Melihat Lebih Dekat Pelabuhan Sunda Kelapa 1527

KAMIS, 7 APRIL 2016
Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : ME. Bijo Dirajo /  Sumber Foto: Miechell Koagouw

JAKARTA — Panglima Fatahillah bersama pasukan gabungan Demak dan Cirebon merebut Pelabuhan Sunda Kelapa dari tangan Kerajaan Sunda dukungan Kolonial Portugis. Tepat tanggal 22 Juni 1527, pelabuhan Sunda Kelapa sudah dikuasai sepenuhnya oleh Panglima Fatahillah beserta pasukannya. Empat ratus empat puluh tiga (443) tahun kemudian, tepatnya tahun 1970, di era Kepemimpinan Presiden Soeharto, ketika Jakarta di pimpin oleh Gubernur Ali Sadikin, maka tanggal 22 Juni ditahbiskan sebagai hari jadi Kota Jakarta.
?Suasana kapal-kapal kayu yang sandar teratur dengan sistem susun sirih
Menurut penelusuran orang-orang Portugis dahulu kala, pelabuhan Sunda Kelapa awalnya berupa irisan-irisan tanah sempit di kedua tepi muara sungai ciliwung. Perairannya tidak terlalu dalam, dan hanya dapat dimasuki maksimal sepuluh kapal berukuran sedang. Namun sesuai catatan sejarah, pelabuhan Sunda Kelapa yang pada masa awalnya bernama pelabuhan Batavia mulai dibangun kembali oleh pemerintah Hindia-Belanda dengan kanal sepanjang 810 meter. Berlanjut tahun 1817, pemerintah Belanda memperbesar kanal tersebut menjadi 1.825 meter. Namun karena pembangunan pemukiman yang dilakukan kala itu, maka lahan pelabuhan menjadi semakin sempit diikuti pendangkalan kedalaman air. Berdasarkan keadaan dilapangan, ditambah pembukaan Terusan Suez tahun 1869, akhirnya Belanda membangun pelabuhan besar untuk menggantikan fungsi pelabuhan Sunda Kelapa, yakni pelabuhan yang sekarang dikenal dengan nama Pelabuhan Tanjung Priok.
Setelah mengalami mati suri yang cukup panjang, pasca kemerdekaan kembali dilakukan rehabilitasi terhadap pelabuhan Sunda Kelapa sehingga pelabuhan ini memiliki kanal sepanjang 3.250 meter agar dapat dimasuki 70 perahu layar dengan sistem susun sirih. Pembangunan terus berlanjut di era pemerintahan Presiden kedua Republik Indonesia HM.Soeharto, pelabuhan Sunda Kelapa semakin disempurnakan yang didahului dengan peresmian penggunaan nama Sunda Kelapa sebagai nama pelabuhan oleh Gubernur Ali Sadikin pada tanggal 6 Maret 1974 melalui Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta No.D.IV a.4/3/74. Hal ini dilakukan mengingat nilai sejarah pelabuhan Sunda Kelapa yang kedepannya diharapkan menjadi daya tarik wisata bagi kota Jakarta.
Cendananews mengunjungi pelabuhan Sunda Kelapa yang saat ini namanya sudah berubah menjadi Pelabuhan Sunda Kelapa 1527. Angka 1527 itu sendiri menandakan tahun kemenangan Panglima Fatahillah merebut pelabuhan Sunda Kelapa dari tangan Portugis dan Kerajaan Sunda. Pelabuhan yang sekarang memiliki luas daratan 760 hektar serta luas perairan kolam 16.470 hektar ini dikelola oleh PT.Pelabuhan Indonesia II atau disingkat Pelindo II. Pelabuhan Sunda Kelapa 1527 hanya dapat dimasuki oleh kapal kayu berbentuk perahu layar Bugis dengan penataan letak kapal secara susun sirih (berjajar miring). Pelabuhan Sunda Kelapa 1527 hanya melayani jasa pelayanan kapal antar pulau di Indonesia saja sehingga tidak memiliki sertifikat Keamanan Kapal dan Pelabuhan Internasional atau International Ship and Port Security. 
