Tercemar Merkuri, Air Danau Sentani Ancam Kesehatan Warga

Penduduk sekitar danau Sentani, Kabupaten Jayapura
JAYAPURA — Danau Sentani, Kabupaten Jayapura salah satu danau terbesar di Indonesia yang berada nomor dua setelah Danau Toba, Sumatera Utara, kini telah tercemar. Pasalnya, Merkuri atau Air Raksa (hg) dari para pendulang emas di Bumi Pekemahan (Buper) Waena, Kota Jayapura bermuara ke danau tersebut.
Selain itu juga, Cendana News melihat langsung sekitar danau sentani, banyak mengapung sampah rumah tangga dan industri rumah tangga, sampah ini terbawa dari kali-kali sekitaran perumnas, Waena, Kota Jayapura. Selain sampah yang bertumpuk disisi danau, diduga air di danau tersebut juga telah dicemari air raksa.
Dugaan tercemarnya air raksa ini, juga ditegaskan salah satu pemerhati lingkungan juga Fakultas Kejuruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, saat ditemui, Yehuda Hamokwarong, mengaku air Mercury atau raksa itu datang dari aktivitas penambang emas yang ada di Bumi Perkemahan (Buper) Waena.
Dimana, air raksa tersebut dipergunakan para penambang emas untuk mengukur kadar emas mereka. Air raksa yang mencemari danau sentani dapat mempengaruhi warna air bagi biota yang ada di Kali Jembatan Dua dan Danau Sentani.
“Dengan kondisi begini secara langsung ekosistem khususnya ikan-ikan yang hidup di Danau Sentani pun akan punah seperti ikan gabus, nila, pelangi, mujair dan jenis hewan amphibi yang lainnya,” kata Yehuda, Minggu (27/09/2015).
Menurutnya, dampak kesehatan bagi manusia mengonsumsi ikan yang telah terkontaminasi mercury itu, akan langsung ke pembuluh darah dan dapat menyebabkan penyakit kanker, stroke dan alzheimer (pikun).
“Jadi air ini bukan saja bermuara ke danau tapi juga ke tambak-tambak yang dialiri oleh air dari kali ini. Dan ikan-ikan yang hidup di air ini sudah pasti airnya terkandung mercury,” dijelaskannya.
Pemerintah setempat mengetahui adanya aktivitas penambangan yang dilakukan warga tersebut, sayangnya, pemerintah tidak melakukan tindakan pencegahan atau sosialisasi.
“Pemerintah harus melakukan penindakan dan membuat upaya pencegahan agar aktivitas seperti ini tak berlanjut.?Ada dua yang harusnya dilakukan pemerintah. Pertama adalah pencegahan dan kedua melakukan edukasi terhadap warga terkait dampak-dampak negatif dari aktivitas penambangan ini,” ujarnya.
Apabila pemerintah menghentikan aktivitas penambangan ini, lanjutnya, solusi utamanya adalah pemerintah wajib membuka lapangan pekerjaaan bagi warga yang selama ini telah menekuni pekerjaan sebagai penambang.
“Ketika ini dihentikan harus ada satu lapangan kerja yang baru untuk mereka. Dan menurut saya pekerjaan yang bagus untuk mereka jika melihat  potensi air ini sebagai objek wisata sangat tinggi, kan kali ini bisa ditata dengan baik sehingga menghasilkan pendapatan,” tuturnya.
Sedangkan untuk normalisasi kali Jembatan Dua ini, bukan waktu yang singkat, melainkan butuh waktu hingga 30 tahun lamanya. “Karena tidak gampang membuat air yang sudah terkontaminasi zat berbahaya itu untuk kembali normal seperti semula,” ujarnya.
Penambang di kawasan Buper Waena, bukanlah penambang liar, dikatakannya, penambang emas ini adalah penambang tradisional yang memiliki lahan tersebut, dan tak dimiliki pemerintah setempat. “Di Buper warga setempat sudah mulai menambang sejak tahun 1996,” bebernya.
Untuk mencari tau adanya aktifitas penambang emas tradisional, yang berada di wilayah Waena, dapat ke Buper di atas gunung tepatnya sepanjang kali, maka akan terlihat aktivitas pendulang emas diareal tersebut. Disana juga terdapat beberapa pondok-pondok kecil sebagai tempat berteduhnya para pendulang emas.
Untuk mencapai lokasi tersebut, harus berjalan kaki lebih dari 5 kilometer, yang memakan waktu lebih dari setegah jam perjalanan. Salah satu pendulang emas, Ricard mengaku dirinya menerima upah dengan sistem pembagian keuntungan ?sebesar 50 persen dari kerja kerasnya menggali bongkahan batu dan dihancurkan untuk mencari emas.
“Emas di Gunung Buper sangat bagus. Saya sudah cari emas disini mulai dari tahun 2007 sampai sekarang,” kata Ricard.
Danau Sentani, begitu eloknya keindahan danau tersebut, dulunya danau itu adalah sumber kehidupan manusia sekitar. Tak hanya indah, makhluk hidup yang ada didalamnya pun begitu beragam dan dijadikan tempat mencari makan para nelayan sekitar.
Kini, danau itu meninggalkan kenangan indah. Kedalaman yang kini diperkirakan kurang lebih 30 meter, dan airnya yang tak dapat lagi dikonsumsi. Semoga dua pemerintah yakni Kabupaten Jayapur dan Kota Jayapura yang mempunyai wilayah administrasi di Danau Sentani tersebut dapat menyusun serta meminimalisir tingkat pencemaran air danau, yang menjadi penghidupan buat masyarakat setempat.
Aktifitas nelayan di Kampung Yoka, Kota Jayapura yang berada dalam area Danau Sentani Kabupaten Jayapura

MINGGU, 27 September 2015
Jurnalis       : Indrayadi T Hatta
Foto            : Indrayadi T Hatta
Editor         : ME. Bijo Dirajo
Lihat juga...