MINGGU, 10 APRIL 2016
Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo/ Sumber Foto: Henk Widi
LAMPUNG — Perkembangan tekhnologi dengan maraknya berbagai jenis merk televisi dan banyaknya pilihan bagi konsumen untuk membeli model baru tak menyurutkan usaha yang dimiliki oleh Budiman(49) warga Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan untuk terus membuka usaha perbaikan. Usaha reparasi televisi serta beberapa alat elektronik yang ditekuninya bahkan mampu menjadi mata pencaharian bagi laki laki yang memiliki empat orang anak tersebut.
![]() |
| Reparasi Televisi |
Budi, demikian ia dipanggil oleh warga, menjadi solusi terakhir saat warga pedesaan yang masih menggantungkan hiburan dari siaran televisi. Kerusakan televisi yang ditangani oleh Budi pun beragam, mulai dari layar yang tak memunculkan gambar, muncul garis mendatar dan vertikal, tidak bisa dihidupkan serta berbagai jenis kerusakan lainnya.
Sebagian warga yang membawa televisi yang rusak untuk diperbaiki memilih membawa ke tempat Budi karena biaya yang relatif terjangkau dibanding jika harus membeli baru yang harganya lumayan mahal.
Menempati rumah sederhana semi permanen dari papan dan batu bata, tempat reparasi yang menjadi bengkel baginya bukanlah sebuah toko,atau bangunan dengan plang penanda tempat reparasi. Tak ada plang atau penanda bahwa rumah sederhana tersebut merupakan sebuah tempat reparasi melainkan hanya beberapa kursi dan meja kayu yang juga menjadi bengkel . Kepercayaan dan hasil memuaskan dari pelanggan yang menyebar dari mulut ke mulut menjadi sebuah promosi efektif sehingga puluhan pelanggan berdatangan meminta dirinya memperbaiki televisi yang bermasalah.
“Saya terkadang harus lembur karena dalam sehari ada belasan televisi yang harus saya perbaiki dengan tingkat kerusakan beragam dan tentunya kondisi listrik yang kadang di tempat ini sering padam,”ungkapnya saat ditemui Cendana News di rumahnya, Minggu (11/4/2016).
Puluhan televisi rusak berbagai jenis mulai dari televisi berlayar cembung dan layar datar yang sebagian belum diperbaiki menunggu antrian berjajar di depan rumahnya menyatu dengan peralatan elektronik, kabel kabel serta bagian bagian peralatan televisi yang akan direparasi. Sebagian bahkan sudah selesai diperbaiki meski belum diambil pemilik.
Kerusakan televisi berbagai jenis dan merk tersebut menurut Budi sebagian bisa diperbaiki dengan cepat dalam kurun waktu kurang dari 24 jam, sementara sebagian diperbaiki dengan membutuhkan waktu berhari-hari. Lamanya perbaikan biasanya terjadi karena kerusakan bagian peralatan di dalam televisi harus mencari spare part di ibukota kabupaten yang jauhnya puluhan kilometer.
“Saya tinggal di desa sementara terkadang onderdil atau bagian yang rusak harus dibeli dulu di kota dan tak ada yang menggantikan saya mereparasi jadi saya yang harus berangkat”ungkapnya.
Suka duka sebagai tukang reparasi televisi diakuinya sudah mulai dijalani sejak dua puluh tahun lebih. Pesanan perbaikan yang cukup banyak diakuinya merupakan sebuah sumber pemasukan untuk menghidupi keluarga sebab dirinya tak memiliki lahan pertanian untuk menanam padi dan sang isteri membantunya dengan menjadi penjual kue di pasar.
“Keahlian yang saya peroleh ini memang menjadi mata pencaharian saya dan alhamdulilah masih banyak warga percaya menggunakan keahlian saya khusus untuk memperbaiki televisi”ungkapnya.
Ia pun masih sempat membantu mengantar sang isteri berjualan di pasar saat pagi hari dan mulai meneruskan memperbaiki televisi pesanan yang menjadi tanggungjawabnya. Perbaikan dilakukan menggunakan beberapa alat diantaranya solder, berbagai alat perbaikan televisi lainnya yang telah siap di bengkelnya.
Ia mengaku memperoleh upah dari jasa perbaikan televisi rusak berdasarkan tingkat kerusakan televisi yang dibawa pelanggan. Berkisar dari hanya Rp.75 ribu hingga Rp.350ribu. Tak heran dalam sepekan dari belasan televisi yang berhasil diperbaiki dengan tarif Rp100ribu hingga Rp200ribu, ia berhasil mengumpulkan ratusan ribu hingga jutaan rupiah untuk ditabung.
Sementara itu hingga kini sebagian besar pelanggan mengaku puas dengan perbaikan yang Budi lakukan.
“Kalau ada kerusakan baru sepanjang masih menjadi tanggungjawab saya televisi yang rusak masih bisa dibawa kembali ke sini untuk diperbaiki kembali, tapi jarang terjadi karena sebagian sudah selesai dan bisa digunakan,”terangnya.
Meski usaha jasa perbaikan televisi yang ditekuninya tak memiliki banyak saingan, ia pun tak mematok tarif cukup tinggi berdasarkan jenis televisi yang diperbaiki, sebab jenis televisi model lama akan lebih murah sementara jenis televisi model baru akan lebih mahal sesuai dengan tingkat kerusakan.
“Hal terpenting saya masih bisa membantu warga yang butuh hiburan dari siaran televisi sebab kalau tidak diperbaiki mereka juga tak mampu beli televisi baru,”ungkapnya.

Budi mengaku saat ini dari hasil reparasi televisi ia menabung sebagian uangnya untuk modal, membeli peralatan reparasi, membayar listrik, tabungan untuk menyiapkan tempat baru. Sebab selain lokasi yang saat ini digunakan masih terbatas, lahan yang dimilikinya akan tergusur untuk proyek pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) dan ia harus mencari lahan baru untuk tempat tinggal. Ia pun mengaku usaha wiraswasta yang kini ditekuni masih bermodalkan uang sendiri dan belum ada bantuan dari pihak manapun.