Menikmati Panorama Pantai Kajuwulu dan Teluk Kolisia dari Ketinggian Bukit

MINGGU, 14 FEBRUARI 2016
Jurnalis: Ebed De Rosary / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Ebed De Rosary

WISATA LOKAL—Pesona hamparan rerumputan kering di bukit tandus pesisir pantau utara Flores tepatnya semenjak Kolisia hingga Magepanda hampir tidak terlihat. Barisan bukit gersang itu kini menghijau. Curah hujan yang tinggi semenjak bulan Januari menjadikan perbukitan di wilayah Tanjung sebagai obyek wisata favorit yang dekat dengan kota Maumere memancarkan warna berbeda. (Berita foto: Pesona Panorama Pantai Kajuwulu dan Teluk Kolisia ).


Bewisata ke Maumere dan menyambangi Pantai Pasir Putih Kajuwulu yang berjarak sekitar 20 kilometer arah barat kota Maumere, ibukota Kabupaten Sikka terasa tak lengkap bila kaki ini tak berpijak di taman di puncak bukit yang dipancangi Salib. Bukit gersang, elok dipandang saat musim kemarau dimana rerumputan kering berwarna coklat  tertidur berbaris kontras dengan warna bebatuan karang yang berwarna kehitaman.
Puncak bukit Tanjung tempat Salib berada harus dicapai dengan mendaki bukit dengan kemiringan sekitar 30 derajat.Pengunjung harus berjuang menapaki 500 anak tangga dari pinggir jalan raya di tanjakan selepas pantai Kajuwulu kedua.
Tangga yang terbuat dari semen dengan lebar sekitar 30 sentimeter dengan panjang sekitar 60 sentimeter ini menanjak lurus dengan jumlah 200 anak tangga. Sesudahnya anak-anak tangga dibuat berbelok ke kanan dan ke kiri masing-masing sebanyak 100 anak tangga hingga ke kaki Salib. Dari kaki bukit deretan anak tangga terlihat membentuk huruf S.
“Pemandangan dari puncak bukit sungguh indah diabadikan. Banyak wisatawan yang sering ke puncakbukit guna mengabadikan keindahan panorama alam di sekitar perbukitan“ tutur Wilfridus Ero, seorang fotografer yang ditemui Cendana News di kaki bukit, Minggu (14/2/2016).
Willy sapaannya datang bersama anggota fotografer dan seorang pelukis guna mempromosikan keindahan panorama alam di sekitar wilayah kecamatan Magepanda. Dikatakan Willy, banyak fotografer dari luar negeri yang terpesona akan kegersangan wilayah ini dan sering melakukan pemotretan di saat musim kemarau dan saat sekitar bulan Februari saat rerumputan mulai menghijau.
“Hampir setiap hari minggu banyak wisatawan yang berdatangan dan mendaki hingga ke puncak bukit. Sebuah perpaduan yang bagus selepas mendaki puncak bukit yang ada Salib wisatawan langsung menikmati pantai pasir putih dan tebing cadas di bawahnya,”ucap Willy.
Salib yang dilapisi keramik berwarna putih ini persis berada tepat di ketinggian barisan bukit pertama dimana di kedua sisinya terdapat lereng dengan kemiringan 45 derajat. Salib ini dibangun oleh Kodim 1603 Sikka dan diresmikan oleh Dandim Letkol Inf. Henry Suratmin, Senin 06 September 1999 seperti tertera pada prarasati yang tertanam di bawah tembok bagian belakang Salib.
Salib dengan tinggi sekitar 2,5 meter dengan lebar tiang sekitar 60 sentimeter ini di lengkapi tempat istirahat berbetuk setengah lingkaran berdiamter sekitar 5 meter.Lantai semennya pun dilapisi keramik berwarna senada. Terdapat beberapa pohon lamtoro setinggi 2 meter yang tumbuh berbaris di samping salib yang kerap dijadikan peneduh bagi wisatawan.