Sihombing, seorang staff senior bagian Informasi Publik dan Pariwisata pelabuhan Sunda Kelapa 1527 yang sudah bekerja sejak tahun 1975 mengatakan, penyebab hanya kapal kayu saja yang bisa sandar di pelabuhan Sunda Kelapa 1527 adalah selain dikarena memiliki perairan dangkal dan sempit, juga sebagai wujud pelestarian pelabuhan sebagai salah satu cagar budaya bahari Indonesia.
“Uniknya, pelabuhan Sunda Kelapa 1527 hingga saat ini merupakan cagar budaya kunjungan wisata bahari Pemprov DKI Jakarta yang juga aktif melayani kebutuhan antar-kirim barang antar pulau bagi masyarakat Indonesia,” lanjut Sihombing kepada Cendana News.
“Dalam hal kegiatan bongkar muat, pelabuhan ini tidak kalah dengan pelabuhan kapal modern tonase besar lainnya termasuk yang berada di pintu II kawasan pelabuhan Sunda Kelapa 1527 ini sendiri,” sambungnya lagi.
?Pelabuhan Sunda Kelapa 1527
Salah satu kapal yang aktif sandar di pelabuhan Sunda Kelapa 1527 adalah KLM Sumber Rejeki. Kapal tersebut melayani jasa antar-kirim sekaligus bongkar muat barang dengan jalur Jakarta-Belitung PP (Pulang-Pergi). Kapal yang dinahkodai Samiaji ini sudah sekitar empat tahun melakukan pengiriman berbagai barang antara lain sembako, tepung kaolin, galon air mineral, serta barang kelontong antara pelabuhan Sunda Kelapa 1527 Jakarta ke pelabuhan Tanjung Pandan Belitung. Waktu tempuh normal selama tiga hari, ditambah proses bongkar muat kurang lebih empat hari, maka secara akumulasi proses pengiriman barang dari Sunda Kelapa ke Tanjung Pandan memakan waktu normal selama kurang lebih tujuh hari atau satu minggu.
“Akan tetapi jika cuaca buruk maka waktu tempuh kami bisa sampai lima hari karena kami harus singgah di pulau kecil untuk berteduh. Setelah cuaca kelihatan memungkinkan barulah kami melanjutkan pelayaran. Hal ini demi keamanan awak kapal berikut barang-barang yang kami bawa,” jelas Samiaji.
Kapal kayu berbentuk kapal layar Bugis yang hilir mudik sandar di pelabuhan Sunda Kelapa 1527 adalah kapal berbahan kayu ulin atau kayu besi asli pulau Kalimantan. Kayu besi itu sendiri memiliki ciri khas akan semakin kuat dan kokoh jika terkena air. 
Nurdin, nahkoda kapal bernama Citra Bangsa mengatakan bahwa ia dan awak kapal harus menyirami tiang-tiang berikut badan kapal yang tidak terkena air sebanyak lebih kurang 50 kali sehari.
“Sesuai karakter kayu ulin atau kayu besi maka hal itu wajib dilakukan. Jika tidak, maka kayu akan kering dan pecah. Hal itu sangat berbahaya bagi kami semua di tengah lautan,” papar Nurdin.
Untuk bahan bakar, maka kapal layar Bugis menggunakan bahan bakar jenis solar. Asupan bahan bakar kapal berkisar 40 drum dimana satu drum berisi 200 liter solar. Dengan demikian, jika diakumulasikan maka total kebutuhan kapal untuk satu kali perjalanan adalah sekitar 8.000 liter solar.
“Kapal Citra Bangsa memiliki jalur pelayaran rutin Jakarta-Kumai-Pontianak. Dan biasanya kebutuhan kami bisa lebih dari 40 drum solar. Terkadang kami mengisi 45 drum solar sebagai antisipasi kehabisan bahan bakar ditengah laut. Jadi jika total pengisian bahan bakar kami adalah 9.000 liter,” pungkas Nurdin.
