Tengah, untuk tetap menjalankan ibadah puasa selama bulan suci Ramadhan. Bahkan, di tengah menjalankan puasa, para siswa ini juga mengikuti pesantren kilat yang diselenggarakan pihak sekolah. 

Kepala Sekolah SLB B Pawestri Karanganyar, Putut Kus Darwanto, banyak bercerita kepada Cendana News, tentang kegiatan 53 siswa tuna rungu selama mengikuti pesantren kilat yang digelar selama 3 hari ini. Materi yang diajarkan pun tergolong ringan, yakni membaca iqro’, tata cara berwudhu, urutan sholat beserta bacaanya, serta adanya game-game yang menarik. 
“Intinya agar para siswa bisa belajar sekaligus memahami ajaran agama islam. Meskipun ada keterbatasan, para siswa juga bisa melaksanakan tuntunan agama sesuai dengan aqidahnya,” terang Putut. 
Menurutnya, selama 3 hari mengikuti pesantren kilat, meskipun para siswa mengikuti kegiatan dalam hal membaca agak kesulitan, namun semangatnya luar biasa. “Kalau disuruh mengucap memang kesulitan. Misal baca iqro’ atau atau bacaan sholat, mereka bisa dengan tertatih-tatih, tapi semangat untuk belajar mereka luar biasa,” tekannya. 
Disebutkan, sebanyak 53 siswa yang mengikuti pesantren kilat ini berasal dari sekitar Karanganyar, baik dari Sukoharjo, Solo, maupun Wonogiri. Hebatnya, para siswa berkebutuhan khusus ini setiap hari harus bolak-balik dari rumah ke sekolah. “Jadi mereka setiap hari antar jemput. Ini yang memang menjadi modal awal karena semangatnya tinggi,” terang pria yang mengaku sudah mengelola SLB Pawestri sejak 2005 lalu. 
Untuk membuat suasana ringan di tengah menjalankan puasa, pihak sekolah mengemas materi pesantren kilat ini dengan game-game menarik. Seperti mengurutkan tata cara wudhu sesuai dengan rukunnya. Sementara bagi siswa putri mengikuti game dengan mencocokkan huruf hijaiyah yang dibaca guru, sekaligus mencari huruf tersebut di tumpukan kertas yang telah disediakan. 
“Jadi selama tiga hari para siswa mengikuti kegiatan mulai dari membaca iqro, belajar wudhu, sholat, hafalan surat-surat pendek, zakat dan puasa itu sendiri. Para siswa ini juga kita ajak belajar dengan game, seperti mengenal huruf hijaiyah, dan menyusun gambar,” pungkasnya. (Harun Alrosid)
Lihat juga...