SENIN, 18 APRIL 2016
Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Miechell Koagouw
JAKARTA — Masyarakat jangan berprasangka jika menemukan kuliner dengan nama yang terkesan ada kaitannya dengan Miras (minuman keras), contohnya Beer Jawa dan ‘Bir Pletok’. Dalam ulasan sebelumnya terkait event Festival Kuliner Nusantara 2016, Beer Jawa adalah minuman tradisional khas kesultanan Yogyakarta yang merupakan cara Sri Sultan Hamengkubuwono VIII mengakali keinginan tamu-tamu kolonial Belanda kala itu untuk meminta suguhan Bir (minuman beralkohol). Sedangkan Bir Pletok itu kurang lebih sama dengan Beer Jawa, namun berasal dari Provinsi DKI Jakarta.
![]() |
| Ketua Sanggar Kuliner Betawi, Indra MT.H.Mahfudz |
Sanggar Kuliner Betawi yang berkedudukan di Jalan Mampang Prapatan XV B (Buncit 11) Jakarta Selatan adalah perwakilan Provinsi DKI Jakarta dalam ajang Festival Kuliner Nusantara 2016 di Jakarta yang sudah berakhir pada 16 April 2016. Booth kuliner DKI Jakarta mengangkat makanan tradisional khas Betawi seperti Kerak telor, Es Selendang mayang, Toge goreng, dan minuman Bir Pletok.
Tampil dengan ciri khas kesenian ondel-ondel, booth kuliner DKI Jakarta mendapat sambutan menarik dari masyarakat terkait minuman bernama Bir Pletok. Sudah bukan rahasia lagi untuk komunitas-komunitas tertentu, ‘pletok’ adalah minuman beralkohol oplosan atau campuran dari minuman beralkohol dan minuman sari buah kemasan (biasanya rasa jeruk).
Namun sebenarnya Bir Pletok adalah minuman segar tradisional dari rempah-rempah nusantara yang dibuat oleh masyarakat Betawi sebagai minuman kesehatan dan penghangat tubuh. Terpeleset cukup jauh memang, akan tetapi belum terlambat untuk diperbaiki. Bir Pletok berasal dari kata bi’run yang artinya abyar atau sumber mata air. Sedangkan kata Pletok itu adalah istilah bahasa Betawi untuk rebusan air mendidih yang menimbulkan bunyi seolah ‘mengelotok’. Akhirnya jadilah nama Bir Pletok.
Jaman dahulu, orang-orang Belanda di Batavia seringkali mengajak masyarakat lokal untuk minum Bir sampai mabuk. Melihat keadaan tersebut, kaum ulama dan tokoh masyarakat melakukan inovasi yang berujung lahirnya minuman Bir Pletok di kalangan masyarakat Betawi. Tujuan inovasi tersebut adalah agar tidak ada lagi masyarakat Betawi yang ikut mabuk-mabukan dengan orang-orang Belanda.
Pembina Sanggar Kuliner Betawi, Indra MT.H.Mahfudz menjelaskan, Bir Pletok khas Betawi dibuat dari bahan rempah-rempah jahe, kayumanis, lada hitam, kapulaga, sereh, daun jeruk, cengkeh, pandan, gula, dan kayu secang. Cara pembuatannya adalah, pisahkan terlebih dahulu kayu secang dan gula, masukkan sekaligus seluruh bahan rempah-rempah untuk direbus hingga mendidih. Setelah mendidih, masukkan kayu secang yang berfungsi memberikan warna merah kepada air rebusan rempah-rempah tersebut.
” Jangan terlalu lama memasukkan kayu secang agar air tidak menjadi hitam. Setelah air berwarna merah, angkat semua rempah-rempah berikut kayu secang lalu masukkan gula putih untuk memberi sensasi rasa manis,” lanjut Indra.
Pada jaman dahulu kala, saat belum ada teknologi membuat gula pasir, maka masyarakat menggunakan irisan pohon tebu sebagai pemanis. Bir Pletok Betawi aslinya sangat nikmat jika disajikan hangat. Namun seiring perkembangan selera masyarakat modern, lambat laun Bir Secang banyak disajikan dengan es batu untuk menambah segar jika diminum siang hari.
Seorang pengunjung bernama Hendri Winata mengatakan baru mengetahui bahwa Bir Pletok itu ternyata minuman tradisional masyarakat Betawi. Dan ketika mencicipinya, ia menyukai aroma manis bercampur sensasi jahe yang hangat ditubuh.
” Saya kan taunya Bir Pletok itu minuman keras oplosan beralkohol. Tapi ternyata sejarah Bir di Indonesia berbeda dengan sejarah Bir di luar negeri. Dan menurut saya, Bir Pletok Betawi memiliki dua sensasi, yaitu sensasi menghangatkan tubuh dan sensasi menyegarkan jika dicampur es batu,” kata Hendri kepada Cendana News.
Pelaksanaan Festival Kuliner Nusantara 2016 di Jakarta ternyata banyak membuka wawasan kuliner nusantara bagi masyarakat. Di era digital dan penelusuran internet yang sedemikian rupa saat ini masih saja ada informasi yang tidak sampai dengan utuh kepada masyarakat, contohnya Bir Pletok minuman segar menyehatkan kreasi rakyat Betawi sejak dahulu kala untuk diwariskan kepada seluruh rakyat Indonesia khususnya masyarakat DKI Jakarta sekarang ini.