SABTU, 2 APRIL 2016
Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo/ Sumber Foto: Henk Widi
LAMPUNG — Masa panen jagung yang masih berlangsung di lahan pertanian jagung di Kecamatan Penengahan, Kecamatan Sragi, Kecamatan Ketapang, Kecamatan Palas dan beberapa kecamatan lain di Kabupaten Lampung Selatan menjadi berkah bagi para buruh petik.

Ratusan hektar tanaman jagung milik petani sebagian dipanen dengan sistem manual menggunakan jasa para pemetik jagung yang dikenal dengan “buruh pothel jagung” atau buruh petik jagung. Selanjutnya jagung yang telah dipetik para pekerja dikumpulkan dalam karung karung yang akan dibawa petani ke beberapa pusat penjemuran atau dijual langsung oleh pemilik lahan ke beberapa pabrik di Lampung Selatan yang tersebar di sejumlah kecamatan.
Para buruh petik tersebut rata rata merupakan kaum wanita yang sejak pagi sudah berada di kebun jagung bersama puluhan wanita lain yang memiliki pekerjaan sama, sebagai pemetik jagung. Para pemetik jagung tersebut biasanya dijemput menggunakan kendaraan selanjutnya menuju ke kebun jagung petani yang akan dipanen. Salah satu pemetik jagung di salah satu lahan milik warga, Marsini (34), mengaku sudah bekerja sebagai pemetik jagung sejak 6 tahun lalu dimana petani jagung mulai melakukan penanaman jagung dalam skala besar di wilayah Lampung Selatan.
“Kalau sedang musim panen jagung kami dijemput menggunakan kendaraan mobil lalu sesampainya di lokasi lahan jagung kami diberi karung yang akan digunakan menampung jagung yang kami petik,”ungkap Marsini kepada Cendana News, Sabtu (2/4/2016).
Marsini dan puluhan wanita lain hanya cukup mempersiapkan diri dengan membawa sarung tangan, caping, tenggok (wadah dari bambu), serta minuman secukupnya. Sarung tangan digunakan untuk melindungi tangan dari tajamnya potongan batang jagung sementara dengan lengan panjang dan caping digunakan para wanita tersebut untuk melindungi diri dari sengatan mentari.
Marsini bahkan mengaku sudah berangkat sejak pukul 05:30 WIB setelah melihat kondisi cuaca panas yang kerapkali membuat kulitnya terbakar menjelang siang. Sebagai buruh petik, para wanita yang bersama Marsini juga disediakan konsumsi oleh pemilik serta makanan kecil selama “mengupahkan” pemetikan jagung yang dimilikinya.
Sistem upah yang diterima oleh para buruh petik tersebut dilakukan dengan sistem karung. Setiap karung dihitung dengan upah sebesar Rp4.000,- dan akan dijumlahkan dengan banyaknya karung yang berhasil diperoleh oleh para pemetik jagung yang sebagian besar wanita tersebut. Marsini mengaku rata rata mendapatkan upah sebesar Rp.60ribu-Rp.80ribu sekali panen di satu lahan. Sebanyak 15-20 karung berhasil ia peroleh jika pemetikan dilakukan sejak pagi dan ia melakukan pemetikan dengan cepat.
“Butuh kebiasaan dan juga tekhnik agar bisa memperoleh karung jagung dalam jumlah yang cukup banyak karena kalau tak terbiasa sekali panen dapat 10 karung sudah lumayan,”ungkap Marsini.
Memetik jagung diakui Marsini bukan tanpa hambatan, selain panas, ia kerapkali menginjak tebasan batang jagung yang mengenai kakinya. Selain itu rumput rumput putri malu yang terkadang tumbuh diantara tanam jagung kerap mengenai wajahnya. Meski demikian ia mengaku tetap menyukai pekerjaan tersebut sebab bisa menambah penghasilan dan uang untuk membjuat dapurnya mengepul. Sementara sang suami bekerja sebagai buruh ojek jagung. Buruh ojek jagung dan pemetik jagung memiliki upah yang berbeda tergantung jarak tempuh untuk membawa karung karung jagung ke lokasi yang ditentukan.
