7 JANUARI 2016
Jurnalis: Rustam / Editor: Gani Khair / Sumber foto: Rustam
KENDARI—Menanggapi perihal eksekusi terhadap Yayasan Supersemar yang akan dilaksanakan pada tanggal 20 Januari 2016 mendatang, sebagaimana yang diberitakan oleh Cendana News pada hari Rabu (6/1/2016). Beberapa alumni penerima beasiswa Supersemar pun bersuara. Mereka tak hanya ada di Ibukota tetapi tersebar di seluruh penjuru negeri, salah satunya Kendari, Sulawesi Tenggara.
![]() |
| Ilyas SE |
Ilyas SE, putra daerah asal Kendari adalah salah satu penerima program beasiswa. Ia mendapatkan beasiswa pada tahun 1991-1995. Ia kini menjadi Tenaga Ahli (TA) di Direktorat PSDM Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Provinsi Sulawesi Tenggara.
“Beasiswa Supersemar adalah salah satu program terbaik di era Orde Bari. Banyak putra daerah yang sangat terbantu dengan adanya program beasiswa ini, salah satunya saya.” jelasnya.
Jika benar Yayasan Supersemar akan dieksekusi pada tanggal 20 Januari 2016 mendatang yang itu artinya akan banyak anak daerah kehilangan kesempatan mendapatkan dukungan finansial untuk menyelesaikan pendidikan.
“Yang saya tahu, salah satu tujuan dari Yayasan Supersemar adalah mencerdaskan anak bangsa dan mencetak generasi yang mandiri, itu tujuan yang mulia, jika itu (Yayasan Supersemar,red), akan banyak anak-anak yang kehilangan kesempatan mendapatkan pendidikan dan mandiri,” lanjutnya.
Ia menjelaskan, banyak anak daerah yang memiliki prestasi akademis tetapi secara fnansial tidak mampu untuk meniti pendidikan ke jenjang tertinggi, Yayasan Supersemar membantu mewujudkan mimpi anak daerah yang tak mampu untuk meraih mimpi menjadi manusia berpendidikan.
Selain memberikan beasiswa, yayasan juga menekankan bahwa jika anak-anak penerima beasiswa sudah sukses diharapkan bisa membantu masyarakat sekitarnya untuk memiliki pendidikan dan memperoleh kemandirian. Yang secara tidak langsung, menurut Ilyas, Pak Harto melalui yayasan tersebut mengajarkan tentang pentingnya rasa peduli dan gotong royong karena membangun manusia Indonesia yang berpendidikan guna mengisi pembangunan tidak mungkin dilakukan oleh satu pihak saja.
Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Haluoleo (UHO) ini, berharap Yayasan Supersemar tetap bisa menjalankan fungsinya. Yayasan Supersemar tidak dari dan untuk Orde Baru, beasiswa terus diberikan bahkan ketika reformasi sudah bergulir, itu artinya Pak Harto melalui yayasan tersebut bukan hanya ingin mencetak anak-anak cerdas dan mandiri untuk “kebutuhan” Orde Baru tetapi untuk kebutuhan bangsa.
Sekali lagi, jika benar yayasan dieksekusi, yang dirugikan adalah pelajar dan mahasiswa/i yang kehilangan kesempatan menyelesaikan sekolah/kuliah, bukan individu.
Menyinggung masalah para alumni penerima beasiswa, Ilyas mengatakan sudah kurang terjalin komunikasi, sungguh pun demikian ia sampaikan bahwa penerima beasiswa sudah banyak yang jadi orang sukses, pasti sedang sibuk membangun bangsa sesuai profesinya masing-masing.
Sebagai penutup, ia mengajak seluruh anak bangsa untuk mengembalikan jati diri bangsa, tidak terpecah belah dan mudah diadu domba oleh kepentingan-kepentintingan pihak tertentu. Ia mengingatkan bahwa dalam Penataran P4 diajarkan, agar Indonesia sebagai bangsa untuk selalu berpedoman teguh pada Pancasila dan terus mencetak generasi cerdas dan mandiri untuk mengisi pembangunan.