
Penghuni daerah Kalimantan selatan terkonsentrasi di desa-desa besar kawasan pesisir pantai di kaki pegunungan Meratus. Desa-desa tersebut akhirnya berkembang menjadi kota-kota bandar yang membuka hubungan dagang dengan para pedagang dari India dan China. Konsentrasi populasi perlahan berpindah ke pesisir Sungai Tabalong. Pada abad ke-5 Masehi berdiri sebuah Kerajaan bernama Kerajaan Tanjung Puri sebagai pusat koloni orang Melayu yang berasal dari Kerajaan Sriwijaya sekaligus memperkenalkan kebudayaan Melayu.
Setelah masa Kerajaan Tanjung Puri berganti menjadi Kerajaan Negara Dipa yang memiliki hubungan erat dengan kerajaan yang ada di tanah Jawa, maka berkembang lagi budaya Jawa sekaligus awal masuknya agama Budha dan Siwa. Akhir dari Kerajaan Nagara Dipa tidak jelas diketahui, namun kemudian muncul Kerajaan Nan Sarunai yang kental dengan kebudayaan Maanyan. Ditengarai bahwa Kerajaan Nagara Dipa digantikan oleh Kerajaan bernama Nagara Daha, yang menurut hikayat Kerajaan Banjar bahwa Nagara Daha dipimpin oleh Pangeran Tumenggung. Kerajaan ini berakhir karena perebutan kekuasaan dimana salah satu tokohnya adalah Pangeran Samudra yang kemudian dicatat sebagai cikal bakal Kerajaan Banjar dengan pusat Kerajaan berada di pinggir Sungai Kuin.
Berdirinya Kerajaan baru ini merupakan babak baru dalam sejarah Kalimantan Selatan dengan dimulainya periode Islam yang kemudia semakin kuat setelah membuka hubungan dengan wilayah lainnya seperti Kerajaan Demak di tanah Jawa dan hubungan dagang dengan daratan eropa. Kerajaan Banjar mengalami pasang-surut setelah masuknya imperialis Eropa, Belanda, dan Inggris. Akibat praktek monopoli Bangsa-bangsa pendatang itulah maka meletus pemberontakan yang dipimpin oleh Sultan Banjar sendiri, yaitu Pangeran Antasari yang kemudian dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional dan Kemerdekaan oleh pemerintah Republik Indonesia berdasarkan SK No. 06/TK/1968 di Jakarta, pada tanggal 27 Maret 1968. sedangkan kebesaran Kesultanan Banjar sekaligus kebudayaannya diabadikan oleh Pemerintah Republik Indonesia era Presiden HM Soeharto di dalam kompleks Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dalam bentuk Anjungan budaya Kalimantan Selatan dengan bangunan induknya adalah replika Rumah adat masyarakat Banjar yang bernama Rumah Bubungan Tinggi.
Bentuk Rumah adat Bubungan Tinggi ini memanjang ke belakang dengan atapnya yang menjulang tinggi ke angkasa. Berdiri diatas tiang-tiang kokoh rumah tersebut memiliki keunikan tersendiri karena dari tangga pintu masuk sampai bagian tengah rumah semakin meninggi namun tepat dibawah bubungan maka rumah ini semakin menurun ke bawah. Rumah yang keseluruhan bahannya terbuat dari Kayu Ulin tersebut memakai ukuran yang kesemuanya ganjil dan dalam hitungan depa. Rumah adat Bubungan Tinggi terbagi dalam beberapa bagian ruangan. Setelah menaiki tangga maka akan sampai di bagian pelataran atau serambi, yakni tempat terbuka. Bagian ini terdiri atas tiga susun, yakni pelataran bawah atau serambi muka sebagai tempat mencuci kaki sebelum naik ke bagian berikutnya. Pelataran kedua disebut serambi sambutan yaitu sebagai tempat menyambut tamu yang dihormati. Pelataran ketiga diberi atap Sindang Langit, yakni semacam emper dengan sekelilingnya diberi Paga Resi. Pelataran atas ini disebut juga lapangan pamendangan yang berfungsi untuk tempat duduk dan istirahat.
