Kerajinan Ketak Desa Beleke Lombok Tengah, Diekspor Sampai Jepang

MINGGU, 22 MEI 2016

LOMBOK — Belasan perempuan Desa Beleke, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) Nusa Tenggara Barat (NTB) nampak duduk berjejer selonjoran sambil tangannya sibuk dengan tumpukan rotan yang telah diiris menjadi bagian-bagian kecil untuk kemudian disulam menjadi ribuan kerajinan ketak dalam berbagai bentuk, jenis dan ukuran sesuai pesanan.

Disela kesibukan dan kecekatan tangan terampil menyulam tumpukan rotan menjadi anyaman, sesekali perempuan yang sebagiannya merupakan mahasiswa dan pelajar nampak bercanda dan tertawa lepas bersama teman perempuan lain.

Desa Beleke, Kabupaten Lombok Tengah merupakan satu-satunya Desa penghasil ribuan kerajinan ketak dari rotan terbesar di NTB bahkan di Indonesia bagian timur, dalam berbagai bentuk, jenis dan ukuran, dimana sebagian bahan mentahnya diimpor dari Kalimantan, Sumba Plores NTB dan Kabupaten Lombok Utara.
Terletak di bagian timur pedalaman Kabupaten Loteng, Keberadaan Desa Beleke memang termasuk Desa terpencil dengan akses hanya berupa jalan kecil, selain jauh dari pusat Kota juga belum terlalu banyak diketahui keberadaannya oleh wisatawan. Meski demikian kerajinan ketak Desa Beleke telah diekspor sampai ke Jepang
“Hampir setiap seminggu sekali saya selalu mendapat email dari perusahaan yang selama ini menjadi mitra saya memasarkan hasil kerajinan ketak dari Bali, memesan ratusan bahkan ribuan kerajinan untuk dikirim ke Bali, bahkan sering juga menerima pesanan secara lansung dari pengusaha Jepang,” kata Leni Marlina (29) pemilik Anggun Arshop Desa Beleka kepada Cendana News, Sabtu (21/5/2016).
Warga Desa beleke sendiri yang jumlahnya mencapai ratusan Kepala Keluarga (KK), kata Leni, hampir sebagian besar merupakan pengerajin ketak, karena kerajinan ketak memang merupakan warisan turun temurun nenek moyang semenjak puluhan tahun lalu.
Tidak heran di usia yang masih terbilang muda gadis dan remaja warga Desa Beleke sudah terampil membuat kerajinan ketak dengan kreasi unik dan menarik, sehingga memang diumur mereka yang masih muda sudah bisa mandiri, menghasilkan uang sendiri, tidak ada yang menganggur.
Dikatakannya, jenis kerajinan ketak yang dihasilkan antara lain, ember, bak sampah, geben, tempat sendok, piring, gelas, tempat buah, tas dan masih banyak macam kerajinan lain yang semuanya dibuat dari rotan, besar kecilnya jumlah jenis kerajinan yang dibuat tergantung pesanan dari perusahaan.
“Setiap melakukan pemesanan perusahaan mitra atau perusahaan dari yang langsung dari Jepang mengirimkan email pemberitauan terlebih dahulu, berapa ribu yang hendak dipesan termasuk mengirimkan foto jenis dan model kerajinan diinginkan”sebutnya.
Bali Dinilai Curi Hak Cipta
Lebih lanjut Leni mengatakan, dari sekian kerajinan yang dihasilkan yang paling banyak dipesan perusahaan mitra adalah geben yang biasa digunakan membawa sesajen sewaktu sembahyang maupun perayaan hari besar umat Hindu terutama di Bali.
Meski demikian Leni mengungkapkan, hal yang seringkali menjadi kendala masyarakat pengerajin ketak Desa Beleke adalah dalam hal pemasaran dan hak cipta, keterbatasan pengetahuan dan akses teknologi informasi menjadi salah satu kendala kurang kencangnya pemasaran kerajinan yang dihasilkan.
