Jejak Sejarah Portugis Menyebarkan Agama Kristen Katolik di Sikka

ejak Sejarah Portugis Menyebarkan Agama di Sikka
KAMIS, 5 MEI 2016
Don Alesu bisa dikatakan sebagai peletak dasar agama Kristen  Katolik di Sikka. Titahnya membuat masyarakat berbondong- bondong dibaptis. Ia pun mewajibkan rakyatnya memeluk agama Katolik. ” Agama raja adalah agama rakyat, “ begitu kotbahnya. Bagaiman peran raja pertama Sikka ini menyebarkan agama Katolik?


Kerajaan Sikka identik dengan kerajaan Katolik. Selain kerajaan Larantuka di Flores Timur, kerajaan Sikka juga menjadi sebuah kerajaan yang dipengaruhi Portugis. Kentalnya pengaruh ini membuat kedua kerajaan ini rakyatnya otomatis memeluk agama Katolik,  agama  disebarkan bangsa Portugis kala itu.
Menurut penuturan Gregorius Tamela Karwayu ( 69 ) dan Orestis Parera ( 77 ) kepada Cendana News yang ditemui di Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Minggu  ( 1/5/2016 ),  orang Portugis masuk ke Sikka sejak abad ke 16 lewat laut Sawu di pantai selatan Sikka. 
Dikatakan Goris, sapaan akrabnya, orang Portugis jika berangkat ke Malaka akan melewati laut selatan Sikka,  baru ke Ambon buat berdagang rempah-rempah. Sehingga saat mereka kehabisan bekal atau mau memperbaiki kapal,  jelas Goris, mereka mampir ke Sikka.
Berlayar ke Malaka
Pada awal bad ke 17 di Sikka ada seorang bernama Moang Lesu yang dianggap sebagai tokoh. Moang Lesu  merupakan Hulu Balang yang mempunyai wibawa yang cukup sebagai  pemimpin. 
Dalam  bahasa Sikka, ia disebut Wira Dira Waa Ngan,  artinya suaranya berwibawa dan apa yang keluar dari mulutnya itu selamanya  didengar dan dipatuhi orang – orang sekitar di kampung atau wilayahnya itu.
Namun  Moang Lesu, papar Goris,  melihat penderitaan masyarakat dimana saat itu penyakit meraja lela yang menyebabkan banyak warga meninggal. Kejadian ini membuat Moang Lesu,  merasa sangat terganggu dalam hati dan pikiran. 
“Dia mempunyai suatu pikiran ingin mencari tempat atau wilayah yang tidak ada penderitaan atau kematian,  Ini yang membuat Moang Lesu mencari sebuah tanah yang dalam bahasa Sikka dikatakan Tanah Moret Dadi atau tanah kehidupan kekal,” ujarnya.
Saat Moang Lesu duduk di pelabuhan Alok Wolokoli di Waidoko, pelabuhan yang cukup ramai saat itu dan jadi tempat persinggahan kapal – kapal Portugal, datanglah seorang Portugal bernama Jogo Worila. Dikatakan Goris, Jogo Worila bertanya kepada Moang Lesu,apa maksudnya kamu duduk disini dan apa yang engkau inginkan.
Moang Lesu lalu menceritakan semua keinginannya. Jogo Worila katakan bahwa semua tempat di dunia ini pasti ada penderitaan,  apalagi kematian. Tapi kalau kamu mau ikut saya ke tanah Malaka (saat itu Malaka dikuasai Portugis ), disana kamu akan mengetahui tanah yang kamu impikan itu.
Moang Lesu sepakat mengikuti Jogo Worila. Sesudahnya papar Orestis Parera, Moang Lesu  kembali ke Sikka dan mengumpulkan para Moang Puluh ( penasehat raja ) dan menceritakan keinginan. Para Maong Pukuh tambah Orestis, mengumpulkan perbekalan bagi Moang Lesu.
 “Saat itu dikumpulkan emas sebanyak 10 dulang ( nyiru ) dimana masing – masing Moang Puluh memberikan satu dulang emas. Juga dibawa satu jenis barang yang harum ( ambar ) bekas muntahan dari ikan paus “ ungkap Orestis, mantan guru. 
Dikisahkan Orestis, Moang Lesu berangkat dari pelabuhan ke pelabuhan dan dia terus bertanya ke semua orang.Kejadian ini lanjut Orestis digambarkan dalam syair–syair pantun yang melukiskan itu dimana dia sampai di Batavia  dan dibawa ke Malaka. Waktu Malaka tahun sejak 1500 sudah dikuasai Portugis.Moang Lesu pun dibawa Jogo Worila menemui penguasa Portugis.

