LAMPUNG — Masa panen jagung dan singkong di sejumlah kecamatan di Kabupaten Lampung Selatan menjadi berkah bagi kaum perempuan pengrajin makanan tradisional. Diantaranya yakni Misniati (62) dan Sumini (27), warga Desa Tanjungsari Kecamatan Palas yang menekuni pembuatan kerajinan emping jagung, marning jagung, keripik singkong, opak singkong.
Pipil jagung yang dijemur
Misniati mengaku memulai usaha memanfaatkan potensi pertanian jagung dan singkong setelah melihat usaha sang suami sebagai pembuat batu bata lesu pembeli. Sebagai seorang isteri, ia akhirnya melakukan upaya untuk menyokong ekonomi keuarga dengan cara mencari usaha sampingan. Dimulai bersama anaknya, Sumini dengan membuat jagung goreng yang sudah diolah sedemikian rupa menjadi marning yang renyah dan gurih dengan bahan dasar jagung dengan produksi awal sebanyak 30 kilogram.
“Kalau hanya diam, kaum perempuan seperti saya tidak bisa mendapat uang apalagi saya tidak cekatan kalau disuruh bertani dan lahan pertanian juga tidak punya. Hanya mengandalkan suami menjadi pembuat batu bata,”ungkap Misniati saat menjemur jagung yang akan diolah di depan rumahnya, Kamis (28/4/2016).
Kepada Cendana News ia menyebutkan, proses pembuatan makanan tradisional dengan cara manual. Dimulai dari pembelian bahan baku dari petani jagung, petani singkong. Pembelian jagung dari petani rata-rata sebanyak 1 kuintal yang akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan marning dan emping jagung. Sementara untuk singkong yang akan digunakan untuk pembuatan keripik dan olahan singkong lain dibeli dengan sistem karungan.
Satu kilogram jagung dibelinya dari petani yang memipil jagung secara manual seharga Rp3.200 perkilogram, sementara singkong dibelinya dengan harga Rp30ribu perkarung.
“Saya sengaja membeli jagung yang dipanen dan dipipil sendiri oleh petani karena kalau digiling, presentase jagung yang remuk lebih tinggi dan tak bagus untuk dibuat marning atau emping,”sebutnya.
Setelah jagung dibeli dari petani, proses pengolahan selanjutnya jagung tersebut direbus dengan menggunakan kayu bakar hingga jagung mengembang. Sekali perebusan rata rata perempuan asal Jawa Tengah yang merantau ke Lampung tersebut merebus sebanyak 30 kilogram jagung. Setelah direbus jagung jagung tersebut dijemur dalam terik matahari sampai kering selama kurun waktu sehari dalam para para yang disiapkan di halaman rumah.
Setelah kering, jagung yang sudah dijemur selanjutnya akan digoreng. Selama proses pengeringan jagung tersebut, ia dan sang anak mulai melakukan pengupasan dan pemotongan singkong yang juga akan digunakan sebagai bahan pembuatan keripik singkong sehingga saat proses penggorengan berlangsung ia bisa melakukan penggorengan keripik dan marning dalam waktu bersamaan.
“Kita lakukan hanya berdua dan agar lebih cepat maka kita lakukan proses bersamaan sembari menunggu jagung kering kita memotong singkong untuk bahan pembuatan keripik,”ungkapnya.
Selain dibuat keripik, singkong yang telah dikupas sebagian diolah menjadi makanan tradisional seperti gethuk lindri, kerupuk ubi serta olahan lain yang akan dijual di pasar tradisional Palas Bangunan. Sementara itu setelah proses penggorengan dilakukan, tahap pengemasan akan dibantu oleh beberapa pekerja yang dibayarnya dengan sistem harian sebesar Rp30ribu.
“Usaha kecil ini terus berjalan selama kami masih mudah memperoleh bahan baku dan karena kami mengolahnya menjadi makanan yang lebih renyah maka permintaan akhir akhir ini selalu habis oleh sebagian warung di daerah ini,”ungkapnya.
Maring dan keripik singkong yang telah digoreng selanjutnya akan diberi rasa bermacam macam sesuai selera konsumen diantaranya rasa pedas, asing, gurih, balado. Sebanyak 10 kemasan kecil keripik singkong dan marning dijualnya dengan harga Rp5.000, ke sejumlah warung.
“Kami rata rata membuat ratusan bungkus dan selalu habis dipesan oleh pelanggan, tapi karena tenaga terbatas kami tidak bisa memenuhi permintaan dalam jumlah yang lebih besar,”terangnya.
Selama memiliki usaha kecil rumahan tersebut, ibu dan anak tersebut mengaku mengandalkan modal sendiri dengan omzet sekali pembuatan berkisar Rp400ribu hingga Rp500ribu.
“Sejak awal kami mandiri dan meski ada tawaran untuk pinjaman modal lunak namun kami justru khawatir tidak sanggup mengembalikan sehingga kami jalankan modal yang seadanya, yang penting tetap berjalan dengan baik,”terang wanita yang memiliki empat anak tersebut.
Sang suami, Mispan, yang sehari hari membuat batu bata merah mengaku merasa terbantu dengan aktifitas sang istri dan anak yang memanfaatkan peluang melimpahnya hasil pertanian jagung dan singkong di wilayah tersebut. Selama ini jagung dan singkong dijual ke luar daerah untuk pembuatan tapioka serta jagung digunakan untuk pakan ternak. Ia bahkan berharap usaha tersebut masih terus akan berjalan dengan masih sepinya permintaan akan batu bata yang banyak menjadi mata pencaharian masyarakat di wilayah Kecamatan Palas.
“Kami masyarakat di wilayah desa ini sebagian besar bermata pencaharian petani dan pembuat batu bata dan genteng, beruntung isteri saya masih bisa memperoleh bahan baku sehingga usahanya masih tetap bisa berjalan,”ungkap Mispan.
Ia bahkan mengaku masih bermimpi untuk menambah alat pengemasan, pengolahan makanan tradisional dengan bahan baku jagug dan singkong yang ditekuni isterinya. Selain itu tempat pengolahan yang lebih baik direncanakan akan dibangun untuk sang isteri di samping rumahnya sehingga saat musim hujan proses penjemuran masih tetap terlindung di dalam ruang penjemuran yang akan dibangunnya.[Henk Widi]