Pemandangan dari puncak bukit sungguh luar biasa cantiknya. Laut biru terbingkai liukan garis pantai berpasir putih. Nampak Pulau Palue dengan gunung berapi Rokatenda menjulang menggapai kaki langit. Beberapa bagian di laut menampilkan warna hijau nan mempesona. Jalan beraspal mulus menanjak dan berkelok mengelilingi bukit menambah keindahan lukisan alam yang terpampang. Kendaraan yang berseliweran terlihat jelas,
Saat disambangi Cendana News pagi itu, selain rombongan fotografer asal Maumere, juga beberapa kelompok warga dari kota Maumere yang bertamasya ke Pantai Kajuwulu. Perjalanan ke puncak bukit tempat Salib berada memakan waktu hingga setengah jam. Jumlah pengunjung yang tidak terlalu banyak jika dibandingkan dengan sore hari membuat perjalanan lebih santai dengan sering beristirahan melepas penat.
“Kami baru pertama ke sni. Memang selama ini sering dengar tetangga ceritera tapi baru kali ini bisa datang,”sebut Veronika Liwu seorang warga asal Kabupaten Flores Timur.
Vero sapaannya terlihat mendaki bukit bersama anak perempuannya berumur 9 tahun bersama sang suami. Ditemui usai mendaki bukit, Vero terlihat masih kelelahan dan duduk di aspal jalan seraya menjulurkan kedua kaki.Vero mengaku tiba di Maumere sejak Sabtu sore sehari sebelumnya dan berencana menikmati pantai Kajuwulu dan jembatan bambu dan hutan bakau.
“Malam kami baru kembali ke Larantuka karena suami besok pagi harus kerja. Kami sewa travel dari Larantuka sebab saya juga ajak kakak sepupu dan keluarganya. Pemandangannya sungguh indah apalagi daerahnya berbukit dan pantainya juga berpasir putih diapit bukit cadas di kiri kanan teluk,”sebut Vero.
Banyak pengunjung yang memanfatkan momen ini seraya berfoto ria dengan latar belakang pemandangan laut biru dengan beberapa titiknya terlihat berwarna hijau. Di kiri kanan Salib kita bisa memandang perbukitan dengan Pulau Nusa Kutu di sebelah timur sementara Teluk Ndete dan Teluk Kolisia di sebelah baratnya. Hamparan pasir putihnya pun terlihat jelas.
Puncak taman Salib bukanlah puncak tertinggi. Pengunjung yang gemar tracking bisa mendaki sejauh sekitar 200 meter hingga ketinggian bukit. Jika masih penasaran, pengunjung juga diperbolehkan menggapai bukit di belakangnya dengan ketinggian sekitar 500 meter. Perjalanannya pun menuruni lembah dan menadki untuk mencapai ujung barisan bukit gersang. Namun kata warga sekitar jarang ada orang yang mendaki bukit kecuali wisatawan atapun fotografer yang ingin mengabadikan keindahan alam dari atas ketinggian. 
Puas berada di puncak bukit kita kembali berjalan menurun meniti anak – anak tangga  hingga menyebrangi jalan negara menuju kaki bukit, Terdapat sebuah tugu setinggi sekitar 2 meter dengan logo dan lambang Angkatan Laut lengkap dengan jangkarnya. Pengunjung bisa berjalan hingga ke ujung tebing batu yang jarang ditumbuhi pepohonan dan rerumputan. Bebatuan karang berwarna kehitaman ini menantang untuk diabadikan.
Bertamasya di tempat ini sungguh menyenangkan apalagi tidak ada pungutan biaya. Namun sangat disayangkan Willy,banyak wisatawan yang membuang sampah bekas air mineral di lereng-lereng bukit dan di areal Salib. Sampah juga lanjut Willy banyak dijumpai di pinggir jalan tempat pengunjung melepas lelah usai turun dari puncak bukit.
Mendaki ke puncak bukit tempat Salib berada bukan saja untuk memandang keindahan alam namun memberi tantangan tersendri.Jalan yang menanjak dan berkelok dengan meniti ratusan anak tangga membuat wisatawan harus bercucuran keringat.Ini yang menyebabkan banyak wisatawan yang mendaki ke puncak Salib saat pagi dan sore hari.
Lihat juga...