MINGGU, 24 JANUARI 2016
Jurnalis: Ebed De Rosary / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Ebed De Rosary
MAUMERE—Sejak menempati posko pengungsian Egon, Minggu (17/01/2016) 202 anak-anak usia 6 hingga 12 tahun otomatis harus membiasakan diri dengan suasana yang baru di dua posko pengungsian yakni di kantor camat Mapitara dan pasar Natakoli di Kecamatan Mapitara.
![]() |
| Agustinus (baju merah) bermain karet gelang bersama teman-temannya |
Ratusan anak-anak warga Desa Egon Gahar ini umumnya belum merasakan hidup di posko pengungsian. Erupsi gunung Egon yang berjarak sekitar 2,5 kilometer dari desanya yang terakhir berlangsung tahun 2008,umur mereka masih balita dan ada yang belum lahir.
Saat bersama mereka di posko pengungsian Sabtu (23/01/2016) siang hingga tengah malam, Cendana News menyaksikan keceriahan yang tetap terpancar di wajah mereka. Anak-anak tersebut bergerombol bermain karet gelang di beberapa pojok gedung kantor camat yang dipakai sebagai posko pengungsian.
“Kami senang berada di pengungsian Om,karena disini banyak teman. Kami juga bisa bermain bersama teman-teman dari kampung lainnya,” ujar Agustinus Nong Yanto,murid kelas 5 SDN Baokrenget saat diajak bicara oleh Cendana News.

Selain itu juga terlihat beberapa anak-anak bermain diatas mobil tanki air dan pick up milik BPBD dan dinas Sosial yang berjejer di halaman posko pengungsian. Mereka terlihat tertawa riang seraya melompat naik dan turun dari tangga samping mobil tanki air milik BPBD Sikka. Beberapa anak lainnya berlomba menaiki mobil pick up dan berdesakan diatas bak belakang mobil.
Germanus Bogin 9 tahun dan Aventus Woga 11 tahun terlihat malu-malu sata ditanyai kenapa bergantungan di badan mobil tanki. Keduanya mengaku senang karena belum pernah naik di mobil tanki air yang jarang sekali terlihat di kampung mereka.Saat ditanyai apa isi yang ada di dalam tanki tersebut keduanya sontak menjawab air.
“Kami belum pernah naik mobil tanki jadi pas lagi tinggal di sini kami bermain di mobil ini saja. Kami senang tinggal disini karena banyak teman apalagi kalau sekolah kami dintar pakai mobil jadi ramai sekali,” tutur Aventus,
![]() |
|
Anak-anak yang bermain diatas mobil tanki air dan pick up yang parkir di halaman posko pengungsian kantor camat Mapitara.
|
Menjelang malam,anak-anak dikumpulkan beberapa relawan dari Wahana Visi Indonesia (WVI) dan diajak bernyanyi dan bermain bersama di halaman kosong sebelah utara tenda pengungsian. Semuanya terlihat antusias menyanyi dan bertepuk tangan sambil sesekali tertawa lepas. Meski tidur berdesakan di tenda-tenda pengungsian,anak-anak ini tetap semangat bersekolah dan ceria bermain bersama teman-teman dari dusun lain yang jarang terjadi.
Meski asyik bermain meraka semua mengetahui alasan kenapa berada di pengungsian. Dikatakan Aventus,para guru dan orang tua mereka mengatakan gunung Egon mau meletus.Dirinya mengaku mencium bau belerang saat tinggal di rumahnya di Dusun Baokrenget. banyak teman sekolahnya di SDN Baokrenget takut masuk sekolah sehingga Aventus merasa lebih aman di posko dan mereka juga bisa bersekolah.
”Kami dibawa tinggal disini karena kata bapak gunungnya mau meletus jadi kami sementara tinggal di tenda dulu. Waktu itu juga ada gempa,kami juga takut” ungkap Germanus polos saat ditanyai.
Berbeda dengan anak laki-laki,anak perempuan lebih memilih berkumpul bersama berserita dan bermain tebak-tebakan. Ada yang beramain bersama sang adik sambil tidur-tiduran di dalam tenda pengungsian. Sementara itu,para remaja putri terlihat membantu relawan mencuci piring di dapur posko pengungsian kantor camat di bagian belakang.
