MINGGU, 20 MARET 2016
Jurnalis : Ferry Cahyanti/ Editor : ME. Bijo Dirajo / Sumber Foto: Ferry Cahyanti
BALIKPAPAN — Tahun 2016, Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) mulai diberlakukan termasuk di Indonesia. Hal tersebut tak membuat seorang pria paruh baya bernama Supratono takut untuk menghadapinya. Bahkan pria yang sudah menggeluti kerajinan Batik Shaho Kalimantan Timur sejak tahun 1993 ini berpendapat MEA menjadi peluang dalam persaingan berkarya maupun kompetitif pemasarannya.
![]() |
| Supratono memperlihatkan karyanya di Art Gallery Balikpapan |
Dikatakan, untuk menghadapi MEA, karya batik tulis dan printing yang dibuat harus memiliki inovasi. Terutama batik Shaho yang sudah banyak dikenal masyarakat Indonesia dan negara tetangga tetap akan dicari konsumen.
“Pemasaran juga akan kompetitif. Namun kini pemasaran yang dilakukan masih terbatas kota ini. Saya tetap optimis batik Shaho banyak dicari meski dijual dirumah maupun galeri serta pameran. Bahkan ada dari turis mancanegara datang ke Balikpapan membeli batik Shaho berkali-kali,” sebutnya saat ditemui di Art Galerry di Dome Balikpapan.
Supratono menjelaskan, banyak orang menyukai batik dan menjadi khas sebuah daerah. Hal ini yang membuat pemasaran batik tidak cukup rumit.
“Dalam setahun permintaan bisa mencapai lebih dari 7.000 potong. Dan kini karya batik tulis yang dihasilkan juga sudah puluhan. Sekarang yang terbaru ada motif mangrove, karangmunting dan yang lagi digarap motif harmoni hutan mangrove. Artinya buah mangrove yang berjatuhan bersinergi dengan air laut saat pasang dan surut,” terangnya dengan ramah Disela aktivitasnya Minggu (20/3/2016).

Ia optimis batik Shaho akan mampu bertahan ditengah berlakunya MEA dan akan terus menciptakan inovasi-inovasi baru dalam mempertahankan kerajinan batik Shaho yang menjadi khas kota Balikpapan Provinsi Kalimantan Timur.