MINGGU, 3 APRIL 2016
Jurnalis: Rianto Nudiansyah / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: Rianto Nudiansyah
BANDUNG — Masyarakat Indonesia terkadang lebih percaya menggunakan produk luar negeri daripada produk asli buatan lokal. Tak terkecuali para musisi, yang selalu mengidam-idamkan menggunakan alat musik dengan merek yang sudah ternama.
![]() |
| Perangkat dan peralatan pembuatan gitar |
Padahal di Cimahi, Jawa Barat ada produsen alat musik yang kualitasnya sudah mendapat pengakuan dunia. Adalah ‘Virageawie’ produk gitar yang seharusnya menjadi raja di negerinya sendiri. Mengapa?
Alat musik ini lahir, bermula dari ide kreatif Adang Muhidin. Lantaran keunikannya, cukup banyak musisi kelas dunia dan para kolektor yang menggunakan gitar ini.
“Material gitar ini terbuat dari bambu. Hanya finger neck nya saja yang menggunakan kayu,” tutur Adang, di Jalan Cijerah, Cimahi, Minggu (3/4/2016).
Kendati materialnya tidak umum, namun soal suara dia menjamin bisa bersaing dengan produsen gitar besar. Jusru suara yang dihasilkan dari bambu akan lebih unik.
“Ini memang terbuat dari bambu, tapi kalau soal suara justru lebih khas daripada gitar pada umumnya,” sebutnya.
Tak ayal, Produknya ini sudah di pasarkan di beberapa negara, diantaranya Rumania. Padahal pada awalnya, dia hanya mengikuti pameran di lingkup lokal saja.
“Kalau musisi kita, ada Iwan Fals sama Balawan yang menggunakan. produk saya ini sudah tiga kali digunakan di Java Jazz Festival,” lanjutnya.
Dia menambahkan, nama Virageawie diambil dari bahasa Sunda yaitu ‘Pirage awi’ yang artinya hanya terbuat dari bambu. Awalnya, ada calon pembeli yang merasa harga dari produknya terlalu mahal, lantas mengucapkan kata ‘pirage awi’.
“Justru itu yang menginspirasi saya pada akhirnya saya beri brand Virageawie ini,” kenangnya.
Ya, Adang tidak memproduksi secara masal produknya ini. Dengan harapan, agar ada kesan premium. Namun tetap saja produk dari buah pemikirannya ini patut dihargai dengan banderol yang setara.
“Kita hanya menjual dengan kuantiti terbatas. Jadi kalau ada yang pesan baru dibuatkan. Untuk satu unit saya jual Rp.3,5 juta,” katanya.

Tak cukup hanya membuat gitar, Adang juga membuat beberapa alat musil lainnya seperti biola, drum dan Bas. Seluruh alat musiknya ini dibuat oleh komunitas garapannya, yakni Indonesia Bamboo Community (IBC).
“Rencananya kedepan kita akan membuat piano juga, mungkin kalau alat musik yang lain sudah, sekarang tinggal piano yang belum,” pungkasnya.