Tekan Kepunahan, Penghobi Burung Muray di Sleman Lakukan Penangkaran

JUMAT, 13 MEI 2016

YOGYAKARTA — Banyaknya pecinta burung kicau di Indonesia, setidaknya turut menyumbang kepunahan burung kicau di habitat aslinya. Salah satunya, burung muray batu. Prihatin dengan keadaan itu, seorang warga di Sleman, Yogyakarta, Apriyanta Redi, melakukan penangkaran burung muray.

Seumumnya para penghobi burung, pada awalnya Redi juga tak hanya sekedar memelihara burung muray batu untuk dinikmati kicauannya. Namun, juga menjualnya untuk mendapatkan untung. Saat itu, Redi banyak mendatangkan burung muray batu asli dari alam liar di Sumatera untuk dijual lagi. 
Namun, sejak 2 tahun terakhir ini, keberadaan burung muray batu di alam lepas Sumatera semakin langka. Tak ingin burung kesukaannya itu punah, Redi pun mulai mencoba menangkar dan membudi-dayakan.
Ditemui di kediamannya, Jumat (13/5/2016), Redi mengatakan, tidak ada sulitnya untuk menangkar burung muray itu. Bahkan, hampir tak ada kendala, baik penyakit atau kendala musim. Begitu pula dengan pemasaran, pasar burung muray sangat terbuka luas karena banyaknya komunitas pecinta burung muray di Indonesia.
Kendati saat ini mulai banyak burung muray asal Malasyia dan Thailand yang membanjiri pasar burung muray dalam negeri dengan harga separuh lebih murah dari harga muray batu lokal, namun menurut Redi keberadaannya tak berdampak signifikan bagi penjualan burung muray lokal. Pasalnya, burung muray batu asli Indonesia dari semua jenisnya, masih jauh lebih baik kualitasnya dibanding dari dua negara tetangga tersebut.
Redi sengaja memilih burung muray batu Sumatera untuk ditangkarkan, karena muray asal Sumatera merupakan yang terbaik dari muray lokal lain dari berbagai daerah di Indonesia. Karenanya, muray Sumatera harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Burung Muray Sumatera usia 1-3 bulan bisa laku seharga Rp 2-4 Juta perekor. 
“Ini berbeda dengan muray asal Kalimantan yang harganya berkisar antara lima ratusan ribu perekor”, ungkapnya.
Menurut Redi, salah satu kelebihan burung muray asal Sumatera adalah ketika berkicau, dada atau perutnya tidak menggelembung. Sedangkan, muray Kalimantan, dada atau perutnya menggelembung saat berkicau sehingga kurang gagah.
Tidak hanya itu, burung muray bisa bernilai mahal juga karena berasal dari indukan yang berkualitas. Ada pun ciri indukan muray yang bagus, antara lain tubuhnya yang besar, ekornya panjang, mental kuat dan volume kicau yang besar. Juga variasi kicauannya. Burung muray itu, bisa meniru kicauan burung lain. Karenanya, sejak usia belia, burung muray akan ditempatkan bersama burung lain yang memiliki kicauan bagus agar bisa menirunya. Proses itu disebut masteran. 
“Jika proses itu berhasil, kicauan muray akan sangat bervariasi dan itu membuat harganya bisa melonjak hingga puluhan juta rupiah”, katanya.
Sementara itu, proses penangkaran burung muray juga terhitung sangat mudah. Dijelaskan Redi, awalnya muray betina dilepas di kandang penangkaran. Lalu, muray jantan dalam sangkar dimasukkan ke dalam kandang penangkaran. Proses itu untuk memberikan waktu bagi keduanya untuk beradaptasi. Jika langsung dibaurkan, mereka justru akan saling bertarung.
Setelah proses adaptasi berhasil dengan ditandai oleh sang betina yang mendekati sangkar muray jantan, baru bisa dibaurkan. Tak lama kemudian, dipastikan mereka akan kawin dan menghasilkan 2 hingga 3 butir telur. Setelah masa pengeraman selama 14 hari, telur akan menetas dan di usia 7 hari dipisahkan. Ini dilakukan agar indukan bisa lebih cepat bertelur lagi.
Menurut Redi, dalam proses penangkaran itu tak ada kendala berarti. Hanya saja, kandang penangkaran perlu dibuat rapat dengan memberinya kelambu, agar nyamuk, kupu-kupu dan binatang lain yang bukan merupakan makanannya tidak masuk ke dalam kandang yang bisa menyebabkan kematian bagi muray.
Di usia 1 bulan, burung pemakan ulat itu sudah bisa dijual. Dan, burung muray Sumatera, sudah diakui kualitasnya sehingga akan selalu dicari orang. Karena itu, Redi menyarankan, jika ada yang berminat menangkar muray sebagai investasi bisnis, sebaiknya pilih muray asli Sumatera. 
Dengan harga indukan bagus antara 8 hingga 15 Juta rupiah, dalam sebulan bisa menghasilkan 2 hingga 3 anakan muray yang harganya perekor bisa mencapai Rp. 4 Juta. “Pasarnya pun masih sangat terbuka. Setiap anakan muray tidak akan tinggal lama di kandang, karena langsung akan dibeli orang dari Jawa Timur, Jawa Barat dan Bali”, pungkasnya.
[Koko Triarko] 
Lihat juga...