SENIN, 11 APRIL 2016
Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Miechell Koagouw
LIPUTAN KHUSUS TMII — Anjungan Provinsi Kepulauan Riau dibangun pada tahun 2008 dengan luas kurang lebih 400 Meter persegi di kawasan Anjungan Terpadu Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Diresmikan penggunaannya oleh Gubernur Kepulauan Riau (Alm) H.M.Sani pada tanggal 08 Desember 2012. Anjungan Kepulauan Riau memiliki gaya arsitektur menyerupai bentuk Istana Kerajaan Riau-Lingga yang dulu terletak di Pulau Penyengat-Tanjungpinang. Anjungan provinsi yang beribukota di Tanjungpinang tersebut menampilkan benda-benda budaya baik asli maupun replika seperti pelaminan adat, pakaian pengantin, busana tradisional, naskah-naskah kuno berbahasa melayu maupun arab, serta berbagai informasi masyarakat Kepulauan Riau lainnya.
| Replika Regalia (Alat Kebesaran) Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang |
Ada sedikit perbedaan antara anjungan provinsi Riau dengan anjungan provinsi Kepulauan Riau. Kepulauan Riau menonjolkan karya-karya sastra peninggalan kerajaan Riau-Lingga, sedangkan Riau menonjolkan ciri khas berbagai peralatan tradisional masyarakat Riau, potret sejarah tradisi Pacu Jalur, hingga peninggalan-peninggalan bernilai sejarah sekaligus edukasi tentang Kerajaan Siak Sri Indrapura dan Kesultanan Pelalawan. Akan tetapi, perbedaan tersebut bukan untuk menggali lubang perbedaan, namun semakin memperjelas hubungan serumpun keduanya dengan kekayaan atau khasanah budaya masing-masing yang luar biasa.
Kerajaan Lingga (sekarang Kabupaten Lingga) merupakan asal-muasal sekaligus akar adat istiadat dan sejarah melayu, baik di Kepulauan Riau, Singapura, maupun Malaysia. Sejarah perjalanan melayu tidak pernah lekang dari Lingga sebagai “bunda tanah melayu”. Sebagai pusat pemerintahan, Kerajaan Riau-Lingga berpusat di Daik dan menjadi persinggahan para pedagang asal negeri China, India, dan Arab. Lingga menyimpan berjuta kisah sejarah yang sangat menarik. Secara geologi, pulau-pulau yang berada di kabupaten Lingga merupakan bagian dari paparan kontinental atau lebih dikenal sebagai Paparan Sunda. Lingga kaya akan situs-situs sejarah, seperti Istana Damnah dan Makam Sultan. Lingga juga memiliki Gunung Daik cabang tiga, pantai Pulau Berhala, dan beberapa keajaiban budaya serta alam lainnya.
Suku asli provinsi Kepulauan Riau (Kepri) adalah suku melayu dan suku laut (disebut juga Orang laut atau Orang selat). Secara historis, Orang laut dulunya adalah perompak, namun memegang peranan penting bagi kerajaan Sriwijaya, kesultanan Malaka, dan kesultanan Johor. Mereka menjaga selat dan mengusir bajak laut agar bisa memandu para pedagang ke pelabuhan kerajaan-kerajaan tersebut dengan aman. Orang laut turut memegang peranan penting dalam mendukung kejayaan kerajaan-kerajaan di Selat Malaka.
Pada zaman Sriwijaya, Orang laut sangat setia sebagai pendukung imperium. Hal ini yang menjadi dasar dukungan serta kesetiaan Orang laut terhadap sultan Malaka, karena kesultanan Malaka mengaku sebagai keturunan raja-raja Sriwijaya. Sewaktu Malaka jatuh, maka Orang laut meneruskan kesetiaan mereka pada keturunan sultan Malaka yang kemudian mendirikan kesultanan Johor. Pada 1699 sultan Mahmud Syah, keturunan terakhir Wangsa Malaka-Johor terbunuh dan Wangsa Bendahara naik tahta. Orang laut menolak mengakui Wangsa Bendahara sebagai sultan Johor yang baru karena ada kecurigaan dari Orang laut bahwa Wangsa Bendahara terlibat dalam pembunuhan tersebut.