Untuk kebutuhan memasak, minum, mandi, serta kebutuhan rutin lainnya seperti mencuci pakaian dan mencuci piring, maka kapal-kapal layar di pelabuhan Sunda Kelapa 1527 menerima pasokan air bersih dari rekanan berbentuk Koperasi pengadaan air bersih yang dikelola oleh pria bernama Muhammad. Ia bekerja sama dengan Pelindo II selaku pengelola pelabuhan Sunda Kelapa 1527. 
Menurut Muhammad, proses pengadaan air bersih bagi kapal yang sandar di pelabuhan Sunda Kelapa 1527 sudah dijalaninya turun temurun sejak mendiang ayahnya masih hidup. Ia biasa memasok dua ton air bersih per hari. 
“Normalnya setiap kapal melakukan pemesanan sebanyak 10 drum air bersih dimana 1 drum berisi 200 liter air. Jadi total kebutuhan normal air bersih tiap kapal adalah 2000 liter,” jelas Muhammad kepada Cendananews.
“Selain pengadaan air bersih, kami juga melayani jasa perawatan dan perbaikan kapal,” imbuhnya.
Layaknya tempat-tempat bersejarah atau cagar budaya lainnya, maka pelabuhan Sunda Kelapa 1527 tidak luput dari ancaman kepunahan. Maksudnya adalah kepunahan dalam konteks keunikan serta ciri khas sebagai pelabuhan tua dengan kapal-kapal kayu tradisional yang hilir mudik setiap hari atau setiap minggunya. Ancaman kehilangan identitas keunikan tradisional dari pelabuhan Sunda Kelapa 1527 dipicu oleh wacana Pemprov DKI Jakarta sejak tahun 2014 untuk melakukan revitalisasi menyeluruh.
Hal tersebut turut menimbulkan sedikit kekhawatiran di kalangan wisatawan mancanegara yang berkunjung di pelabuhan Sunda Kelapa 1527. Sebut saja Gerald, seorang pria paruh baya asal Belanda yang kerap mengunjungi pelabuhan Sunda Kelapa 1527 bersama rekan-rekannya dari Eropa.
“Membaca sekaligus mengikuti berita di internet, terus terang kekhawatiran itu ada, akan tetapi hal itu bukannya tanpa alasan, saya melihat pelabuhan tradisional seperti Sunda Kelapa 1527 hanya ada di Indonesia. Bahkan kami memiliki kesulitan untuk menemukan pelabuhan seperti ini di Eropa,” ungkap Gerald kepada Cendananews.
Dari awal hingga akhir kunjungan Cendana News ke pelabuhan Sunda Kelapa 1527 memberikan sebuah kesan mendalam. Pertama, ada sensasi dimana pengunjung seolah merasakan atau ikut masuk kedalam suasana kesibukan pelabuhan Sunda Kelapa zaman dahulu serta kekaguman bahwa pelabuhan Sunda Kelapa 1527 merupakan salah satu urat nadi ekonomi nusantara. Kedua, kekaguman bahwa selain memiliki nilai sejarah tinggi, pelabuhan Sunda Kelapa 1527 dapat memberikan sisi lain terkait kehidupan, kegiatan, sekaligus kebutuhan operasional kapal-kapal yang hilir mudik mengangkut barang. Ketiga, terharu bahwa orang luar negeri bisa menunjukkan kepedulian besar akan kelestarian pelabuhan Sunda Kelapa 1527.
Suasana muat barang di KLM Sumber Rejeki yang melayani jasa angkutan barang Sunda Kelapa – Tanjung Pandan
Harapan kedepannya, pemerintah Republik Indonesia (RI) dalam hal ini Pemprov DKI Jakarta bisa lebih berhati-hati jika masih berkeinginan melakukan revitalisasi lanjutan secara menyeluruh terhadap pelabuhan Sunda Kelapa 1527. 
Lihat juga...