![]() |
| Gunungan Padi |
Kegiatan yang mulai langka diadakan ini, diawali dengan kirab bergodo atau prajurit dan gunungan padi sebagai simbol berkah panen yang melimpah. Barisan prajurit membawa tombak menjadi barisan pembuka jalan, disusul bregodo gamelan dan bregodo petani yang diperankan oleh ibu-ibu yang membawa beragam hasil bumi. Bregodo lengkap berpakaian adat jawa, berjalan seiring ritme gamelan rancak namun pelan.
“Wiwit itu berarti mulai. Maka, tradisi itu memang dilakukan ketika padi sudah siap dipanen. Untuk memulai panen, nenek moyang dulu mengadakan upacara adat wiwit,” jelasnya.
![]() |
| Kirab Bergodo |
Upacara adat wiwit dipimpin oleh sesepuh dusun setempat, Wajiyun Pujo Wiyono. Prosesi diawali dengan memanjatkan doa, lalu memotong segenggam padi oleh sesepuh. Sesudah itu, panen raya baru dilakukan. Pujo mengatakan, inti tradisi wiwit adalah memohon doa, agar padi yang akan dipanen dan yang memanen selamat, juga agar padi yang dipanen tersebut menjadi rezeki yang barokah.
“Dengan cara itu kami bercocok tanam selama ini”. katanya.
![]() |
| Wiwid Bersama |
Kastana menjelaskan, panen yang hanya meningkat sedikit itu karena ada kendala keterbatasan air.