Jauh setelah masa tersebut, pada tahun 1718, Raja Kecil, seorang petualang dari suku Minangkabau mengklaim hak atas tahta Johor, dengan Orang laut memberi dukungan dibelakangnya. Namun, dengan dukungan prajurit-prajurit Bugis, sultan Sulaiman Syah dari Wangsa Bendahara berhasil merebut kembali takhta Johor. Akhirnya, setelah terusir dari Johor, maka Raja Kecil dengan bantuan Orang laut (suku Bentan dan suku Bulang) mendirikan Kesultanan Siak. Setelah terusir dari Johor, maka pada abad ke-18 peranan Orang laut sebagai penjaga selat Malaka untuk kesultanan Johor-Riau perlahan digantikan oleh para pelaut Bugis.
Masa sejarah di Kepulauan Riau dimulai dengan ditemukannya Prasasti Pasir Panjang di Karimun melalui penemuan situs tapak kaki Buddha. Hal ini diduga berhubungan dengan kerajaan melayu di sumatera. Agama Buddha diperkirakan masuk melalui pedagang asal Tiongkok dan India. Sesudah itu, masa Islam di Kepulauan riau berkembang dengan berdirinya kesultanan Riau-Lingga. Kesultanan ini berazaskan Melayu Islam dengan ajaran Islam yang dibawa oleh pedagang dari Gujarat (India), dan Arab. Masa Kolonial di Kepulauan Riau turut memberi pengaruh kuat serta secara tidak sengaja ikut masuk dalam sejarah Kepulauan Riau itu sendiri. Masa kolonial yang cukup lama meninggalkan beberapa bukti sejarah melalui julukan Hawaii Van Lingga yang diberikan kepada pulau Penuba, penggunaan mata uang sendiri di Kepulauan riau, serta terbentuknya Keresidenan Riau.
Setelah masa kemerdekaan, Kepulauan Riau bergabung dengan wilayah kesultanan Siak di daratan Sumatera sehingga terbentuklah provinsi Riau. Setelah lama bergabung dengan provinsi Riau, maka Kepulauan Riau memutuskan untuk memisahkan diri dengan membentuk Badan Perjuangan Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau (BP3KR). Perjuangan BP3KR berhasil dengan provinsi Kepulauan riau berdiri sendiri terpisah dari provinsi Riau pada tanggal 24 September 2002. Berlanjut dengan pengukuhan Kepulauan Riau sebagai provinsi ke-32 di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan dua Kota (Tanjung Pinang sebagai ibukota provinsi, dan Batam), ditambah lima Kabupaten (Natuna, Kepulauan Anambas, Karimun, Bintan, dan Lingga) melalui UU No.25 tahun 2002.
Anjungan provinsi Kepulauan Riau memamerkan replika benda yang mewakili kebesaran kerajaan Riau-Lingga. Salah satunya adalah peninggalan tokoh masyarakat Kepulauan Riau bernama Raja Ali Haji, cucu dari Yang Dipertuan Muda Riau IV, Raja Haji Fisabilillah.
Raja Ali Haji adalah ulama, sejarawan, dan pujangga melayu-riau kerajaan Riau-Lingga, lahir di pulau Penyengat, Tanjungpinang sekitar tahun 1809 Masehi. Ia dikenal sebagai penyusun kata-kata bahasa melayu pertama berjudul Bustan Al-Katibin pada tahun 1850 yang berkembang menjadi tatanan bahasa melayu tinggi di Hindia-Belanda. Bahasa melayu dari kitab Bustan Al-Katibin inilah yang dijadikan acuan Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 untuk ditetapkan sebagai Bahasa Nasional kita yaitu Bahasa Indonesia (yang sudah banyak mengalami perubahan ejaan sejak dahulu hingga sekarang).
| Diorama Pakaian adat Pengantin Riau-Lingga sekaligus Pelaminannya |
Berdasarkan hal itu, maka Raja Ali Haji dikenal sebagai “Bapak Bahasa Melayu Indonesia”. Beliau juga adalah pengarang Gurindam XII (tahun 1847) yang berisi makna budi pekerti, kebaikan, dan etika antar sesama manusia. Banyak karya-karya beliau berupa kitab maupun syair sebelum akhirnya wafat tahun 1873. Raja Ali Haji dimakamkan di Kompleks Makam Engku Puteri Raja Hamidah di Pulau Penyengat Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri). Atas jasa dan sumbangsihnya sebagai peletak dasar kerangka Bahasa Indonesia, maka Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional dalam Bidang Bahasa pada 05 November 2004 kepada Raja Ali Haji.
