Wisata Religi Makam Raden Inten II dan Makam Ratu Darah Putih

MINGGU, 3 APRIL 2016
Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo/ Sumber Foto: Henk Widi 

LAMPUNG — Pahlawan Nasional Raden Inten II yang merupakan salah satu pahlawan asal provinsi Lampung hingga kini masih dikenang sebagai bagian sejarah yang tak terlupakan. Bahkan makam Raden Inten II yang berada di Desa Gedongharta Kecamatan Penengahan tersebut masih sering dikunjungi para peziarah, baik dari wilayah Lampung maupun dari wilayah Banten. 
Selain makam pahlawan nasional, destinasi wisata religi yang masih sering dikunjungi rombongan peziarah diantaranya makam Ratu Darah Putih yang ada di Desa Kuripan Kecamatan Penengahan.
Juru pelihara makam Raden Inten II, Nuraini menyebutkan, kunjungan peziarah yang sebagian melakukan perjalanan secara rombongan biasanya bersamaan dengan paket wisata alam yang ada di Lampung Selatan. 
Perjalanan wisata tersebut selain wisata religi, sejarah, juga dilakukan beberapa mahasiswa yang belajar tentang kebudayaan Lampung dan peninggalan sejarah Sriwijaya yang ada di Lampung.
“Akhir pekan ini puluhan peziarah datang dari provinsi Banten karena kita tahu sejarah Raden Inten II nenek moyangnya berasal dari Banten. Selain itu peziarah juga mengunjungi makam Ratu Darah Putih,”ungkap Nuraini kepada Cendana News, Minggu (3/4/2016).
Nuraini mengungkapkan, wisata religi tersebut bisanya dilakukan oleh ibu ibu pengajian atau pesantren yang ingin melakukan perjalanan ke tempat tempat yang dikeramatkan untuk mengambil hikmah dari perjuangan para pendahulu sekaligus pahlawan. 
Sebagai juru pelihara, ia dengan sabar memberi penjelasan kepada para pengunjung yang berniat mengetahui sejarah peninggalan Raden Inten II termasuk area makam yang merupakan sebuah benteng yang dikenal dengan nama Benteng Cempaka. 
Selain makam yang selama ini menjadi tujuan untuk berziarah dengan mengirimkan doa, peziarah juga bisa melihat museum peninggalan masa penjajahan Belanda yang pernah bertempur dengan pasukan Raden Inten II yang bergerilya di lereng Gunung Rajabasa dan menyisakan benteng Merambung, Benteng Ketimbang, Benteng Cempaka serta beberapa benteng lain yang dipergunakan dalam masa perjuangan melawan penjajah Belanda.
Area makam Raden Inten II menurut Nuraini dipugar sejak tahu 1980 hingga tahun 2000 dengan melakukan penataan, pembenahan di beberapa titik termasuk pembuatan patung, relief, gerbang serta rumah panggung di area benteng cempaka tersebut.
Semasa hidupnya, Raden Inten II mendirikan benteng benteng yang berupa benteng alam berbentuk gundukan tanah dan parit parit buatan yang masih bisa dilihat hingga sekarang. Luas area makam ini sekitar 3.750 meter persegi yang terdiri dari makam, taman, benteng, rumah informasi dan area parkir.
Peziarah yang datang dari Pulau Jawa pun tak kesulitan karena hanya berjarak 75 kilometer dari Bakuheni menuju makam yang banyak dikunjungi tersebut, dari Pulau Jawa, setelah menyeberang ke Bakauheni Lampung sesampainya di Desa Gayam, sebuah plang besar dengan penunjuk arah ke makam Raden Inten II terpasang jelas, demikian juga dari arah Bandarlampung yang hanya berjarak sekitar 167 kilometer.
“Setiap pengunjung kami persilakan mengisi buku tamu karena rata rata datang ke rumah informasi untuk melihat peninggalan barang barang semasa Raden Inten hidup dan pengunjung bisa mencapai ratusan selama sebulan,”ujar Nuraini.
Salah satu peserta ziarah dari Banten, Samsiah (34) mengaku datang bersama rombongan ibu ibu pengajian yang sengaja datang menggunakan minibus. Ia mengaku hendak mengunjungi beberapa destinasi wisata religi di Lampung diantaranya makam Syekh Ahmad Hasanudin yang berada di kaki Gunung Rajabasa, Makam Ratu Darah Putih, Makam Al-Habib Ali bin Alwi Al Idrus yang berada di Desa Ketapang.
Sebagai umat Muslim, ia mengaku wisata ziarah dilakukan unuk semakin mendekatkan diri pada sang pencipta dengan banyak belajar dari para pendahulu terutama penyebar agama Islam yang rela meninggalkan kampung halamannya hingga rela meninggal di daerah yang dituju.
“Selain mengenal daerah lain secara spritual perjalanan wisata ziarah dilakukan untuk mendoakan para pendahulu dan belajar untuk semakin beriman dan bekajar sejarah masa lalu,”ungkap Samsiah. 
Setelah mengunjungi beberapa tempat ziarah diantaranya makam pahlawan, Samsiah mengaku pengelolaan dan perawatan tempat tempat wisata religi tersebut harus selalu dijaga, sebab peninggalan tersebut merupakan kearifan lokal masyarakat setempat. Selain itu akses jalan menuju tempat wisata religi tersebut hingga kini masih cukup memprihatinkan terutama menuju makam Ratu Darah Putih yang masih berupa jalan setapak.
Lihat juga...