LAMPUNG — Meski sudah banyak dibuat langsung oleh pabrik, namun pengerjaan manual masih diminati. Terbukti, pembuatan kotak alat pengeras (box speaker) aktif yang dikerjakan Basuki (40) di Kecamatan Ketapang Lampung Selatan masih diburu. Bahkan banyaknya pesanan, memaksa dia bersama anggotanya untuk bekerja ekstra.
Pembuatan kotak speaker
“Pesanan yang cukup banyak, baik untuk keperluan pribadi atau pemilik usaha organ tunggal. Dalam sehari permintaan bisa mencapai 15 bahkan lebih, selain itu kebutuhan akan hiburan cukup tinggi di masyarakat,”ungkap Basuki membuka pembicaraan di Lampung, Minggu (21/2/2016).
Disebutkan, minat konsumen masih terlihat bagus, baik untuk digunakan sebagai keperluan pribadi atau untuk usaha penyewaan sound sistem, organ tunggal, atau keperluan gedung gedung rumah ibadah atau gedung pertemuan yang disewakan.
“Saat ini usaha pembuatan box speaker lumayan dan bisa diandalkan terutama saat pekerjaan sulit diperoleh, orderan furniture sedang sepi sehingga usaha pembuatan kotak sepeaker atau dikenal dengan salon aktif ini bisa menjadi pilihan,” katanya.
Menurut Basuki, sehari dia mampu mengerjakan sebanyak tujuh box speaker ukuran kecil. Bahkan karena permintaan beberapa bulan ini sangat banyak, dia terpaksa harus mempercepat produksi untuk bisa membuat hingga 10 box speaker berbagai bentuk dan ukuran setiap hari.
Pembelinya masih berkisar di Kecamatan Ketapang, Kecamatan Penengahan dan Bakauheni saja. Dia memperkirakan peningkatan permintaan dibeberapa bulan terakhir ini bisa mencapai 50 pesen bahkan bisa lebih.
“Sebulan ini ada 100 lebih yang memesan berbagai jenis ukuran box speaker sehingga terkadang harus kita kerjakan dengan cara lembur dan membuat pola terlebih dahulu dengan dibantu tenaga keluarga yang lain,” ujar pria yang sudah berpuluhan tahun bekerja sebagai pengrajin box speaker itu.
Agar tidak kehilangan konsumen di tengah ketatnya persaingan, Basuki, selalu mencari ide-ide baru dalam pembuatan box speaker. Selain itu ia dikenal menggunakan kayu jenis Pule yang cukup bagus untuk bahan dasar.
“Untuk bisa bertahan saya harus bisa berinovasi diantaranya soal kualitas dan penggunaan bahan, jika tidak usaha saya ini akan tutup,” ujarnya di sela mengerjakan box speaker.
Box speaker buatan Basuki dan dibantu oleh tiga pekerja , dibandrol dengan harga Rp 150 ribu hingga jutaan rupiah. Semua itu, dilihat dari segi kualitas, ukuran serta jenis bahan kayu.
“Di sini kami mengedepankan kualitas. Omzet lumayan lah. Kalau sebulan bisa mencapai jutaan rupiah,” jelas Basuki.
Untuk bahan baku box speaker-nya, dia tidak mengalami kesulitan, sebab bahan kayu Pule masih mudah diperoleh di wilayahnya. Selain itu serbuk kayu, kain hitam khusus, sekrup, serta jenis lem khusus untuk pembuatan kapal dibelinya dari wilayah Bandarlampung. Selain menggunakan kayu Pule, ia mengaku menggunakan bahan papan triplek Particle Board atau bahan papan MDF.
Ia mengaku untuk mendapatkan kualitas suara dalam pembuatan kotak speaker harus memperhatikan hal hal seperti berikut diantaranya: keinginan konsumen, jenis bahan, nilai keindahan dan bentuk.
“Kalau konsumen menginginkan kotak speaker yang besar maka kita membutuhkan jumlah kayu yang banyak dan kita harus menyesuaikan dengan permintaan konsumen,”ungkap Basuki.
Kendala yang dihadapi oleh Basuki saat ini adalah kondisi cuaca musim penghujan yang mulai datang sehingga ia kesulitan menjemur kotak-kotak speaker yang telah dibuat bersama pekerjanya. Setelah mengalami proses perakitan dan pengeleman, pengecatan serta sentuhan akhir lainnya proses penjemuran dilakukan di bawah sinar matahari untuk memperoleh hasil sempurna.