Puluhan Tahun Lahan Pertanian Dua Desa di Sumenep Jadi Langganan Banjir

SELASA, 9 FEBRUARI 2016
Jurnalis : Fahrul / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Fahrul
SUMENEP — Tingginya curah hujan yang terjadi di Wilayah Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, membuat puluhan hektar tanaman padi di dua desa terendam banjir, sehingga membuat petani merasa khawatir, karena apabila genangan air tersebut tidak kunjung surut tanaman yang mereka garap akan rusak, akibatnya akan mengalami gagal panen dan kerugian yang cukup besar.
Seorang petani sedang berada di lahan yang terendam banjir.
 

Bencana banjir tidak hanya terjadi pada musim hujan kali ini saja, tetapi hal itu terjadi sejak puluhan tahun lalu, namun belum ada perhatian serius dari pemerintah daerah setempat, padahal petani seringkali mengalami kerugian akibat tanaman garapannya terendam banjir. Bahkan mereka harus menanam ulang ketika sudah gagal panen.

Penyebab terjadinya banjir di Desa Nambakor, Kecamatan Saronggi dan Desa Patean, Kecamatan Batuan, diduga karena sempitnya irigasi yang ada di sekitar dua desa tersebut, sehingga ketika intensitas hujan tinggi air meluap ke persawahan bahkan terkadang juga merendam rumah warga. Namun meskipun itu sudah seringkali terjadi para petani tetap saja memaksakan diri menanami lahannya, sebab tidak ada pilihan lain bagi mereka yang mencari pendapatan dari hasil pertanian.

Salah seorang petani, Edi Purwanto (37) mengaku, terjadinya banjir yang merendam puluhan hektar tanaman padi milik petani akibat derasnya hujan seharian pada hari Senin (8/2/2016) kemarin, sehingga tingginya debit air tersebut meluap akibat saluran irigasi yang sempit dan merendam sawah milik petani di dua desa.

“Kemarin hujan dari pagi sampai malam, karena saluran airnya sempit akhirnya meluap ke sawah milik warga, ini membuat khawatir petani, sebab apabila dalam waktu dekat ada hujan lagi, maka tanaman padi akan mati,” jelasnya, Selasa (9/2/2016).

Menurutnya, kejadian banjir yang merugikan petani tersebut bukan hanya terjadi satu hingga dua kali, tetapi sudah sejak puluhan tahun lalu daeranya menjadi langganan banjir. Tetapi sangat disayangkan belum perhatian sama sekali dari pemerintah daerah setempat untuk mencari solusi supaya banjir tidak kembali terulang. 

“Sejak dulu memang sering banjir, bahkan petani seringkali rugi karena tanamannya mati,” terangnya saat ditemui Cendana News di sawahnya.

Ketika banjir merendam tanaman padinya yang masih berumur satu bulan tak kunjung surut, maka tanaman tersebut akan mati dan petani akan melakukan tanam ulang, sehingga harus mengeluarkan biaya besar agar bisa menggarap lahannya yang sudah gagal panen.

Mereka berharap pemerintah daerah memperhatikan masalah banjir yang sering dialami warga di desa tersebut, sehingga para petani tidak merasa was-was apabila menggarap lahannya pada saat musim hujan. Sebab jika terus-terusan seperti itu sampai kapanpun petani akan terus mengalami kerugian.

Lihat juga...