Dari lapangan pamendangan , naik jenjang untuk masuk ke ruangan yang disebut Pacira yaitu ruangan untuk menyimpan peralatan angkutan sungai seperti kayu, dayung, dan lain-lainnya. Ruang penurunan atau Penampik Kecil berfungsi untuk menyimpan peralatan pertanian, pertukangan, dan peralatan menangkap ikan. Selain itu terdapat pula Ruangan Penampik Besar yang berfungsi sebagai tempat menerima dan duduknya tamu terhormat sekaligus tempat melaksanakan upacara adat, selamatan penghuni rumah, dan kegiatan lainnya. Selanjutnya adalah Penampik Penangah atau Palidangan, sebuah ruangan luas dimana di sisi kanan-kiri nya terdapat bilik yang disebut anjung kanan dan anjung kiri. Tempat ini selain berfungsi untuk menempatkan tamu wanita atau keluarga laki-laki terdekat, juga sering digunakan sebagai tempat pelaksanaan upacara adat. Anjung Palidangan ini diberi Tawing Halat atau dinding pemisah dari kayu yang dapat dibuka pada saat tertentu sehingga akan menjadi lebih lebar dan luas kelihatannya. Dengan demikian terbuka lagi sebuah ruangan baru yang bernama Palidangan Tidur untuk tempat tidur Anjung Jurai untuk ruang makan. Di salah satu sisi ruangan anjung tersebut terdapat tempat khusus untuk persalinan wanita dan juga terdapat tempat atau ruang khusus untuk memandikan jasad/mayat. Ruangan terakhir adalah Penampik Bawah atau disebut Padu yang dibagi lagi menjadi Pantaran dan Paledangan dapur. Tempat ini berfungsi sebagai tempat mengasuh dan memberi makan anak. Paledangan depan atau Padu juga sering dipergunakan sebagai tempat tidur malam para pemuda serta anak-anak.
Rumah adat Bubungan Tinggi penuh dengan ukiran-ukiran khas Kalimantan Selatan dengan motif beragam bunga seperti melati, mawar teratai, dan kaca piring. Selain itu terdapat juga ukiran buah-buahan seperti nanas, manggis, belimbing, dan cengkeh. Dan untuk ukiran dedaunan seperti daun ciremai, gigi haruan pucuk rebung, memiliki arti khusus yaitu sebagai lambang kesuburan dan kedamaian. Di puncak atap rumah terdapat Jamang, yaitu hiasan berupa ukiran ekor burung enggang, sedangkan di Penampik bawah dan Lapangan Pamedangan diberi ukiran Naga. Ukiran burung enggang di atap rumah melambangkan dunia atas, sedangkan ukiran naga melambangkan dunia bawah. Seiring masuk dan berkembangnya Agama Islam, maka motif ukiran banyak dipadukan dengan ukiran huruf arab atau kaligrafi.
Suku Dayak adalah Suku Tertua Pulau Kalimantan dan tersebar di seluruh wilayah Kalimantan termasuk Provinsi Kalimantan Selatan. Ada 13 Suku Dayak yang berdiam di Kalimantan Selatan, yaitu :
1. Suku Dayak Abal
Suku Dayak Abal merupakan suku yang sebagian besar berdiam di Desa Halong Dalam, Provinsi Kalimantan Selatan.
2. Suku Dayak Bakumpai, berdiam di sebagian besar Provinsi Kalimantan Selatan yaitu di daerah sepanjang tepian aliran sungai Barito.
3. Suku Dayak Bawo, bermukim di beberapa kecamatan di Kabupaten Barito Selatan. Selain terdapat di Kalimantan Selatan, Suku Dayak Bawo juga dapat temukan di Kalimantan Timur atau tepatnya di Kabupaten Kutai.
4. Suku Dayak Lawangan, mendiami daerah pegunungan antara aliran Sungai Barito sampai ke sebelah barat daerah aliran Sungai Kapuas. Daerah itu termasuk dalam wilayah kabupaten Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Selatan, dan Tapin, di Provinsi Kalimantan Selatan.
5. Suku Dayak Beranggas, berdiam di wilayah Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan atau tepatnya di hilir sungai Barito. Sementara itu bahasa yang mereka gunakan ialah bahasa Alalak.
