MINGGU, 20 MARET 2016
Jurnalis: Ebed De Rosary / Editor: Fadhlan Armey / Sumber foto : Ebed De Rosary
MAUMERE — Sejak bekerja di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sikka, perempuan kelahiran Maumere 25 Desember 1982 ini semakin kompeten di bidangnya. Di atas pundaknya, perempuan luwes ini dipercayakan membina beberapa kelompok pengrajin dan sanggar agar bisa maju dan menghasilkan karya dengan nilai jual tinggi.
![]() |
| Dina Nataliani |
Dia adalah Dina Natalia, perempuan yang jago membawakan acara dan memiliki event organizer ini terus berupaya untuk meningkatkan mutu kreatifikas masyarakatnya.
Menurutnya, menenun selembar kain saat ini bukan hanya sekedar untuk dikenakan sendiri ataupun menjadi konsumi lokal saja, tapi hendaknya menjadi karya yang bisa dinikmati semua orang.
“Saya harus menjadikan sebuah kelompok pengrajin produktif dan karyanya bisa dijual bukan saja di kabupaten Sikka, tapi diburu pembeli dari luar daerah, “ ujar Dina sapaannya saat ditemui Cendana News, Minggu (20/3/2016).
Prinsip ini dianut betul oleh Dina Nataliani, dirinya banyak bercerita tentang suka duka pekerjaannya. Saat ini Ia ditugasi mendampingi kelompok Watu Bo dan Dapur Daun. Bagi Dina, para pengrajin tenun ikat sudah saatnya untuk menghasilkan karya yang disesuaikan dengan selera pasar.
“Produk ekonomi kreatif semakin berkembang. Desain, motif atau model pun semakin berkembang. Kalau kemarin-kemarin dikerjakan hanya untuk tradisional atau adat maka sekarang harus disesuaikan dengan permintaaan pasar yang semakin berkembang, tentunya dengan selera fasion yang semakin berubah,“ terangnya.
Sejak tahun 2011, Dina terjun mendampingi kelompok tenun ikat di Watublapi dan kelompok Watu Bo di Watublapi desa Kajowair kecamatan Hewokloang, menjadikan Dina paham betul tentang proses menenun hingga selera pasar.
Para pengrajin dampingannya pun sudah memakai pewarna alami, kesemuanya ini tak lepas berkat adanya program dari Dinas Perindang NTT, yang berkaitan dengan Gugus Kendali Mutu ( GKM ) untuk industri kecil dan manengah termasuk kelompok pengrajin.
Dina pun mengajak kelompok binaanya untuk terus belajar dan memamerkan produk mereka di luar kabupaten Sikka. Kelompok Watu Bo pernah berpameran di Semesco Jakarta dan Nembrala Rote tanggal 6 dan 7 November 2015. Di Nembralai mereka belajar khusus terkait pewarnaan alami dan bertemu dengan teman-teman pengrajin disana.
“Mereka mengerjakan tenun ikat memakai bahan pewarna alami. Sekarang mereka sudah bisa berubah sesuai keinginan pasar tetapi mereka tetap tidak meninggalkan ciri khasnya “ tuturnya bersemangat.
Dina mencontohkan, saat pameran di Semesco Jakarta, customer atau pembeli meminta kain tenun yang tipis dan motifnya tidak banyak. Selain itu ada juga yang meminta selendang yang ditengahnya motifnya kosong supaya diberi motif sehingga waktu mendesain kain tidak bingung.
Mulanya, tenun ikat ini di kalangan masyarakat Sikka selalu digunakan dalam proses acara adat atau kematian. Hal ini menurut Dina menjadikan tenun ikat merupakan sebuah produk yang tetap dijaga dan dilestarikan.
![]() |
| Megawati Soekarno Putri ( kiri ) sedang melihat kain tenun Kelompok Watu Bo |
“Bagi saya kelompok Watu Bo memilik semangat untuk terus maju dan mau berubah, tidak mudah orang sudah mengerjakan tenun ikat dari tahun ke tahun dengan cara dan model yang sama, tiba – tiba ada permintaaan pasar menuntut mereka harus berubah. Mereka juga percaya bahwa kain tenun ini ada pasarnya,” ungkapnya.