Sang suami, Mukhlis (35) mengaku ikut menjadi buruh ojek jagung dengan bermodalkan motor rakitan yang disesuaikan dengan medan sulit yang ditempuh. Sekali mengangkut jagung ia bisa membawa sebanyak 3 karung jagung yang rata rata perkarung diupah sebesar Rp.4.000 hingga Rp.5.000.
“Kalau jaraknya dekat biasanya kita lakukan sistem ngepok atau dikumpulkan di lokasi tertentu untuk diangkut menggunakan mobil, tapi kalau jauh langsung ke rumah pemilik biasanya dibawa ke gudang, upahnya lebih tinggi,”ungkapnya.
Upah sebesar Rp.100ribu hingga Rp.150ribu kerap dibawa pulang setelah mengangkut berpuluh puluh karung jagung. Pekerjaan tersebut diakui Mukhlis hanya bisa dilakukan ketika musim panen jagung. Sementara pada masa biasa ia bekerja sebagai buruh pemecah batu di sekitar tempatnya tinggal di Desa Sukabaru Kecamatan Penengahan.
Pantauan Cendana News, di sejumlah kecamatan di Lampung Selatan, awalnya para pemilik lahan tidak terlalu memanfaatkan lahan untuk menanam jagung namun karena hasilnya lumayan maka semakin banyak yang menanam jagung. Jagung ditanam di sela-sela tanaman lain yang belum tinggi seperti di lahan perkebunan kelapa sawit atau khusus untuk tanaman jagung. Selain itu potensi penghasilan yang menguntungkan membuat para pemilik lahan memanfaatkan lahan untuk budidaya tanam jagung.
Pemilik lahan dimana Marsini dan puluhan kawan lain bekerja, Sodikin (45) mengaku mulai memanfaatkan lahan miliknya untuk bertanam jagung sejak tiga tahun lalu. Usia tanam yang relatif singkat sejak masa tanam hingga masa panen tidak lebih dari empat bulan membuat ia bisa melakukan penanaman setahun maksimal tiga kali dengan melihat kondisi cuaca.
“Awalnya saya tanami pisang tapi karena lebih lama masa panennya akhirnya saya rombak dan saya ganti dengan tanaman jagung, tanaman pisang hanya saya sisakan disetiap pinggir lahan jagung,”ungkapnya.

Masa tanam jagung juga menjadi sumber penghasilan bagi para warga sekitar lahan yang dimiliki oleh Sodikin. Sodikin bahkan mengeluarkan uang sekitar Rp.40ribu perorang untuk pekerja tanam jagung atau “wor” sekaligus memberi makan untuk para pekerja yang rata rata sebanyak 15 orang.
Ia mengaku mengeluarkan uang sekitar Rp.3 juta-Rp.4 juta untuk masa tanam, pemupukan, hingga masa panen. Ditambah obat obatan dan biaya operasional lain ia harus merogoh kocek lagi. Namun hasil dari belasan ton jagung yang diperolehnya diakui oleh laki laki yang bekerja sebagai pemilik usaha ekspedisi sayuran dan buah buahan tersebut masih bisa memiliki keuntungan jutaan rupiah.
Ia mengaku saat ini lebih senang menjual jagung dengan sistem karungan karena tidak harus repot melakukan pemipilan atau perontokan dari tongkol. Jagung miliknya diakuinya dijual dalam kondisi kering ke sejumlah pabrik jagung yang ada di Lampung Selatan.
Sementara itu ia mengaku saat ini petani jagung lebih bernapas lega, pasalnya harga jagung sudah mulai membaik. Saat ini bahkan menurut Sodikin harga jagung pipilan asalan mencapai Rp2.300 per kilogram, pipilan basah Rp1.650 per kilogram, dan jagung glondongan Rp1.100 per kilogram.
Bukan tanpa hambatan bagi petani jagung seperti Sodikin dan ratusan petani jagung di Lampung Selatan. Selain kondisi cuaca yang tak menentu, terkadang minimnya pasokan pupuk dan anjloknya harga jagung menjadi kendala yang dihadapi para petani. Kekeringan dan harga jagung yang anjlok hanya di kisaran Rp1.100 per kilogram kerap membuat petani merugi, namun di musim panen pada bulan Maret-April kali ini petani mulai meraup keuntungan.