SENIN, 23 MEI 2016
YOGYAKARTA — Peran media massa, sejak dulu telah disadari sebagai salah satu hal penting dalam upaya pemerintah desa memajukan masyarakatnya. Karena itu, jauh sebelum ada kebebasan informasi seperti saat ini, banyak koran dinding didirikan di desa-desa.

Seiring kemajuan zaman saat ini, keberadaan media massa semakin disadari sebagai hal penting sebagai sarana memajukan desa. Namun, pola konsumsi berita saat ini sangat jauh berbeda. Hal ini sebagai dampak dari kebebasan informasi melalui internet, sehingga masyarakat sekarang lebih banyak mengakses informasi melalui internet. Hal demikian tak hanya terjadi di kota-kota besar, namun juga dialami oleh warga desa seperti di Sambirejo, Prambanan, Sleman.
Sekretaris Desa Sambirejo, Mujimin, ditemui Senin (23/5/2016) mengatakan, Desa Sambirejo yang terdiri dari 8 pedukuhan dengan jumlah Kepala Keluarga 2.055 orang, kini hampir 40 Persennya mengakses informasi dan berita melalui internet. Menurutnya, hal itu dipicu oleh kemajuan teknologi saat ini yang menghadirkan alat komunikasi dan informasi berupa gadget berharga murah.
Namun demikian, kata Mujimin, kebebasan akses informasi melalui internet dirasa terlalu banyak dampak negatifnya. Misalnya, dari sebuah kontak perkenalan melalui media sosial, seringkali berujung pada aksi penipuan. Belum lagi adanya penipuan online menyangkut jual beli suatu barang.
Terhadap berbagai dampak negatif itu, Pemerintah Desa memang tidak bisa melakukan upaya pencegahan, kecuali hanya mengimbau agar bisa lebih selektif menyaring sumber informasi. Sementara sebagai upaya penyeimbang dari derasnya arus informasi dari internet, pihaknya masih mempertahankan keberadaan koran dinding.
Seperti diketahui, kata Mujimin, sejak zaman Pak Harto, ada program koran masuk desa. Saat itu, koran dinding banyak didirikan di dusun-dusun sebagai sarana informasi yang mencerdaskan. “Dengan memilih salah satu koran yang dianggap layak, koran dinding sebenarnya bisa lebih memberikan informasi berita yang relatif bisa dipantau dampak negatifnya. Ini mengingat tingkat pemahaman warga desa yang sebenarnya juga masih terbatas”, ujarnya.
Kini, di era kebebasan informasi dan kemajuan teknologinya, Mujimin mengatakan, pihaknya hanya bisa menyerahkan kepada warga terkait baik buruknya berita. “Warga harus bisa menyaring berita. Karena bagaimana pun, media massa tetap penting sebagai sumber informasi demi kemajuan desa”, pungkasnya. (Koko)