Sebelum mendampingi sanggar Watu Bo, Tahun 2011 Dina dipercayakan mendidik, membimbing dan mempopulerkan hasil karya kelompok tenun ikat Di Watublapi. Setelah kelompok tenun ikat di Watublapi bisa mandiri, Dina pun dipercayakan menggembleng kelompok Watu Bo yang didirikan tahun 2013.
Sedikit malu, Dina yang bekerja di Disperindag sejak tahun 2009 ini mengatakan, bukan dirinya yang mendirikan kelompok Watu Bo tetapi para anak muda pengrajin yang memprakarsai dan dirinya lebih kepada mendampingi, mengarahkan mereka serta terkait proses pasar dan kualitas hasil tenunan.
Dina pun diberikan kepercayaan mendampingi kelompok Dapur Daun di Wailiti dan Kembang Baru di Nangahure di kecamatan Alok Barat dalam menghasilkan makanan olahan seperti keripik pisang dan singkong, manisan kelapa, isotonik kelapa,VCO (minyak kelapa murni) dan abon ikan.
“Kreatifitas yang masih kurang ini butuh pelatihan dan banyak mengikuti pameran serta menimba ilmu dari pengrajin lainnya dari luar daerah. Saya melihat hal ini yang belum dimiliki pengrajin kita. Karya seni harus memilik nilai jual sehingga orang akan giat berkarya,” tuturnya.
Kalimat “ If you stand for nothing you fall for anything” (jika kamu tidak tahu untuk apa kamu berdiri, kamu akan jatuh untuk berbagai hal) bagi Dina memberikan motivasi dan semangat lebih untuk membuat para pengrajin bisa berhasil.
Kalau di Sikka setiap hari Kamis semua karyawan dan pelajar menggunakan baju atau rok berbahan tenun ikat, maka tentunya kain tenun akan banyak diburu dan semakin terkenal.
Dina pun merasa bangga mengenakan pakaian tenun ikat dan melihat masyarakat Sikka pun sudah memiliki kebanggaan dimana mereka memakai pakaian tenun ikat saat ke pesta ataupun acara formil dan non formil.
“Saat ini setiap Jumat pertama setiap bulan, semua pegawai negeri sudah berpakaian adat. Tentu ini membuat kain tenun semakin banyak diburu dan bisa memperkenalkan adat dan budaya kita, “ kata Dina bangga.
Pejabat pemerintahan dan para artis pun ucap Dina, selalu mengenakan pakaian motif tenun ikat. Peluang ini yang tidak boleh disia-siakan. Untuk itu Ia berpesan kepada Para pengrajin, jangan takut untuk berkarya dan terus belajar.
“Harus banyak berimprovisasi dan jangan malu menimba ilmu dari orang lain serta jangan pernah putus asa dan harus inovatif. Dengan demikian hasil karya seorang pengrajin bisa memiliki nilai jual dan digemari masyarakat, “ pesan Dina.
Sebelumnya, Dina pernah dipercaya untuk memberi penjelasan terkait tenun ikat kepada isteri Wapres Jusuf Kalla, saat pemecahan rekok MURI dan rekor dunia di lapangan Kantor Bupati Sikka, Rabu (11/11/15 ).
![]() |
| Dina Nataliani sedang memberikan penjelasan terkain tenun ikat kepada Mufidah Jusuf Kalla ( baju biru ) |
Selama mendampingi kelompok pengrajin, beber Dina, dirinya sangat terkesan saat mengantar ibu Dirjen Industri Kecil dan Manengah dari Kementrian Perindustrian tanggal 18 dan 19 Desember 2015 ke kelompok binaannya, beberapa kelompok yang didampinginya ini, sebagai Diklat Shindanshi atau Konsultan Industri Kecil dan Manengah yang diselenggarakan Kementrain Perindustrian tahun 2010.
“Kehadiran dari ibu Dirjen dan rombongan dapat memberikan motivasi, berbagi semangat dan harapan untuk keberlanjutan serta peningkatan industri kecil dan manengah menjadi industri yang bisa berdaya saing, “ pungkasnya gembira.