Padahal dengan hasil kerajinan yang dihasilkan dengan berbagai kreasi unik, selain jangkauan pasaran lebih luas, dari sisi harga mungkin bisa akan lebih mahal, tapi memang dalam hal pemasaran selama ini, masih saja kita di bawah baying-bayang provinsi Bali terutama dalam hal hak cipta.
“Coba bayangkan semua kerajinan ketak yang dipasar di Bali ke wisatawan asing termasuk geben yang biasa digunakan umat Hindu untuk membawa sesajen sewaktu sembahyang, yang jumlahnya mencapai ratusan ribu biji tersebut dikira dari mana, itu adalah semua dari Desa Beleke, hasil kerajinan tangan kreatif anak-anak Lombok,” ungkapnya.
Tapi oleh PT. Multi Global perusahaan mitra di Bali, setelah dicat dengan gambar bunga, mereka dengan enteng saja menulis made in Bali, bagaimana kami tidak sakit hati, Bali itu mencuri hak cipta kami, ahirnya ketika wisatawan asing melihat dan membeli hasil kerajinan tersebut yang mereka tau sebagaimana tulisan yang tertera ya produknya masyarakat Bali.
“Protes keras dan masukan telah kita sampaikan kepada dinas dan instansi terkait, tapi tidak pernah ada tindak lanjut sampai sekarang, ahirnya kami juga menjadi malas mengulang masukan yang sama setiap dinas atau instansi pemerintah datang melakukan kunjungan menemani tamu dari luar, mau terlalu keras sama perusahaan yang membeli juga tidak enak, nanti siapa yang akan membeli,”katanya.
Lebih lanjut Leni menjelaskan, untuk kerajinan geben sendiri satu kali pemesanan oleh PT. Multi Global Bali bisa mencapai 75 sampai 100 biji geben, dimana satu biji dihargakan 35.000 rupiah dan itu hampir rutin dilakukan setiap bulan.
Sedangkan jenis kerajinan lain yang banyak dipesan adalah pasmet opal sebagai alas nasi, satu kali pesan jumlahnya mencapai 5600 dengan harga 25 ribu perbijinya.
Kemudian skuer sampai 4.000 biji dengan harga 35 ribu, ron koster 12 ribu dengan harga 3.000 sisanya biasanya berupa piring, gelas, tas dan beberapa jenis kerajinan ketak lain.
Dari hasil kerajinan ketak yang ditekuninya setiap bulan, Leni mengaku bisa mengantongi keuntungan puluhan hingga ratusan juta, tergantung besar kecilnya jumlah pemesanan.
Mengandalkan Modal Sendiri
Meski sudah menjalani usaha kerajinan ketak selama sekian puluh tahun, Leni mengungkapkan dirinya bersama warga Desa Beleke memilih menjalankan usahanya secara mandiri dengan mengandalkan modal dan sumber daya dimiliki dan tidak menerima bantuan dari pemerintah derah Lombok Tengah.
Bagi Leni menjalankan usaha dengan mengandalkan modal sendiri justru lebih memudahkan dirinya dan pengerajin ketak Desa Beleke lain secara leluasa mengatur dan memasarkan produk dihasilkan secara leluasa, tanpa ada intervensi dari pihk manapun.
Diakuinya dalam beberapa hal masyarakat pengerajin ketak Desa Beleka memang sedikit mengalami kendala terutama dalam beberapa hal, seperti pemasaran, khususnya pemasaran ke luar termasuk hak cipta yang diharapkan bisa ada solusi dari pemerintah.
“Beberapa kali kami pernah dikunjungi dan ditawari bantuan modal dan kerjasama oleh Pemda Lombok Tengah, tapi tidak perna mau menerima. Prinsipnya kalau memang masih mampu dengan modal sendiri, lebih baik mndiri,” tutupnya.
[Turmuzi]
CendanaNewsNTBTurmuzi
Lihat juga...