SABTU, 9 APRIL 2016
Jurnalis : Eko Sulestyono / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Eko Sulestyono
JAKARTA — Untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan khususnya bagi para pejalan kaki yang akan menyeberang jalan, Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta selama ini telah banyak membangun berbagai macam fasilitas Jembatan Penyeberangan Orang (JPO). Fungsi utamanya adalah meminimalkan risiko khususnya bagi para perjalanan kaki agar tidak tertabrak oleh kendaraan bermotor yang sedang melintas di jalan raya.
Mungkin bila dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Indonesia, jumlah JPO di wilayah Ibukota Jakarta paling banyak, bisa dikatakan hampir di semua Halte Trans Jakarta yang ada di Jakarta 90 persen telah dilengkapi dengan JPO. Sengaja dibangun pada setiap Halte Trans Jakarta agar mobilitas lalu lalang penumpang yang naik turun dari Bus Trans Jakarta nyaman dan aman, serta tidak mengakibatkan kemacetan arus lalu lintas kendaraan bermotor.
Namun beberapa tahun belakangan ini tampaknya warga masyarakat khususnya yang tinggal di Ibukota perlahan-lahan tapi pasti mulai meninggalkan JPO, mereka tampaknya enggan menggunakan untuk menyeberang, kecuali hanya dalam keadaan terpaksa atau darurat saja. Kebanyakan mereka memilih menyeberang langsung lewat jalan raya daripada harus bersusah payah naik turun JPO yang Rata-rata sangat tinggi, berliku dan memerlukan waktu lebih lama untuk sampai di seberang jalan.
Pantauan Cendana News di sebuah JPO yang ada di Halte Trans Jakarta Budi Utomo, Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, Sabtu (9/4/2016) siang ini tampak terlihat sepi dan lengang. Banyak calon penumpang yang akan naik Bus Trans Jakarta ke arah Ancol maupun ke Terminal Kampung Melayu lebih banyak memilih lewat bawah menyeberang langsung tanpa melalui JPO. Kebanyakan biasanya yang lewat bawah adalah warga setempat, sedangkan warga yang tidak tinggal di situ biasanya tetap memilih menyeberang lewat JPO.
“Salah satu alasan mengapa kebanyakan orang malas menyeberang melalui JPO karena tangganya terlalu banyak, terjal dan berliku, sehingga tidak mudah untuk diakses oleh orang tua lanjut usia, orang dengan berkebutuhan khusus seperti penyandang cacat fisik (Difabel) dan anak-anak” demikian kata Hasna, seorang perempuan yang sedang melintasi JPO Budi Utomo kepada Cendana News, Sabtu April 2016.
JPO yang ada di Jakarta ini kebanyakan kotor dan kumuh, karena dipakai pedagang untuk berjualan seenaknya di atas JPO yang seharusnya steril hanya khusus untuk pejalan kaki dan tidak digunakan sebagai tempat untuk menjajakan berbagai jenis barang dagangan.
“Bahkan kalau di malam hari, banyak gelandangan atau tuna wisma yang tidur di atas JPO, belum lagi kadang-kadang ada preman atau pencopet yang lalu lalang di atas JPO, itu khan berbahaya bila tidak segera ditertibkan” terang Rusmiati, warga lainnya saat ditemui Cendana News di Halte Budi Utomo.