SENIN, 18 APRIL 2016
Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Miechell Koagouw
JAKARTA — Daerah Palopo di Sulawesi, Ambon, sampai Papua mengenal baik Sagu sebagai bahan baku makanan pokok tradisional. Bahkan seluruh masyarakat di daerah-daerah tersebut menjadikan sagu sebagai bahan baku mengembangkan kuliner-kuliner tradisional ciri khas masing-masing daerah.
![]() |
| Juliana Wambrau sedang menjelaskan Tepung gandum kreasi kabupaten Supiori Provinsi Papua |
Kabupaten Supiori dari Provinsi Papua datang mengikuti Festival Kuliner Nusantara 2016 di Jakarta dengan membawa inovasi atau kreasi mereka berupa bahan makanan olahan tradisonal dari gandum (atau dalam bahasa papua disebut pokem) dan buah pohon mangrove atau pohon bakau (dalam bahasa papua disebut aibot).
Juliana Wambrau, penanggungjawab booth kuliner Papua dari kabupaten Supiori mengatakan, pengembangan tanaman gandum di provinsi Papua hanya ada di dua kabupaten provinsi, yaitu kabupaten Supiori dan Biak Numfor. Suku Biak yang berdiam di dua kabupaten tersebut sudah mulai mengkonsumsi gandum selain sagu sebagai makanan pokok. Beragam kuliner siap saji yang dapat diolah dari gandum adalah bubur tim dan nasi wajik. Selain itu, dalam perkembangannya hingga saat ini di Papua, gandum sudah mulai diolah menjadi tepung kue.
” Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga sangat merekomendasikan gandum karena memiliki nilai gizi tinggi untuk anak-anak dan orang lanjut usia,” tandasnya.
Disamping gandum, kabupaten Supiori juga turut mengembangkan kreasi menggunakan buah pohon mangrove. Dari buah pohon mangrove, dihasilkan Tepung Brugueira Mangrove yang menjadi bahan baku membuat kue seperti bolu kukus tradisional sampai chocolate cake dan black forest. Bahkan ada anggota masyarakat yang mengolah tepung Brugueira menjadi nasi tim untuk dimakan sehari-hari.
“Selain itu, sari atau ampas dari buah pohon mangrove dapat juga diolah menjadi produk kecantikan berupa cream lulur kulit. Dan saat ini banyak wanita papua sudah mulai menggunakannya terutama di kabupaten Supiori,” terang Juliana lagi.
Pengembangan tanaman gandum menjadi salah satu andalan kabupaten Supiori untuk mempertahankan kedaulatan pangan dalam negeri khususnya provinsi Papua. Masyarakat Papua tidak hanya kaya akan bahan tambang, akan tetapi setiap jengkal tanah dan yang ada diatasnya dapat diolah selama ada perhatian khusus dari pemerintah pusat bersinergi dengan pemerintah daerah.
Juliana sangat berharap program seperti FKN 2016 bisa diselenggarakan bukan hanya sekali dalam setahun. Hendaknya acara serupa bisa dikembangkan menjadi tiga kali dalam setahun.
“Pertimbangannya begini, perkembangan informasi dan teknologi pengolahan bahan makanan dari bahan baku tertentu terus berkembang setiap bulan. Penting bagi masyarakat luas untuk mengetahui semua informasi tersebut agar terbentuk sebuah persepsi utuh bahwa Indonesia sebenarnya kaya akan inovasi kuliner. Hal ini dapat berujung pada penegakan kedaulatan pangan negara kedepannya,” lanjut Juliana.
Untuk target pencapaian yang diinginkan Kementerian Pariwisata RI terkait acara FKN 2016, Juliana melihatnya dari sisi yang berbeda. Menurutnya, bukan berapa besar sebuah booth kuliner dapat menghasilkan pemasukan akan tetapi bagaimana tiap provinsi yang tampil dalam acara tersebut memberikan informasi yang jelas bagi masyarakat bahwa inilah kuliner Indonesia, inilah kreasi anak bangsa, inilah salah satu kekayaan Indonesia yang tidak kalah dengan negara atau bangsa lainnya.
“Semua sudah tahu bahwa Papua seringkali tertinggal dari segi teknologi dan pengembangan sektor-sektor pembangunan lainnya. Dan disini kami datang untuk menjadi saksi bahwa Papua terus berbenah. Masyarakatnya bahu-mambahu mempertahankan hidup yang akhirnya membuahkan inovasi-inovasi menarik dari sisi kuliner,” tambah Juliana lagi.
“Tetapi terkait target, kami menjamin bisa memenuhi harapan Kemenpar,” pungkasnya.