SABTU, 21 MEI 2016
LAMPUNG — Pemanfaatan tenda atau dikenal dengan tarup sebagai peneduh saat cuaca terik atau hujan dalam sebuah kegiatan di ruang terbuka mulai banyak digunakan di pedesaan dan banyak dimanfaatkan saat kegiatan hajat pernikahan atau keperluan lain. Sebagian besar tenda atau tarup yang digunakan warga adalah tenda sewaan yang disediakan oleh pemilik usaha jasa persewaan tenda.

Salah satu warga desa yang menekuni usaha persewaan tenda diantaranya berada di Desa Mataram Baru Kecamatan Labuhan Ratu Lampung Timur yakni Andri (53) yang mempunyai usaha sampingan secara turun temurun dari orangtua yang memiliki usaha persewaan tenda sementara dirinya sudah bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS).
Ia mengaku sudah lima tahun menekuni usaha persewaan tenda karena selain menjanjikan usaha tersebut bisa mengisi waktu luang, juga bisa mendapatkan penghasilan tambahan. Usaha sampingan persewaan tenda bukanlah satu satunya usaha yang ditekuninya sebab selain tenda ia juga sekaligus menyewakan kursi dan soundsytem untuk keperluan orang yang memiliki hajat.
Jika bulan-bulan baik bagi warga yang berniat melakukan kegiatan hajat maka dipastikan tenda dan beberapa perlengkapan lain miliknya itu jarang di rumah dan selalu berpindah dari tempat satu ke tempat lainnya. Diapun jarang dirumah karena mengawal sekaligus mengawasi para karywan yang bertugas memasang tenda sekaligus kursi dan pengeras suara yang disewa orang.
“Kadang kadang tetap saya awasi tetapi seringkali juga ada orang kepercayaan yang bertugas mengawasi pemasangan alat tenda di tempat lain terutama pada musim banyak pesanan tenda,”ungkap Andri sebelum berangkat mengantar alat alat untuk mendirikan tenda, Sabtu (21/5/2016)
Penyewaan tenda, kursi, soundsystem dan juga alat penerangan berupa diesel dan lampu lampu saat bulan-bulan ramai sebulan bisa 15 kali digunakan penyewa itu membuat Andri dan sebagian karyawannya harus siap bongkar pasang dari tempat satu ke tempat lainnya. Meski demikian ia mengaku tidak menyerah karena dari satu kali pemasangan tenda dirinya memperoleh penghasilan cukup lumayan setelah dikurangi biaya operasional ia masih bisa mengantongi keuntungan sebesar Rp 400 ribu – Rp500 ribu.
Andri mengatakan usaha yang dibangunnya lima tahun yang lalu awalnya hanya penyewaan tenda dan kursi saja, namun dalam perkembangannya konsumen menghendaki adanya tambahan sound sytem dan lampu penerangan. Oleh karena itu iapun mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk mewujudkan keinginan konsumen.
Dari tabungan uang sewa dan juga penjualan padi di sawah miliknya iapun kemudian melengkapi usaha persewaan itu dengan tambahan soundsytem dan juga lampu. Setelah semua peralatan cukup lengkap usahanya semakin maju karena pelanggan menghendaki semua beres sehingga satu kali panggil semua bisa terpenuhi.
Dengan semakin ramainya panggilan itulah maka iapun semakin memfokuskan usaha persewaan dengan cara memperbaharui barang-barang yang rusak untuk digantikan yang baru dan mengikuti perkembangan zaman. Model serta pembaharuan dilakukan terutama pada warna serta hiasan tenda yang cepat rusak dimakan usia.
“Penyusutan barang berupa kerusakan barang pasti ada misalnya kursi jika sudah lama ada yang patah kakinya. Selain itu juga tenda sebagian mengalami kebocoran. Biasanya untuk kursi diganti dengan yang baru sementara untuk tenda jika tidak parah dilakukan tekhnik menjahit“, ujar Andri.
Memulai usaha persewaan yang ditekuninya itu, Andri mengaku modal yang dikeluarkan tidak begitu besar karena saat meneruskan bisnis dari orangtuanya beberapa barang harga masih murah. Namun saat ini paling tidak modal yang dikeluarkan jika komplit bisa mencapai 50 Juta rupiah. Contohnya kursi saja jika perunit Rp 50.000,- X 200 sudah 10 juta rupiah, tenda 2 tangkep 8 X 4 m 15 juta rupiah, soundsytem, lampu dan mesin diesel 25 juta rupiah.
Ia bahkan mengingat saat awal membuka usaha modal yang dikeluarkan masih kurang dari 10 juta rupiah, setelah berjalan barulah ia menambah peralatan lain sehingga menjadi komplit seperti sekarang ini.
“Menyesuaikan perkembangan zaman saat ini buka usaha harus kompit semua, karena persaingan usaha persewaan seperti ini cukup ketat. Jika kita tidak komplit peralatannya konsumen akan memilih pemilik tenda lain oleh karena itu jika kita baru ada kursi dan tenda saja maka kita harus punya rekan bisnis usaha sondsytem dan lampu“, ungkap Andri.
Dulu ketika awal membuka usaha dia juga sering menolak order karena belum komplit peralatannya namun setelah ia mempunyai rekan bisnis usahanya semakin lancar. Seperti contoh peralatannya hanya satu kali pasang saja, namun ia berani menerima order lainnya dengan cara melemparkan order pada teman-temannya. Selain ia dapat memenuhi keinginan konsumen, iapun dapat komisi dari teman-temannya yang ia beri order. Selain itu jika hari-hari tertentu iapun dapat mendapat pesanan pekerjaan dari teman-temannya karena barang persewaan milik temannya sudah disewa orang lain.
Dari segi perhitungan bisnis Andri mengaku usaha persewaan kursi, tenda dan soundsytem masih menjanjikan, karena orang yang mempunyai hajat saat ini sebelum mendekati masa bulan suci Ramadhan semakin banyak. Kecenderungan orang untuk memilih hajatan di bulan-bulan baik masih ada, sehingga pada bulan-bulan tertentu orang punya hajat bisa menumpuk.
Akibatnya dalam satu hari orang punya hajat yang bisa mencapai puluhan orang, padahal jumlah persewaan masih terbatas, oleh karenanya pembukaan usaha ini masih cukup menguntungkan. Selain itu kita juga membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain, misalnya tenaga bongkar pasang tenda dan juga tenaga angkut yang berasal dari sekitar tempat tinggalnya. Sebagian bahkan merupakan pekerja tetap yang selalu siap bekerja kapanpun diperlukan.
“Saat ini usaha ini masih layak untuk dikerjakan, kalau ada rejeki tambahan saya masih berkeinginan untuk menambah tenda dan kursi lagi agar bisa melayani kebutuhan warga,“ungkapnya.

Ia mengakui pesanan cukup banyak hingga ia kehabisan tenda diantaranya saat masa kampanye kepala daerah dan pemilihan calon legislatif di daerah. Penggunaan tenda yang cukup praktis dimanfaatkan sebagai lokasi tempat pemungutan suara dan membuat tenda miliknya habis disewa. Ia berharap usahanya tetap akan digunakan warga yang masih memanfaatkan tenda dalam acara hajatan.
[Henk Widi]