Belajar Agama
Moang Lesu berangkat ke Malaka sebagai seorang calon raja Sikka. Diceritakan Orestis keinginan Moang Lesu ini lahir sebab dia melihat rakyatnya hidup sengsara, sakit penyakit mendera dan merenggut nyawa rakyatnya sehingga dia berangkat untuk mencari tanah dimana masyarakatnya bisa hidup kekal. 
“ Betapa masyurnya raja – raja Eropa, tapi tidak seperti raja Sikka yang memperhatikan nasib rakyatnya “ ungkapnya.
Setelah berjumpa penguasa Portugis, Moang Lesu kisah Orestis ditanya maksud kedatangannya oleh penguasa Portugis. Saat Moang Lesu katakan hendak mencari tanah dimana orang bisa hidup kekal. Penguasa Portugis mengatakan bahwa tempat manapun di dunia ini selalu ada kematian dan sengsara. 
Tapi sekiranya engkau mau ke tempat dimana ada kehidupan kekal, saya bisa tunjukan tapi engkau harus meninggal dahulu. Biar harus mati dulu,saya mau ke sana jawab Moang Lesu. Tapi untuk itu engkau harus belajar agama Katolik, masuk agama Katolik.
Moang Lesu menyanggupinya. Akhirnya Moang Lesu beber Orestis belajar agama Katolik dan menetap di Malaka selama  5 tahun.Dia belajar banyak sekali, pemerintahan, kebudayaan, tarian dan bahasa Portugis selain agama.
Menyebarkan Agama
Setelah belajar agama Moang Lesu dinamai Don Alexius Alesu Ximenes da Silva. Dikarenakan Moang Lesu orang yang berpengaruh dan berwibawa maka tutur Goris, Moang Lesu dinobatkan sebagai raja dan diberikan  semua regalia kerajaan dan dikitsertakan bersama dia untuk kembali ke sikka seorang portugal yang bernama Agustino Rosario da Gama.
Sepulang dari Malaka mereka mulai menyebarkan agama dan dipermandikan oleh da Gama.Karena kalau rajanya sudah masuk katolik,  maka kita pasti maklum masyarakat  pun mengikuti. 
Dikatakan Goris, ada versi yang juga mengatakan da Gama lebih dahulu pulang ke Sikka tapi pokoknya itu ada kaitan dengan Moang Lesu tadi. Waktu itu kisah Goris, orang Portugal cuma pergi pulang saja dan belum menetap di Sikka karena wilayahnya lebih luas.
“ Orang Portugis  akan berlayar dari Solor karena sebelumnya di Solor sudah ada benteng Lohayong dan seminari. Persinggahannya Sikka, Paga dan pulau Ende sebab dulunya pulau Ende semuanya beragama Katolik. Mereka membangun gereja permanen dan diberi nama pelindung Santa Lusia ,”  tuturnya.
Gereja yang dibangun tersebut ceritera Goris  roboh dan dibangun lagi. Sesudah imam – imam Portugal kurang datang,  kegiatan agama diatur oleh raja bersama masyarakat itu senderi.  Sering katanya mereka pergi sampai ke Timor Timur atau Oekusi,untuk mendatangkan imam yang membantu pelayanan sakramaen di Sikka. (Ebed de Rosary)
Lihat juga...