Keunikan lainnya dari replika benda bersejarah Kerajaan Riau-Lingga di anjungan Kepulauan riau TMII adalah berbagai perhiasan pengantin, surat menyurat antara sultan dengan pihak kolonial Hindia Belanda, dan Keris Tradisional Kerajaan Riau-Lingga. Perhiasan pengantin yang dimaksud adalah untuk kedua mempelai, yakni pria dan wanita. Mulai dari ikat pinggang, perhiasan kaki, tangan, dada, leher, rambut, hingga kepala berupa surban pria dan mahkota melayu bagi wanita.
Tari Zapin dari melayu adalah kesenian yang sangat terkenal di Kepulauan Riau. Diiringi dengan alat musik Marwas, yaitu sejenis gendang melayu, tarian ini sangat memikat hati para pengunjung setiap obyek wisata yang ada di Kepulauan Riau. Tarian lainnya adalah : tari Dayung Sampan, tari Makyong. Selain Marwas, alat-alat musik khas Kepulauan Riau diantaranya adalah alat musik pengiring Barongsai )seperti tambur), alat musik bambu bernama angklung, dan gamelan melayu.
Melalui kunjungan ke anjungan provinsi Kepulauan Riau maka pengunjung juga dapat mempelajari seluruh daerah di dalam wilayah provinsi ini satu persatu dengan seksama. Berikut sedikit uraian tentang semua daerah yang berhasil dihimpun tim liputan khusus cendananews :
1. Kota Batam (Pulau Kalajengking) adalah tempat yang pertama kali dihuni oleh suku Laut. Kegigihan Laksamana Hang Nadim dalam melawan penjajah turut ditorehkan dalam tinta emas. Basis logistik minyak bumi Republik Indonesia (RI) berada di pulau Sambu, kota Batam. Dalam tempo 25 tahun, kota Batam berubah menjadi kota Metropolis sebagai ujung tombak investasi dan pintu utama wisatawan yang berkunjung ke provinsi Kepulauan Riau. Batam juga dikenal sebagai ” Singapura kedua ” karena menjadi sentra destinasi belanja para penggila belanja tanah air. Beberapa obyek wisata di Kota Batam antara lain : Pantai Melur, Camp Vietnam Pulau Galang, Jembatan Barelang, dan lain-lain.
2. Kabupaten kepulauan Anambas merupakan wilayah Kepulauan Riau yang sedang mengembangkan obyek wisatanya di wisata sejarah dan spiritual seperti : Masjid Tarempa, Vihara Gunung Dewa Siantan, serta Makam Keramat Siantan. Selain itu, kabupaten kepulauan Anambas juga mengembangkan wisata bahari seperti Pulau Kelong dan Pulau Batu Alam di Palmatak, Pulau Penjali dan Pulau Punjong di Tarempa, Pulau Durai dan Pulau bawah di Jemaja. Kepulauan Anambas juga dikenal sebagai surga wisata bawah laut seperti snorkeling dan diving dengan kekayaan terumbu karang pecahan dari Natuna, serta ribuan spesies ikan termasuk jenis langka yakni Ikan Napoleon dan Ikan Hiu Tutul.
3. Kabupaten Natuna (disebut juga Mutiara dari Utara) adalah salah satu yang mewakili eksotisme wilayah Kepulauan Riau karena memiliki rangkaian ratusan pulau bagai untaian mutiara. Gugusan daerah batuan granit berkarakter alur vertikal semakin menambah pesona Natuna sebagai wisata bahari yang bisa menyaingi Bunaken di Sulawesi Utara. Di Natuna juga terdapat hewan jenis primata langka yakni monyet bernama monyet Kekah yang hanya dapat dijumpai di Pulau Bunguran, Natuna, Kepulauan Riau.
