SENIN, 23 MEI 2016
PROFIL—-Peran mahasiswa ternyata tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang perjuangan Bangsa Indonesia terutama paska peristiwa pemberontakan G30/S/PKI 1965 di Jakarta, saat itu dari mahasiswalah pertama kali tercetus ide Tiga Tuntutan Rakyat atau yang dikenal dengan Tritura. Isi Tritura tersebut antara lain bubarkan PKI beserta ormas-ormasnya, turunkan harga-harga kebutuhan pokok dan perombakan Kabinet Dwikora. Tritura tercetus akibat terjadinya ketidakpastian dan keraguan sikap dalam Pemerintahan Presiden Soekarno pada waktu itu terhadap keberadaan Partai Komunis Indonesia (PKI).
![]() |
| Cosmas Batubara, Mantan Menteri yang Juga Aktivis Eksponen Mahasiswa 1966 |
Tritura dicetuskan pertama kali oleh para mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), namun belakangan aksi tersebut ternyata mendapat dukungan dan simpati dari Tentara Nasional Indonesia (TNI). Mereka dengan lantang dan tanpa henti menyuarakan Tritura di depan Istana Negara, mereka tampaknya tidak merasa takut jika mereka ditangkap aparat keamanan. Hampir setiap hari di kawasan Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, tidak pernah sepi dari aksi demonstrasi dan unjuk rasa mahasiswa yang menuntut pembubaran PKI.
Pelaksanaan demonstrasi Tritura pertama kali dilakukan oleh para mahasiswa pada tanggal 12 Januari 1966, berdekatan dengan rencana Presiden Soekarno yang akan melantik Kabinet Dwikora pada tanggal 24 Februari 2016. Namun pada saat pelantikan para menteri Kabinet Dwikora terjadi insiden penembakan yang menewaskan salah satu mahasiswa yaitu Arief Rahman Hakim diduga dilakukan oleh Pasukan Pengawal Istana Negara (Tjakrabirawa). Khabar tewasnya Arief Rahman Hakim tersebut langsung memicu kemarahan ribuan mahasiswa yang ada di Jakarta, mereka mengepung Istana Negara.
Cosmas Batubara, mantan Menteri Tenaga Kerja Indonesia dan Menteri Perumahan Rakyat yang juga aktivis eksponen Angkatan 1966 mengatakan “peran mahasiswa psaat itu sangat penting, setelah mereka melakukan menuntut Tritura di depan Istana Negara, tak lama kemudian akhirnya Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang memberikan mandat penuh kepada Pangkostrad Mayor Jendral Soeharto sekaligus menjabat Menpangad untuk segera memulihkan keamanan dan ketertiban di Indonesia, yang akhirnya berujung pada pembubaran PKI dan ormas-ormasnya” terangnya saat acara Festival Jalan Lurus, Senin siang (23/5/2016). (Eko Sulestyono)