Jelang Merti Desa, Warga Gotong Royong Bersihkan Lingkungan

SENIN, 23 MEI 2016

LAMPUNG — Puluhan masyarakat di Desa Klaten Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan mulai melakukan kegiatan pembersihan di sekitar desa sebelum puncak kegiatan merti desa (bersih desa) dalam rangkaian kegiatan hari jadi ke-51 desa Klaten. Kegiatan pembersihan lingkungan dilakukan dengan membabat rumput, membersihkan selokan, membersihkan lapangan serta menyiapkan lokasi yang akan digunakan sebagai kegiatan puncak merti desa.
Salah seorang warga Desa Klaten, Baryanto (35) mengaku kegiatan bersih bersih lingkungan sudah dilakukan secara bertahap oleh ratusan warga desa dengan cara gotong royong. Sementara kegiatan bersih bersih lanjutan dilakukan oleh sejumlah intansi yang berkantor di wilayah Desa Klaten diantaranya kantor unit pelaksana tekhnis (UPT) Dinas Pekerjaan Umum, Puskemas pembantu, serta beberapa sekolah dasar (SD) dan Sekolah Menengah Atas (SMA).
“Aksi bersih bersih semua warga sudah berlangsung sementara beberapa instansi kembali melakukan pembersihan di sekitar kantor untuk kegiatan merti desa yang akan digelar puncaknya esok hari,”ungkap Baryanto saat ditemui Cendana News sedang membersihkan rumput bersama puluhan pegawai lain, Senin (23/5/2016).
Selain kebersihan lingkungan,upaya mempercantik desa juga dilakukan dengan melakukan pembenahan di gerbang gerbang masuk desa,pembuatan baner himbauan upaya menjaga kebersihan dan pembuatan rambu rambu jalan artistik dengan bambu. Lapangan yang sebelumnya ditumbuhi rumput cukup tinggi bahkan dirapikan dengan menggunakan mesin potong rumput.
Kepala Desa Klaten, Joniansah mengungkapkan, kegiatan Merti Desa merupakan kegiatan rutin tahunan yang merupakan wujud rasa syukur penduduk warga desa selama setahun sebelumnya dengan memohon kepada pencipta memberi kemakmuran seluruh anggota masyarakat. Langkah pertama yang dilakukan diantaranya pembersihan fisik dengan kegiatan bersih lingkungan, kegiatan pengajian serta kegiatan kesenian tradisional yang merupakan kearifan lokal masyarakat yang berasal dari wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah.
“Kegiatan kesenian tradisional diantaranya dilakukan kegiatan kuda lumping sebagai upaya melestarikan budaya leluhur. Selanjutnya acara ini disertai kenduri bersama sebagai ungkapan syukur atas hasil bumi dan pergelaran wayang kulit semalam suntuk,”ungkap Joni.
Kegiatan merti desa sengaja akan dilangsungkan puncaknya pada malam hari, karena hampir semua warganya sibuk bekerja di siang hari dengan pertunjukan pagelaran wayang kulit yang merupakan simbol pembersihan secara spritual.
”Upacara adat yang akan dilakukan harus melibatkan seluruh warga agar kekompakan dan kebersamaan bisa terjaga,apalagi selama ini warga juga telah terlibat dalam kegiatan bersih desa,’’ jelasnya.
Selain sebagai upaya melestarikan budaya leluhur, kegiatan ini juga untuk menggali potensi desa berupa pelestarian budaya tradisional yang sudah mulai punah. Kesenian kuda kepang atau kuda lumping merupakan kesenian yang disukai oleh seluruh kalangan baik anak anak maupun orang dewasa. Sementara untuk mengobati rasa rindu akan kampung halaman di Jawa, pertunjukan wayang kulit mendatangkan dalang asal Yogyakarta.
“Sesuai kepercayaan adat merti desa harus ditanggap wayang kulit apalagi mayoritas warga Klaten merupakan warga transmigrasi dari Pulau Jawa,”ungkapnya.
Ia berharap dengan pembersihan desa secara fisik dan penyucian desa secara spritual yang diwujudkan dengan kegiatan doa bersama berupa pengajian dan secara adat diruwat (disucikan) dengan pagelaran wayang kulit bisa memberi dampak positif bagi masyarakat dan desa Klaten.
[Henk Widi]
Lihat juga...