4. Kabupaten Karimun adalah wilayah yang berada di jalur sibuk perdagangan, yaitu Selat Malaka. Wilayah ini memiliki berbagai macam tradisi adat istiadat khas Karimun yang otomatis semakin menambah khasanah budaya Kepulauan Riau di mata para wisatawan. Karimun menawarkan budaya lomba Sampan Layar dan Jong, festival Rebana, mandi Syafar, Tari Barongsai, serta pusara peristirahatan terakhir seorang hulubalang Kerajaan Riau-Lingga yaitu Makam Sibadang disertai Telapak kaki Sibadang yang membekas di atas batu.
5. Kabupaten Bintan sering disebut orang sebagai ” titisan pulau bali ” dikarenakan potensi wisata-wisata nyaman berskala internasional yang di tawarkannya berkelas sama dengan Pulau Bali. kawasan Lagoi Bintan, Pulau Nikoi, Bintan Agro Resort, dan kawasan wisata lainnya siap memanjakan wisatawan yang mengunjungi Kepulauan riau.
6. Kota Tanjungpinang sebagai Ibukota provinsi Kepulauan Riau juga memiliki sejarah yang cukup panjang. Berawal pada abad XVI, Tanjungpinang adalah kerajaan Melayu dengan Ibukota berkedudukan di pulau Penyengat. Namun seiring perjalanan waktu, maka kini adalah saat dimana kota berjulukan “Kota Lama” tersebut membenahi diri untuk maju selangkah demi selangkah demi meretas jalan untuk berdiri sejajar dengan kota-kota lainnya di Indonesia.
Bukti-bukti Kebesaran masa Kerajaan Riau-Lingga dapat ditemukan di Tanjungpinang, salah satunya adalah Masjid Sultan Riau Penyengat, yang dibangun pada tanggal 1 syawal 1249 Hijriyah atau tahun 1832 Masehi atas prakarsa Yang Dipertuan Muda Riau VII, Raja Abdulrahman. Ada cerita menarik dibalik pembangunan Masjid tersebut, yaitu Masjid Sultan Riau Penyengat ternyata dibangun dengan menggunakan cairan putih telur disamping campuran pasir, tanah liat, dan kapur. Hutan mangrove yang masih tertata rapih sejak zaman dahulu kala di Tanjungpinang juga dapat dinikmati setiap pelancong yang masuk ke kota Tanjungpinang hingga saat ini.
Kuliner masyarakat Kepulauan Riau adalah makanan sekaligus minuman yang sederhana dan santai khas melayu seperti Teh Obeng (sejenis Es Teh Manis), Kopi O (sejenis kopi hitam nan manis), Teh Tarik (teh racikan para pendatang dari india yang merupakan teh dicampur susu kental manis dengan dituangkan satu gelas ke gelas lainnya sebelum dihidangkan, atau istilahnya : ditarik), Laksa (sejenis mie yang dicampur bumbu melayu dan tionghoa), serta Sup Ikan tenggiri dan ikan merah yang dipadu perasan jeruk segar serta sambal kecap nan pedas manis.
Ada kemiripan adat istiadat serta budaya antara provinsi Riau dengan provinsi Kepulauan Riau, namun mereka sekarang terpisah dan harus menjalani titian kehidupan masing-masing. Akan tetapi satu yang pasti adalah, mereka sama-sama memiliki akar budaya santun nan eksotis, yaitu budaya melayu khas Riau.
| Duplikat Keris Emas Sultan Sulaiman Barul Alamsyah Kerajaan Riau-Lingga 1867 |
Tidak ada satupun masyarakat riau yang bisa menyangkal bahwa Riau dan Kepulauan Riau adalah satu rumpun, begitu pula sebaliknya. Dengan demikian, maka kedepannya kedua provinsi tersebut dapat saling bahu membahu membangun daerahnya dengan satu persepsi, yakni : membangun sambil mempertahankan budaya leluhur mereka berdua yang berasal dari satu pohon yang sama. Dan merupakan sebuah kebanggan mengetahui bahwa asal mula rumpun bangsa melayu berikut khasanah budaya mereka berasal dari Tanah Indonesia, yakni Kepulauan Riau.