KAMIS, 5 MEI 2016
Sekembalinya Moang Lesu dari Malaka, dirinya diangkat oleh Portugis menjadi raja Sikka.Moang Lesu juga dibaptis dan diberi nama Don Alessu Alexius Ximenes da Silva serta diberikan Regalia kerajaan Sikka.
Regalia atau pakaian kebesaran raja Sikka yang dibuat di Malaka tahun 1602 dan dibawa oleh Raja Sikka Don Alesu saat kembali ke Sikka. Regalia ini sekarang disimpan di kediaman keluarga raja yang beralamat di Jalan Tugu Timur, Maumere, Kelurahan Kota Uneng, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka.
Bangsa Portugis dituturkan Gregorius Tamela Karwayu ( 69 ) yang dijumpai Cendana News, Minggu ( 1/5/2016 ),mulai masuk secara resmi di Sikka setelah raja Sikka Don Alesu pulang dari Malaka tahun 1607. Tahun ini berdasarkan tulisan yang tertera ditopi kerajaannya sehingga diperkirakan dia berangkat dan menetap di Malaka sebelum tahun itu.
Menjala Manusia
Oscar Mandalangi Parera (78) sejarawan dan budayawan Sikka yang ditemui Cendana News Minggu ( 1/5/2016 ) mengisahkan, saat pulang dari Malaka Don Alesu membawa seorang guru agama bernama Agustinho Rosario da Gama.
Di Sikka terang Oscar, mereka mulai menyebarkan agama. Agama raja sebut Oscar dijadikan agama rakyat dan waktu itu orang masih kafir sehingga ikut saja.Apalagi hal ini diperintahkan raja. Dalam sekejap papar Oscar, masyarakat datang berbondong – bondong minta dibaptis.Selain itu urai Oscar, ada kesamaan persembahan,Tung Piong dan Tewok sama dengan persembahan saat misa.
Piong itu makanan, Tewok itu minuman. Kalau orang kafir memberi persembahan di batu – batu mesbah (Mahe) sebutnya, di gereja persembahan dilakukan di altar.
“ Orang Portugis mengatakan Kristus datang bukan untuk menghilangkan upacara persembahan, kurban bakaran, tapi menghidupkannya kembali. Ini yang membuat semua orang bersedia dibaptis. Jadi selain karena pengaruh raja juga ada kesamaan falsafah dan teologi “ tutur sejarawan Sikka.
Anak – anak Sikka pun ungkap Oscar disuruh menjadi guru agama, pastor, suster sehingga mereka tinggalkan perahu – perahu mereka. Orang Sikka yang biasanya menjala ikan akhirnya berubah menjadi penjala manusia. Mereka menyebar ke mana – mana sampai ke Manggarai bersama orang Larantuka.
Begitu mereka meninggalkan pekerjaan itu, kata Oscar, perahu – perahu kosong sehingga dengan demikian kampung Sikka yang dulunya pusat kerajaan runtuh pelan – pelan, sebab orang Sikka itu pelaut dan pedagang.
Selain itu, politik kawin mawin (perkawinan) yang diterapkan Don Alesu sebut Orestis Parera (77) yang ditemui Cendana News Minggu ( 1/5/2016 ) ikut membuat orang luar yang menjadi bawahan dan Lewai ( anak tumbuk) anaknya dijodohkan dengan orang Sikka.
Dengan demikian tambah Orestis, anak – anak mereka otomatis mengikuti tata hidup orang Sikka artinya masuk Katolik sehingga pembesar – pembesar tersebut juga ikut memeluk agama Katolik.
Ritual Katolik
Portugis mengatakan kepada Don Alesu, saya akan mengangkat engkau menjadi raja tapi dengan syarat mengajarkan agama, membawa patung Meninu dan Kristus Raja serta membaptis orang. Don Alesu juga urai Oscar membawa patung Meninu (Kanak–Kanak Yesus), Senhor (Salib Yesus),banyak gading dan Tugur Geang (bendera-bendera).
Selain itu, juga dibawa serta pakaian kebesaran raja, tongkat kerajaan ( Gai Bas Tang ), mahkota emas bertulisan 1607, kalung leher ( Tua Wulir ), rantai besar ( rantai bahu ),keris emas (Pendo Bahar), juga rantai leher yang disebut Odang Spiritu Sancto.

“Meninu itu warisan Portugis dan saya temukan di mana – mana, di Larantuka, Vietnam dan di Melbourne, Australia. Ritual Logu Senhor yakni berjalan jongkok di bawah Salib Yesus juga menjadi ritual agama yang diperkenalkan Don Alesu ” papar Oscar.
Diungkapkan Orestis, selain patung Meninu dan Arca Salib Yesus, ada juga patung Exce Homo patung Tuhan Yesus yang dibaringkan dan menurut orang Sikka aslinya tertinggal di Lela.