6. Suku Dayak Maanyan, atau disebut juga orang Maanyan, berdiam di wilayah Banua Lima, Patengkep Tutui, Awang Hayaping, dan Dusun Timur, dalam wilayah Kabupaten Barito Timur dan Kewedanaan Barito Selatan. Mereka hidup berdampingan dengan Masyarakat Banjar Di sebelah timur.
7. Suku Dayak Meratus, atau biasa disebut Suku Dayak Bukit, karena mereka berdiam di daerah perbukitan pegunungan Meratus.
8. Suku Dayak Dusun Peyah, mereka tersebar dibeberapa daerah di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan.
9. Suku Dayak Ngaju, yaitu Suku Dayak Kalimantan Selatan dengan mata pencaharian bercocok tanam di ladang. Tanaman pokok mereka adalah padi, ketela, ubi kayu, kedelai, sayur mayur dan buah-buahan. Selain bercocok tanam, pekerjaan mereka adalah berburu dan menangkap ikan di sungai yang masih dilakukan oleh sebagian warganya sampai sekarang.
Dalam hal bertani terdapat perbedaan sistim pertanian persawahan antara Masyarakat Banjar dengan Suku Dayak, yaitu sistim pertanian sawah pasang surut dilakukan oleh Masyarakat Banjar sedangkan pertanian sistim ladang dilakukan oleh Suku Dayak. Selain itu, peternakan juga berkembang di Kalimantan Selatan dengan hewan ternak khas seperti Kerbau dan itik Alabio. Dengan begitu, sektor perkebunan kurang menarik perhatian masyarakat Kalimantan Selatan. Untuk masyarakat yang berdiam di perkotaan, maka bidang perdagangan serta industri menjadi pilihan mata pencaharian favorit.
Anjungan Kalimantan Selatan TMII berusaha menggali sedalam mungkin sisi budaya dan keseharian masyarakat Kalimantan yang hidup dalam keharmonisan antara Suku Dayak dan Masyarakat Banjar. Pakaian tradisional masyarakat Banjar memiliki keunikannya sendiri, karena terdiri dari beberapa jenis yang semuanya memilikinama dan fungsinya masing-masing.
1. Baju Lampin, adalah pakaian sehari-hari seorang bayi.
2. Salawar, adalah pakaian sehari-hari seorang anak kecil.
3. Baju Getang, merupakan salah satu pakaian tradisional wanita dengan desain kebaya panjang dipadukan keindahan desain bagian leher baju berbentuk bundar.
4. Baju Taluk Belanga, adalah pakaian adat dewasa berbentuk kemeja lengan panjang dengan leher bulat serta sedikit kerah yang mencuat keatas.
5. Baju Pokok, adalah pakaian tradisional yang dikenakan para wanita bangsawan.
6. Baju Layang lengan pendek, dukenakan oleh anak-anak.
7. Baju layang lengan panjang, dikenakan para remaja.
8. Baju Nanang dan Galuh, juga dikenakan oleh anak remaja.
Kalimantan Selatan juga memiliki berbagai kesenian daerah berupa seni sastra dan seni suara nan indah dalam bentuk bahasa syair dan berbalas pantun. Bahasa yang dugunakan adalah bahasa Banjar yang kemudian berkembang menjadi seni berbalas pantun pergaulan masyarakat Banjar sehari-hari. Kerajinan tangan berupa kain sulam dan anyaman pandan maupun rotan turut menambah khasanah seni budaya Kalimantan selatan selain senjata tradisional khas suku Dayak seperti Mandau, Parang (golok di kalimantan), Serapang sebagai senjata tradisional berburu.
Provinsi yang terkenal dengan lagu daerah berjudul Ampar-ampar pisang dan Sapu tangan babuncu empat ini memiliki peralatan seni musik tradisional berupa Gamelan Banjar dimana bentuknya menyerupai gamelan tanah Jawa atau tepatnya Jawa tengah. Di sini juga berkembang yang dinamakan Musik Sarunai, yaitu musik pengiring kesenian olah kanuragan bernama Pencak Silat dimana gerakannya mirip sebuah tarian namun dipadukan dengan kekuatan fisik dalam menjatuhkan lawan. Akan tetapi, Seni Tari yang menjadi ciri khas Kalimantan Selatan semuanya didominasi oleh tarian dari Suku Dayak setempat, salah satunya adalah Tari Mandau Tabalang.
