Meski Upah Minim, Buruh Panen Padi Tetap Bersyukur

Buruh Panen
YOGYAKARTA — Musim panen padi di berbagai daerah, tak hanya menggembirakan bagi para pemilik sawah. Namun juga bagi para buruh tani yang biasa bekerja musiman sebagai tenaga buruh panen atau buruh petik padi. Walau upah yang diterima tak seberapa, namun bagi para buruh tani pekerjaan tersebut sangat membantu perekomomian keluarga.
Gandung, warga desa Kepurun, Klaten, Jawa Tengah, sengaja datang jauh-jauh ke desa Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, untuk bekerja sebagai buruh panen padi atau yang dalam bahasa setempat disebut dherep. Gandung tidak sendiri. Banyak warga desa lain yang juga bekerja seperti dirinya demi mengais sedikit rezeki halal. 
“Upahnya memang tidak seberapa. Tapi sangat membantu kebutuhan sehari-hari, terutama kebutuhan makan karena sekarang ini beras cukup mahal bagi kami orang kecil,” ungkap Gandung, saat ditemui di sela kesibukannya memanen padi, Senin (09/11/2015).
Gandung mengatakan, bekerja sebagai buruh panen sudah dilakukannya sejak lama. Setiap tiba musim panen, dia berkeliling ke desa-desa untuk mencari sawah yang akan dipanen oleh pemiliknya. Jika sudah dapat, dia akan melamar sebagai buruh panen. 
“Setiap panen padi itu pemiliknya butuh tenaga kerja banyak supaya panennya bisa cepat selesai, agar lahannya juga bisa cepat diolah lagi”. katanya.
Dalam menjalankan pekerjaannya, Gandung tak pernah memasang tarif. Upah yang diterimanya tergantung keikhlasan pemilik lahan. Namun sudah berlaku aturan wajar, kata Gandung, dari setiap 10 karung padi yang dipetiknya dia memperoleh 1 karung padi basah. Jika sudah kering dan digiling, 1 karung padi basah itu menjadi sekitar 5 kilogram beras. Sementara dalam satu hari, Gandung bisa memanen sebanyak 20-an karung, bergantung jumlah buruh panen dan kualitas panennya. Sebab, kata Gandung, luas lahan bukan jaminan hasil panennya banyak. 
“Bahkan tidak jarang separuh lahan padinya gabuk atau tidak berisi akibat hama. Hasil panen juga bisa menyusut karena dimakan sekawanan burung”, ujarnya.
Gandung yang mengaku akan terus menjadi buruh panen selama tenaganya masih kuat, biasa memanen padi bersama beberapa buruh lainnya di lahan seluas 700-1000 meter persegi. Baginya, hasil sedikit pun tetap merupakan berkah bagi keluarganya yang setia menunggu di rumah. 
JURNALIS : KOKO TRIARKO

Jurnalis Cendana News wilayah DI.Yogyakarta. Bergabung dengan Cendana News bulan Agustus 2015. Sebelum bergabung di Cendana News, jurnalis, penulis dan fotografer di beberapa media cetak lokal.

Akun twitter @KOKOCND
Lihat juga...