Waktu Jepang masuk ke Sikka lanjut Orestis, diperintahkan agar barang – barang gereja disimpan di Lela karena takut dirusakan atau dicuri. Setelah merdeka dan sudah aman barang – barang tersebut dikembalikan ke Sikka tapi patung Exce Homo tersebut tertinggal di Lela.
“ Patung itu musti saya yang lihat. Pada waktu kami ada perarakan ke Wisung Fatima Lela saya lihat ada disitu. Saya tunjuk disitu dan orang Lela terkejut, ternyata patung itu ada,” ucap Orestis.
Tapi sekarang lanjutnya, patung itu sudah tidak tahu diletakan dimana.Kami minta tapi orang Sikka yang ada di Lela bilang itu kami punya, mau simpan di Sikka juga baik, di Lela juga baik “ ucap Orestis.
Salib Senhor setiap prosesi Jumad Agung diarak keliling kampung menyinggahi Irimida.Saat perhentian di Irimida terang Goris, saat hendak dibaringkan, Salib Senhor diangkat ke atas lalu mereka yang mempunyai niat atau intensi khusus harus berjalan jongkok di bawahnya dengan lilin bernyala di tangan.
Logu Senhor ini dilakukan di setiap Irimida hingga masuk ke dalam gereja dan mereka melakukan ini sambil berdoa. Biasanya ada 4 irimida dan ditambah dengan di dalam gereja maka ada lima.Mereka yang mempunya niat khusu tersebut kata Goris, harus Logu Senhor sebanyak 6 kali karena di gereja dua kali dilakukan.
“ Logu Senhor pernah dilarang oleh pastor, karena saat Jumad Agung, Sesta Feria, Corpus Cristi, begitu ramai, orang minum mabuk sehingga pastor marah dan minta kepada raja agar jangan diadakan lagi prosesi atau perarakan,” beber Goris.
Kalau di Larantuka penyembahan dilakukan kepada Bunda Maria, sementara di Sikka kepada Tuhan Yesus dengan ritual Logu Senhor. Saat zaman Jepang Logu Senhor mulai coba dihidupkan. Sudah beberapa tahun hal ini mulai diperkenalkan lagi sampai sekarang.
Pembagian Wilayah
Penyebaran agama Katolik mulai menyebar karena orang – orang Sikka sendiri mulai berdagang ke luar daerah. Raja Sikka pun mulai mengembangkan wilayah sehingga dia mulai menyebarkan agama, Adanya traktat Lisabon, ,perjanjian orang Potugis dan Belanda terkait perdagangan rempah – rempah menyebabkan adanya pembagian wilayah.
Wilayah Timor bagian timur jelas Goris tetap dikuasai Portugal, sementara Timor bagian barat, Flores dan Sumba diserahkan kepada Belanda. Hanya ada satu pasal dalam perjanjian itu tambah Goris yang mengatakan untuk orang Flores yang sudah beragama Katolik tidak boleh diganggu oleh orang Belanda.
Belanda hanya boleh menyebarkan agama Kristen Protestan di Timor dan Sumba. Akhirnya misionaris Belanda masuk ke Sikka dan sejak tahun 1800 – an wilayah atau paroki Sikka mempunyai seorang pastor tetap bernama Pater Le Cock Darmansing. Pastor Belanda ini sebut Goris bertugas dari tahun 1884 hingga pindah ke Manado dan Irian dan diganti pater Yohanes Engbers,SJ. Perlu diperhatikan imam – imam Portugal merupakan imam Dominikan ( OP ) sementara imam – imam Belanda adalah Yesuit ( SJ).
Untuk melayani iman umat, gereja dibangun. Gereja pertama dibangun masih beratap ilalang dan sangat sederhana berbahan kayu serta diberi pelindung Santa Lusia.Gereja tersebut sudah musnah dan Pater Yohanes Engbers bersama raja Sikka Andreas Jati da Silva membangun gereja Sikka tahun 1896 dan selesai tahun 1899.
Karena gereja ini dibangun oleh imam SJ maka pelindungnya diganti St.Ignatius Loyola dengan motonya Ad Maiorem Dei Gloriam “demi lebih besarnya kemuliaan Allah. “
Hingga sekarang agama Katolik pun menjadi agama mayoritas di Sikka dan di Flores. Selain karena pengaruh raja Sikka yang turut mengajak rakyat di wilayah kekuasaannya dan penguasa wilayah sekitarnya untuk memeluk agama Katolik, peran para guru agama asal Sikka juga sangat penting.Guru – guru agama inilah yang membantu menyebarkan agama ke pelosok pulau Flores.
( Ebed de Rosary)