Anyaman Mendong Buatan Tasik, Dikenal Hingga Mancanegara

SABTU, 9 APRIL 2016
Jurnalis: Rianto Nudiansyah / Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber foto: Rianto Nudiansyah

BANDUNG — Mendong alias purun tikus, merupakan jenis rumput yang tumbuh subur di Indonesia. Tumbuhan dengan nama latin frimbistylis umbellaris ini dikenal sebagai bahan anyaman berkualitas tinggi. Biasanya, mendong diolah menjadi aneka produk kerajinan, seperti tas, tikar, tempat tisu, keranjang dan seni kriya lainnya.
Produk Anyaman berbahan dasar mendong
Kendati diyakini berasal dari Nusa Tenggara Barat (NTB), mendong rupaya banyak dibudidaya di wilayah lain. Seperti di Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat (Jabar).
Asep Barnas (65), seorang produsen anyaman mendong asal Tasikmalaya yang produknya dikenal hingga mancanegara. Produk mendongnya sudah dipasarkan ke Jepang, Australia, Inggris dan Amerika. 
“Kalau di Afrika saya hanya ikut pameran, tapi belum pernah menjual besar-besaran,” tutur Asep.
Pertama bisa memasarkan produk ke luar negeri, diawali ketika dipercaya oleh salah satu pabrik besar di Cirebon, Jabar. Saat itu,  anyaman mendong buatannya dibeli oleh salah satu perusahaan kosmetik asal Inggris.
“Awalnya mendong buatan saya diminati oleh buyer di Inggris untuk packaging produk kecantikan,” katanya.
Namun pabrik besar di Cirebon itu bangkrut, imbasnya ekspor ke Inggris pun mandeg. Beruntung, anyaman mendong buatan Asep masih diminati oleh perusahaan kosmetik tersebut.
“Mereka mencari saya sebagai produsennya dan kita ketemu, akhirnya selama enam tahun saya menjual barang kepada perusahan kosmetik di Inggris itu,” katanya.
Dengan latar belakang itu, Asep merasa lebih percaya diri bahwa produknya pun dapat diterima oleh pembeli di negara lainnya. Lantas, dia mulai mengenalkan kerajinan mendongnya ke buyer besar selain Inggris.
“Itu pertama mendong saya masuk ke Amerika dan mulai lah mendong itu bisa diterima di dunia, pasar global,” katanya.
Menurutnya, ada perbedaan pandangan pembeli lokal dengan luar negeri. Kadang kala masyarakat kita cenderung memilih barang yang bisa tahan lama tanpa mempersoalkan material produknya.
“Kalau di pasar ekspor mereka lebih melihat bahwa barang itu gampang didaur-ulang. Karena mereka tidak suka dengan sampah plastik. Kalau di kita (Indonesia) plastik oriented, semuanya harus tahan lama dan awet,” bebernya.
Menganyam, adalah kegiatan yang akrab dilakukan masyarakat Indonesia sejak dulu. Karena itu, Asep memiliki misi agar budaya ini tidak sampai dilupakan oleh generasi muda. 
Lebih lanjut, dia menyayangkan, dewasa ini pengrajin mendong rata-rata adalah orang tua yang sudah berumur. Tak terkecuali para pegawainya yang memang berusia senja.
“Padahal kan kalau anak muda pasti lebih kreatif, kalau orang tua kreatifitasnya biasanya lebih terbatas,” ucapnya.
Dia juga memandang, kesadaran masyarakat dalam membeli produk lokal masih lemah. Sekalipun barang buatan dalam negeri sudah banyak yang diacungi jempol oleh pasar global, kadang justru lebih percaya mengelontorkan rupiah untuk produk impor. 
“Itu yang menjadi kendala kita memasarkan produk di negeri sendiri,” pungkasnya.
Asep sendiri membanderol karyanya kisaran Rp. 25.000 hingga Rp. 250.000.
Jika ingin melihat-lihat karyanya, anda bisa datang  ke tempat produksi, Jalan RTA. Prawira Adiningrat, Manonjaya No 46, Tasikmalaya, Jawa Barat. 
Lihat juga...