Untuk membuka akses ekonomi dan investasi di Kalimantan Barat terutama antara Ibukota Provinsi Banjarmasin dengan daerah-daerah lainnya maka Pemerintah Republik Indonesia kala itu memfasilitasi masyarakat Kalimantan Selatan dengan membangun sebuah jembatan gantung diatas Sungai Barito kebanggaan Masyarakat Kalimantan Selatan. Jembatan ini pertama kali diresmikan pada tanggal 24 April 1997 oleh Presiden HM Soeharto. Jembatan Gantung ini tercatat dalam rekor MURI sebagai jembatan gantung terpanjang di Indonesia. Jembatan Barito menghubungkan jalan trans Kalimantan yang merupakan jalan poros yang menghubungkan Kalimantan Selatan dengan Provinsi tetangga yaitu Provinsi Kalimantan Tengah.
Eksotisme Provinsi Kalimantan yang coba di ketengahkan di anjungan Kalimantan Selatan TMII adalah Pasar Terapung yang menggunakan Jukung (perahu). Ada dua lokasi Pasar Terapung di Kalimantan Selatan, yaitu Pasar Terapung Muara (Sungai) Kuin atau disebut juga Pasar Terapung Sungai Barito karena para pedagangnya berdagang menyisir sepanjang Sungai Barito sampai ke anak-anak sungainya, dan Pasar Terapung Lok Baintan yang terletak di Desa Lok Baintan Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar. Seiring perkembangan jaman, maka Pasar Terapung Sungai Barito mulai terkikis habis karena para pedagangnya banyak yang berpindah mengisi kios-kios pasar di daratan. Sedangkan Pasar Terapung Lok Baintan sampai hari ini masih terus menjalankan aktivitasnya berupa jual beli diatas sungai.
Para pedagang Pasar Terapung adalah para wanita dengan menggunakan tutup kepala khas Banjarmasin yang disebut Tanggui. Aksi jual beli di Pasar Terapung Lok Baintan terbilang unik karena berlangsung diatas sungai dengan masing-masing perahu milik penjual maupun pembelinya tidak ditambatkan, melainkan mengikuti arus sungai atau larut di sungai (balarut banyu). Baru setelah selesai jual belinya, perahu si penjual akan kembali ke kumpulan para pedagang lainnya. Pasar Terapung Lok Baintan sekarang ini merupakan Pasar Terapung terbesar di Kalimantan Selatan dengan suasana alam pedesaan asri bersahaja yang masih eksis keberadaannya mulai pukul 06.00 sampai dengan pukul 09.00 pagi.
Berbagai eksotisme dan kekayaan baik alam maupun seni budaya Kalimantan Selatan merupakan Pusaka Saujana Masyarakat Kalimantan Selatan itu sendiri. Provinsi yang juga dikenal dengan Kota Martapura sebagai penghasil sekaligus pengolah Batu Intan Permata ini memberikan warna tersendiri bagi Bangsa Indonesia. Provinsi ini juga merupakan potret akan wujud Toleransi keagamaan karena walaupun sebagian besar penduduknya memeluk Agama Islam, namun perkembangan Agama lainnya dapat berjalan sebagaimana mestinya, yaitu Agama Kristen Protestan, Katolik, Buddha, Hindu, Konghucu, bahkan agama-agama aliran kepercayaan lainnya juga turut di jaga kelangsungannya.
Indonesia harus bangga, dan Indonesia layak bangga, karena Kalimantan Selatan sebagai salah satu tanah warisan leluhur Bangsa ini bisa berdiri kokoh diatas kakinya sendiri dengan tidak melupakan azas serta sendi-sendi yang terkandung didalam Pancasila. Bagi masyarakat Kalimantan Selatan, Kemajemukan adalah sebuah persamaan, bukanlah sebuah perbedaan. (*Sumber kajian : Taman Mini Indonesia Indah dan berbagai sumber)